Memahami Rahasia Alam Benda dan Gugusan Jiwa Membuat Diri Terbebaskan Dari Karma?

buku-bhagavad-gita-cahaya-dan-sinar-matahari-teks-panjang

Ketika Jiwa Agung atau Paramatma berkehendak untuk “Mengalami diri-Nya” – maka, “terjadilah Purusa atau Gugusan Jiwa untuk “mengalami”; dan Prakrti atau Alam Benda untuk “dialami”. Berarti sesungguhnya, Purusa dan Prakrti, dua-duanya ada atas kehendak Sang Jiwa Agung, Paramatma.

Purusa atau Gugusan Jiwa adalah wujud Paramatma atau Jiwa Agung yang Aktif – Ialah Ksetrajna. Sang Jiwa yang Mengetahui dan Menguasai Medan Alam, Medan Kesadaran, Ksetra, Prakrti, atau Alam Benda.

Untuk mempermudah lagi; sebagai Gugusan Jiwa atau Purusa. Ia (Paramatma, Sang Jiwa Agung) berpasangan dengan Alam Benda atau Prakrti. Sebagai Jiwa Individu, Jivatma, atau Ksetrajna, Ia berpasangan dengan Ksetra, yang merupakan badan, indra, pikiran, perasaan, intelek, dan lain-lain yang “kita” miliki. Kutipan dari Bhagavad Gita 13:26

Dianalogikan, misalnya Matahari sebagai Paramatma, Sang Jiwa Agung; Purusa, Gugusan Jiwa sebagai cahaya matahari dan Jivatma, Jiwa Individu sebagai sinarnya.

Pemahaman itu penting dan perlu dilakoni dalam tindakan sehari-hari agar kita tidak lahir kembali seperti penjelasan Bhagavad Gita 13:23 berikut:

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Bhagavad Gita 13:23

“Ia yang memahami Purusa, Gugusan Jiwa, dan Prakrti, Alam Kebendaan bersama sifat-sifatnya, tidak akan lahir kembali, walau saat ini ia masih terlihat dalam penyelesaian tugasnya.” Bhagavad Gita 13:23

 

Setiap karma, setiap perbuatan adalah sebab, dan memiliki konsekuensi, berakibat. Hukum sebab-akibat inilah yang menyebabkan kelahiran dan kematian berulang-ulang.

Namun, tidaklah demikian dengan seorang yang memahami,

RAHASIA ALAM BENDA DAN GUGUSAN JIWA – Prakrti dan Purusa. Ia terbebaskan dari segala konsekuensi perbuatannya. Kenapa demikian? Karena ia telah mengidentifikasikan dirinya dengan Sang Jiwa Agung — Sang Aku Sejati. Perbuatan adalah urusan badan, urusan pancaindra, gugusan pikiran dan perasaan (mind), sehingga bagaimanapun juga badan mesti rnenanggung konsekuensi atau akibat dari segala perbuatannya. Tapi, Jiwa yang sudah menyadari jati dirinya sebagai Jiwa Agung, tidak lagi terpengaruh oleh semua itu.

Seperti ketika bohlam lampu rusak, listrik tidak terpengaruh — tidak ikut menjadi rusak. Bahkan, ketika pembangkit listrik mengalami gangguan — listrik tetap tidak terganggu. Hanya alirannya ke rumah kita terhenti. Hal itu sesungguhnya tidak berpengaruh terhadap listrik yang adalah energi murni.

KETIKA BOHLAM MATI, dan tidak diganti dengan bohlam baru, maka listrik yang tadinya mengalir dan menyalakan bohlam – menyatu kembali dengan sumbernya.

Demikian pula ketika seseorang terbebaskan dari kelahiran kembali — maka, yang terjadi ialah, Jiwa menyatu kembali dengan Sang Jiwa Agung, Sang Aku Sejati, dengan Paramatma…

Dalam hal ini, perlu kita pahami, bahwa setiap ada Jiwa Individu atau Jivatma, yang menyadari kemanunggalannya dengan Paramatma atau Jiwa Agung, Purusa atau Gugusan Jiwa-Jiwa yang belum menyadari hal tersebut, ikut mengalami sedikit pencerahan. Jiwa-Jiwa yang tersisa dalam Gugusan Purusa ikut tercerahkan sedikit.

Jivatma atau Jiwa Individu mesti lepas dari Gugusan Jiwa atau Purusa, dan menyatu dengan Paramatma atau Jiwa Agung. Cara untuk itu adalah ..

PENGALIHAN KESADARAN: Awalnya, identifikasi diri dengan badan, indra, ego, pikiran, perasaan pribadi di-‘tukar’ dengan identitas diri sebagai Jiwa Individu. Kemudian, mesti ditingkatkan lagi, dan dialihkan kepada Sang Jiwa Agung, Sang Aku Sejati, Paramatma.

Janganlah mengidentifikasikan diri dengan bohlam. Ketahuilah bila kita adalah Listrik yang membuat bohlam itu menyala. Ketika bohlam mati, tidak perlu beraduh-aduh. Bohlam memang memiliki eksistensi sesaat. Tidak perlu disesali. Itulah sifat bohlam. Sekali lagi, kita bukan bohlam. Kita adalah percikan Sang Jiwa Agung, Sang Aku Sejati, Paramatma!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s