Selalu Mengejar Pujian? Sadarlah Pujian Dunia Adalah Sangkar Pemenjara Jiwa!

buku-yoga-sutra-patanjali-mengejar-pujian

Ada tiga hal yang berbisa, yang juga bisa menjadi landasan bagi kebijakan. Kita harus melakukan perenungan sedikit. Apa maksud Atisha ? perhatikan pikiran anda; perhatikan pola kerja mind anda. Mind yang selama ini terasa begitu liar, sesungguhnya memiliki pola kerja yang sangat sederhana. Ibarat perseneling mobil. Mind hanya memiliki tiga gigi. Tidak lebih dari itu. Suka, tidak suka dan cuwek, itulah gigi-gigi mind. Tidak ada gigi keempat, kelima dan seterusnya. Hanya tiga gigi. Selama ini yang dilakukan oleh mind hanyalah tiga pekerjaan itu; Yang ia sukai, ia kejar, yang tidak disukai, ia tinggalkan, dan antara mengejar dan meninggalkan, kadang-kadang ia juga bisa bersikap cuwek terhadap sesuatu.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mari kita merenung……. Apakah kita penuh dengan nafsu keinginan agar dipuji, agar menjadi tenar?

Bhagavad Gita 14:7 menyampaikan bahwa mereka yang bersifat rajas penuh nafsu keinginan. Dan, nafsu keinginan tersebut malah membelenggu jiwa:

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kunti), ketahuilah bahwa sifat Rajas, agresif dan penuh nafsu, muncul dari keinginan serta keterikatan. Ia membelenggu Jiwa dengan mengikatnya pada perbuatan dan hasil perbuatan.” Bhagavad Gita 14:7

 

Hukum Karma bekerja rapi ketika seseorang memiliki sifat rajas. Roda Karma berputar lancar dan mengikat Jiwa dengan badan serta alam benda lewat setiap tindakan serta hasilnya.

 

PERBUATAN TERCELA BERAKIBATKAN KESENGSARAAN; sifat terpuji menghasilkan kepuasan dan kebahagiaan – inilah Hukum Karma. Seseorang bersifat rajas selalu mengejar pujian. Ia tidak sadar bila pujian dunia juga merupakan sangkar yang memenjarakan Jiwa.

Keterikatan kita dengan dunia benda memenjarakan kita dalam sangkar ini. Padahal Jiwa bebas adanya. Ia tidak perlu “menyangkarkan” diri dalam dunia benda ini. Sayang, karena keterikataannya dengan kebendaan ilusif, ia memenjarakan dirinya dalam sangkar dunia benda ciptaannya sendiri.

 

APA YANG SESUNGGUHNYA ADALAH MEDAN LAGA diubahnya menjadi sangkar. Ia membuat sangkar ini dengan bahan-bahan campuran, seperti keakuan, kepemilikan, harta-kekayaan, ketenaran, kedudukan, hubungan keluarga, dan sebagainya.

Ada pula yang menciptakan sangkar kemiskinan dan kemelaratan – karena terikat dengannya. Sungguh aneh, tapi demikianlah kenyataannya. Banyak di antara kita merasa dirinya tetap miskin, walau sudah memiliki banyak. Keserakahan mereka membuat mereka tidak pernah puas.

 

MEMANG BANYAK “KEJADIAN” DI ALAM BENDA INI – ada kemiskinan dan ada kekayaan; ada pujian, dan ada cacian; ada duka, dan ada suka – semuanya adalah bagian dari Prakrti atau Alam Benda.

Jiwa yang berbadan dan memiliki pancaindra, sudah pasti melewati dan mengalami kejadian-kejadian dan keadaan-keadaan tersebut.

Tidak ada cara untuk menghindarinya.

Namun, Jiwa pun bisa memutuskan untuk tidak menciptakan sangkar bagi dirinya. tidak terperangkap dalam pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian tersebut. Jiwa dapat……

 

MELEWATI SETIAP PENGALAMAAN SEBAGAI SAKSI – Berarti, dalam keadaan suka tidak menjadi angkuh, dan dalam keadaan duka, tidak berkecil hati. Semuanya hanyalah keadaan-keadaan sesaat yang mesti dilewati.

Kesalahan kita selama ini adalah kita menciptakan sangkar suka, sangkar keberhasilan, sangkar ketenaran, dan sebagainya. Kemudian kita menempatkan diri kita – Jiwa yang sesungguhnya bebas – di dalam sangkar tersebut.

Kita tidak sadar bila sangkar “serba suka” tersebut tidak bisa dibuat tanpa jeruji-jeruji menyilang dan kebalikan “serba suka”. Jeruji-jeruji ini adalah jeruji-jeruji “serba duka” yang membatasi gerak-gerik Jiwa. Bahkan merampas kebebasannya.

Setiap membuat sangkar suka, kita mengundang pengalaman duka. Tiada sangkar keterikatan yang tidak menghasilkan pengalaman kecewa, sakit-hati, dan sebagainya.

Janganlah menciptakan sangkar.

Pengalaman-pengalaman dan kejadian-kejadian di dunia ini bukanlah untuk dijadikan bahan baku untuk membuat sangkar dan memenjarakan diri. cukuplah bila kita melewatinya saja.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

banner-utk-di-web

oec4elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s