Kendaraan Tubuh dan Bensin Makanan: Pola Makanan dapat Mempercepat Perjalanan Jiwa?

buku-soul-awareness-bahan-bakar-kendaraan-plus-teks

Kendaraan Tubuh, Bensin Makanan dan Perjalanan Kehidupan

 

Ketika kalian berencana melakukan perjalanan panjang dengan mobil kalian – bukankah kalian mengecek kondisi mobil? Bukankah kalian membawanya ke bengkel jika diperlukan? Bukankah kalian mengisi bensin terlebih dahulu? Tubuh adalah kendaraan kalian. Kehidupan adalah perjalanan yang kalian jalani. Kesadaran akan jati diri adalah tujuan kalian. Jadi, sebelum kalian memulai perjalanan ini, adalah sangat penting bagi kalian untuk mengecek terlebih dahulu mobil-badan ini. Petualangan spiritual kalian dimulai dengan memastikan kendaraan-badan berada dalam kondisi prima. Perkembangan jiwa kalian tergantung dari sebagaimana baiknya kendaraan-badan kalian.

 

Jadi, seseorang yang menjadi vegetarian, walau murni untuk alasan “kesehatan” – sesungguhnya sudah bertindak tepat. Ia telah mempersiapkan kendaraan-badannya untuk melakukan perjalanan batin, dia mungkin belum menyadarinya saat ini – tetapi cepat atau lambat, ia akan menyadarinya! Tiga chakra dasar semuanya terkait dengan asupan makanan. Saat kau mengurusinya dengan benar – perjalanan ke dalam diri menjadi lebih mudah. Seorang pemakan-daging sesungguhnya sangat jauh dari pemahaman tentang cinta – orang semacam ini bahkan tidak akan tahu apa arti kasih.” Nasehat Bapak Anand Krishna tentang Perjalanan Spiritual…….

 

 

 

Mengubah Pola Makanan dapat Mengubah Sifat Kita

 

“Pilihan makanan kita tergantung pada sifat kita masing-masing. Bahkan cara kita melakoni kepercayaan dan spiritualitas pun beda — sesuai dengan sifat kita. Pun demikian dengan kegiatan-kegiatan amal saleh, berderma, atau berdana-punia. Walau tindakannya sama, atau mirip; niat di baliknya bisa beda total, sehingga hasil, akibat, atau konsekuensinya pun beda.”

“Makanan yang menunjang kehidupan, kemuliaan, kekuatan, kesehatan, kebahagiaan, dan kepuasan adalah yang mengandung banyak jus atau cairan dan berlemak lembut (baik), mudah mengenyangkan (mengandung banyak serat), lezat, enak rasanya, dan tidak membebani pencernaan, sangat disukui mereka yang bersifat Sattvika.” Bhagavad Gita 17:8

“Kecenderungan para Sattvika ini dapat ditiru. Dengan mengubah pola makan dan meniru mereka, kita pun dapat mengubah sifat kita. Makanan adalah bahan baku bagi energi yang kita butuhkan untuk menjalani hidup. Makanan para Sattvika ibarat bensin, bahan bakar tanpa timbal — bensin murni.” Penjelasan Bhagavad Gita 17:8

 

Berikut ini Tanya Jawab masalah Diet dan Ciri-Ciri Orang yang Viveka (kemampuan memilah dengan tepat) sudah berkembang dalam buku Soul Awareness………..

 

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sahabat: Pak, selain Laku Meditasi, apa ada tips jitu supaya viveka kita berkembang pesat? Supaya kita bisa menentukan sendiri langkah mana yang tepat, dan mana yang tidak tepat?

 

AK: Hahaha, mau cari jalan tikus, ya?

Tidak ada cara instan, semua butuh proses, upaya sungguh-sungguh, intensitas, ketekunan, repetisi, pengulangan. Kita perlu berlatih terus-menerus.

Malah ada keharusan, yang hingga saat ini pun belum dijalani banyak teman. Padahal, ini adalah sesuatu yang bersifat sangat penting, sangat esensial.

Yakni, soal diet.

Urusannya bukan sekadar makan daging atau tidak. Makan daging, daging apa saja, termasuk daging ikan, daging udang, daging belut, daging kecoa, dan serangga lainnya—jika Anda mengonsumsinya—adalah kendala utama dalam mengasah viveka.

Lha, bagaimana mau mengasah?

Menyembelih hewan demi kenikmatan diri itu sendiri sudah merupakan tindakan biadab yang tidak hanya tidak sehat, tetapi menunjukkan betapa tidak sensitifnya kita terhadap bentuk-bentuk lain kehidupan.

Dalam sejarah umat manusia, saya belum menemukan satu pun “orang”pemakan daging sesama makhluk hidup, yang berhasil meraih kesadaran jiwa “sepenuhnya”. Kalau setengah-setengah, ya ada saja. Padahal, sesungguhnya kesadaran tidak bisa diparuh dan diparut seperti itu. Sadar ya sadar, tidak ya tidak. Tetapi ya sudah, kalau saya lanjutkan, banyak orang yang kelak membaca dialog kita ini akan merah kupingnya. Kalau teman-teman di ashram,barangkali tidak merah, dadu pekat saja. Hahaha.

Melanjutkan soal diet, jadi bukan sekadar tidak makan daging, tetapi juga menghindari ekstremitas dalam segala hal. Makanan yang terlalu lama dimasak; terlalu lama digoreng; terlalu pedas, asin, manis, pekat; terlalu hambar, mentah tanpa diseduh pula, walau berupa sayur-mayur, semua mesti dihindari. Termasuk hasil olahan industri dengan bahan pengawet yang kadang dikamufiase sebagai pengharum, dan sebagainya. Kata kunci bagi pengembangan viveka adalah moderasi.

Kita juga mesti memperhatikan porsi makan kita. Tidak terlampau sedikit, tidak pula banyak. Bahkan Guru selalu mengingatkan kita, “Berhenti makan ketika perut sudah 2/3 kenyang. Itu maksimal. Sehingga masih ada ruang untuk mengolahnya.”

 

Sahabat: Pak, apa ada ciri-ciri orang yang sudah berkembang viveka-nya.? Maksud saya, ciri-ciri yang gampang dideteksi dari luar.

AK: Ketepatan dalam hal bertindak.

Siapa yang dapat menentukan tindakan mana yang tepat bagi saya, dan mana yang tidak? Tentu diri saya sendiri.

Namun ya, ada satu hal yang bisa dilihat dari luar, bisa terdeteksi. Yaitu, apakah perbuatan saya hanya membahagiakan diri saya? Atau ikut membahagiakan orang lain juga? Setidaknya, mereka yang berada di sekitar saya?

Sebagai pelaku, tentu saya pun mesti sadar kalau saya tidak bisa membuat setiap orang senang. Ada saja Godse yang tidak senang sama Gandhi lalu menembaknya; ada saja Judas yang mengantar Jesus ke salib. Apa boleh buat. Orang-orang seperti Godse,Judas, dan sebagainya ada di mana-mana.Tidak senang, ya tidak senang. Untuk apa membunuh orang? Apakah Gandhi dan Jesus sedemikian berbahayanya sehingga mesti dihabisi? Tetapi itu urusan lain. Kita tidak akan membahas hal itu.

Kita perhatikan Gandhi dan Jesus, Martin Luther King, Jr. dan, bahkan, John Lennon dari kelompok Beatles, mereka semua adalah pelaku meditasi. Mereka tidak berhasil membuat setiap orang senang, tetapi cukup berhasil membahagiakan banyak orang. Mereka tidak pernah memikirkan kepentingan diri saja.

Itulah ciri khas seorang meditator, seseorang yang telah meraih kesadaran diri, kesadaran rohani, kesadaran jiwa—yang amat sangat mudah terdeteksi.

Ciri lain yang mudah terdeteksi adalah bahwa seorang meditator tidak mudah terpengaruh oleh keadaan-keadaan di luar, dan tidak mudah pula terpengaruh oleh perkataan orang lain.

Misalnya: Anda memberitahu saya bahwa si Anu mangatakan sesuatu tentang saya, dan saya langung memercayai Anda. Kemudian, sikap saya terhadap si Anu berubah. Itu bukanlah ciri seorang meditator, seseorang yang sudah berkesadaran jiwa.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s