Puasa Rutin Mengurangi Keterikatan Terhadap Dunia?

buku-soul-awareness-puasa-mikir-makan

“Di media sosial FB, kita sering melihat status yang menunjukkan bahwa seseorang yang seakan-akan sudah bisa melepaskan diri dari keterikatan. Tidak terpengaruh dunia! Imaginasi boleh-boleh saja demikian. Tetapi coba dia puasa beberapa hari tanpa makan hanya dengan minum air putih saja. Apakah dia masih bisa berpikir sudah tidak terpengaruh dunia? Apakah setelah puasa beberapa hari tersebut setiap saat yang dipikir hanya makanan saja?

Setiap pemahaman harus dipraktekkan sehari-hari dengan tubuh dan mental/emosional kita. Bukan hanya di olah pikir saja, bukan masturbasi saja.Bila kita paham tentang kebebasan dari pengaruh dunia, maka setiap hari harus kita praktekkan dengan tubuh kita bahwa setiap tindakan kita sudah lepas dari keterikatan, sudah tidak terpengaruh dunia.

Berikut ini penjelasan di buku Soul Awareness bahwa puasa rutin dapat mengurangi pengaruh luar terhadap diri kita:

buku-soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

PENGARUH LUAR

Sahabat: Sepertinya Pak, pengaruh dari luar ini yang menjadi masalah utama saya. Saya merasa sudah cukup bermeditasi, namun masih terus melakoni. Merasa sudah cukup berkesadaran, eling segala, namun tetap saja terpengaruh oleh keadaan dan orang di luar.

AK: Itu memang menjadi salah satu persoalan utama, sebab itu Bhagawad Gita pun berbicara banyak soal pengaruh cuaca, keadaan, pergaulan, dan sebagainya.

Kita semua bisa dibagi dalam lima kelompok utama. Kelompok Pertarna, tidak terpengaruh sama sekali. Mereka adalah yang jam terbangnya sudah cukup tinggi.

Kelompok Kedua, sedikit terpengaruh, tetapi tidak cukup terstimulasi untuk bertindak sesuai dengan apa yang didengarnya. Bahkan kendati dilihatnya,ia masih akan menggunakan viveka-nya untuk menimbang.

Nah, dua kelompok pertama ini menunjukkan bahwa viveka mereka, sense of discrimination mereka, inteligensi mereka sudah cukup berkembang. Kendati demikian, jangan pikir mereka sudah berada dalam wilayah aman, sudah tidak akan pernah terpengaruh lagi. Setiap orang mesti senantiasa waspada. Seperti dalam permainan ular tangga, sudah berada di kotak nomor 98 atau 99 pun masih bisa dipatok ular dan jatuh ke kotak paling bawah.

Kelompok Ketiga adalah mereka yang tidak hanya terpengaruh, tetapi wajah mereka pun menunjukkan tanda-tanda pengaruh itu. Sangat senang mendengarkan sesuatu yang memang menyenangkan. Sangat sedih mendengarkan sesuatu yang memang menyedihkan. Sangat gusar mendengarkan sesuatu yang memang menggusarkan.

Kelompok Ketiga belum menunjukkan progress apa pun. Mereka belum meditatif. Setidaknya, viveka mereka belum berkembang. Mereka masih harus berlatih dengan tekun.

Tips penting bagi mereka yang termasuk dalam kelompok ini—dan kelompok-kelompok selanjutnya—adalah melakoni puasa. Entah Senin-Kamis seperti leluhur kita, atau dengan cara lain sesuai kepercayaan kita.

Puasa yang dimaksud—dan yang akan membantu kita dalam bermeditasi—adalah puasa yang dilakukan secara teratur, minimal satu kali setiap minggu. Jadi, bukan sesekali saja.

Keberhasilan dalam berpuasa secara regular akan meningkatkan kepercayaan diri kita sehingga kita tidak mudah terpengaruh oleh apa kata orang, apa yang terjadi di luar, dan sebagainya. Tentu, ada sederet manfaat lain dari puasa, dari lapisan fisik hingga lapisan gugusan pikiran clan perasaan.

Kadang kita rnelakoni laku puasa hanya sekali atau dua kali setiap tahun. Oke,jika kepercayaan kita mewajibkan hal itu, silakan. Itu pun baik. Namun, melakukan puasa setahun sekali atau dua kali saja tidak membantu meditasi kita, dalam hal hidup berkesadaran.

Kita sering melakoni puasa, yang dalam bahasa leluhur kita disebut Ngrowot—hanya makan umbi-umbian atau apa saja yang tumbuh di bawah tanah. Ada yang menambah buah-buahan dan susu, ada pula yang tidak. Yang jelas, selama satu hari, beberapa hari, atau beberapa minggu sesuai dengan kemampuan fisik— kita menghindari sayuran, lauk, nasi, roti, dan sebagainya. Jadi, makanan kita sangat terbatas.

Sebagian di antara kita mengikuti tradisi tersebut hanya supaya dapat membanggakan diri: “Saya sudah sampai hari terakhir… ini sudah tahun kesekian tanpa putus. “Tidak perlu show-off, tidak perlu pamer, tidak perlu membanggakan diri. Sebab, tidak ada yang terbantu oleh laku kita itu, kecuali diri kita sendiri.

Sementara itu, selama berpuasa wajah kita Ioyo, sakit di sini, sakit di sana, pekarjaan rutin pun telantar.Fisik kita, mental kita, emosi kita,lebih cepat tersinggung dan tersungging. Semua menunjukkan bahwa kita sedang berpuasa. Kasihan, deh! Ya, secara tidak langsung kita ingin dikasihani, ingin dipahami, dihormati: “Kalau pekerjaan tidak selesai, ya bisa dipahami karena ia lagi puasa. Lagi makan umbi-umbian saja. Dari mana dapat tenaga?”

Kalau orang lain sudah mulai mengasihani kita karena wajah kita, tindakan kita, emosi kita—semua menunjukkan bahwa kita sedang berpuasa—puasa kita pun batal.

Tidak perlu berpuasa, kalau puasa membuat kita loyo. Saat berpacaran saja kita bisa menghabiskan waktu berjam-jam saling memandang. Masa puasa membuat kita loyo?

Kembali pada pengelompokan yang sedang kita bahas.

Kelompok Keempat adalah mereka yang tidak hanya terpengaruh, bukan lagi wajah saja yang menunjukkan pengaruh itu, tetapi tangannya, kakinya, ucapan, serta segala perbuatannya juga.

Mereka reaktif. Tanpa berpikir, mereka mengonfrontasi orang yang disebut-sebut menjelekkan dirinya. Padahal, barangkali, ia baru mendengarnya dari orang lain, dari pihak ketiga.

Lebih parah lagi adalah mereka yang termasuk Kelompok Kelima: Sudah reaktif, mereka malah melakukan hal yang sama. Mulai menjelek-jelekkan yang bersangkutan tanpa rekonfirmasi.

Mereka yang melakukan konfrontasi, masih punya harapan. Orang yang dikonfrontasi masih diberinya kesempatan untuk menjelaskan duduk perkaranya. Apakah tuduhan yang dilontarkan padanya benar, ada benarnya, atau sama sekali tidak benar.

Kelompok Kelima merasa tidak perlu memberikan kesempatan itu kepada yang sudah dianggap dan dicapnya sebagai “lawan”. Itu yang terjadi dalam banyak kasus, yang menunjukkan betapa tidak meditatifnya kita secara kolektif.

(Bahkan dalam banyak kams yang dibawa ke pengadilan, sekelompok orang yang “merasa” sudah cukup meditatif padahal belum, terpengaruh oleh “kata orang”, pengakuan orang, testimoni orang—padahal tidak menyaksikan sesuatu. Dalam banyak kasus, seseorang bisa dibukum atas dasar “kata orang”, bahkan tanpa jumlah saksi yang diwajibkan oleh undang-undang.)

Kembali pada solusi: makan, minum, tidur, bergaul dengan orang lain, semua mesti secara moderat. Dalam hal makanan, biasakan untuk berpuasa satu sampai dua kali seminggu secara konsisten, bukan sekali atau dua kali setahun saja. Juga tentu laku meditasi secara intensif dan repetitif, yang berarti laku meditasi mesti menjadi bagian dari hidup kita sebagaimana makan, minum, dan tidur.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2005). Fengshui Awareness Rahasia Ilmu Kuno bagi  Manusia Modern. One Earth Media)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s