Daging Membuat Kita Terobsesi Makanan dan Terikat Pada Materi, Dunia Benda

buku-bhagavad-gita

Pilihan makanan menunjukan sifat dasar kita, Orang yang tenang, agresif, malas beda kesukaan

Memaksa diri untuk mengendalikan nafsu bukanlah solusi. Nafsu adalah sifat kebendaan,  sebagaimana benda-benda duniawi yang dapat memicunya. Badan kita pun adalah benda — materi. Sebab itu, nafsu mesti dipahami, disadari, diberi makan secukupnya. Persis seperti mengisi tanki mobil secukupnya. Jangan diisi terus hingga meluber. Jangan pula tangki mobil dibiarkan kosong. Jika kita melakukan hal itu, maka mobil atau kendaraaan badan tidak bisa digunakan lagi. Tempuhlah jalan tengah, tidak ekstrem kanan, tidak pula ekstrem kiri.

Dalam penjelasan Bhagavad Gita 17:6 tersebut mereka yang bersifat tamasika, malas suka puasa ekstrem dengan memaksa diri. Mereka yang bersifat rajasika, agresif makan melebihi takaran. Sedangkan mereka yang bersifat sattvika, tenang mengisi perut dengan cara jalan tengah. Bagaimana pula dengan sifat makanan yang ekstrem pedas, asin, manis dan sebagainya? Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 17:7-8 berikut:

 

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Makanan yang disukai pun berdasarkan sifat masing-masing ketiga kelompok manusia tersebut. Demikian dengan persembahan, tapa brata dan berderma (semuanya dapat dibagi dalam tiga kelompok). Dengarlah sekarang, perbedaan di antaranya.” Bhagavad Gita 17:7

 

Jangan heran bila seseorang suka sekali dengan rasa pedas, ekstrem asin, ekstrem manis, atau daging; sementara orang lain tidak menyukai semua itu.

 

PILIHAN MAKANAN KITA tergantung pada sifat kita masing-masing. Bahkan cara kita melakoni kepercayaan dan spiritualitas pun beda — sesuai dengan sifat kita. Pun demikian dengan kegiatan-kegiatan amal saleh, berderma, atau berdana-punia. Walau tindakannya sama, atau mirip; niat di baliknya bisa beda total, sehingga hasil, akibat, atau konsekuensinya pun beda.

 

“Makanan yang menunjang kehidupan, kemuliaan, kekuatan, kesehatan, kebahagiaan, dan kepuasan adalah yang mengandung banyak jus atau cairan dan berlemak lembut (baik), mudah mengenyangkan (mengandung banyak serat), lezat, enak rasanya, dan tidak membebani pencernaan, sangat disukui mereka yang bersifat Sattvika.” Bhagavad Gita 17:8

 

Kecenderungan para Sattvika ini dapat ditiru. Dengan mengubah pola makan dan meniru mereka, kita pun dapat mengubah sifat kita. Makanan adalah bahan baku bagi energi yang kita butuhkan untuk menjalani hidup. Makanan para Sattvika ibarat bensin, bahan bakar tanpa timbal — bensin murni.

 

MAKANAN YANG JUICY, BERSERAT – dan walaupun mengandung lemak atau minyak, bersifat lembut, dalam pengertian mengandung minyak esensial, lemak baik bagi kesehatan. Misalnya mentega murni yang dibuat 100% dari susu murni, bukan dari lemak hewan; minyak zaitun, dan sebagainya. Kendati demikian moderasi adalah kata kunci bagi diet Sattvika. Tidak berarti kita mengonsumsi mentega 4x sehari. Secukupnya saja, sesuai dengan kebutuhan tubuh.

Makanan berserat, dalam hal ini, adalah sayur-mayur.

Jelas bukan daging. Konsumsi daging adalah pilihan kelompok lain, bukan pilihan kelompok Sattvika, karena menyangkut “pembunuhan” sesama makhluk demi kepuasan pencecapan.

Mudah mengenyangkan, tidak membuat kita kembung, menyegarkan, menyehatkan, dan menunjang kemuliaan, dalam hal ini, dapat diartikan sebagai penunjang inteligensia, kejernihan pikiran, dan sebagainya.

 

DAGING MEMBUAT KITA TEROBSESI dengan makanan, seolah kita hidup untuk makan, bukan sebaliknya. Daging juga membuat kita terikat pada dunia benda. Kita melihat dunia ini sebagai satu-satunya kenyataan. Padahal barangkali dunia benda lebih tepat disebut virtual reality, kenyataan virtual — bukan kebenaran.

Kejadian-kejadian di dunia ini, dan di dalam hidup kita ibarat permainan, game multi media. Teknologi modern membuat para pemain dalam game se-riil pemain asli. They look so real, yes real, tapi sebatas virtually real!

Makanan yang menunjang inteligensia membuat kita sadar akan hal ini. Kita bisa memilah, mana kebenaran, mana kepalsuan. Sebaliknya, jenis makanan yang tidak menunjang inteligensia, membuat kita buta terhadap kebenaran hakiki. Kita menganggap kenyataan virtual sebagai kebenaran hakiki.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s