Panduan Bagaimana Melakoni Hidup! Bukan Paham Uraian Apa itu Hidup?

buku-bhagavad-gita-bagaimana-melakoni-hidup

Sekian banyak orang yang datang dan bertanya. Apa itu meditasi? Sang Guru membisu, ia tidak mau jawab. Seorang murid bertanya. Kenapa Guru, kenapa kau membisu? Apa salahnya menjelaskan apa itu meditasi? Sang Bhagavan menjawab, Apa gunanya menjelaskan apa itu cahaya, kepada orang-orang buta? Menjelaskan cahaya kepada orang buta justru dapat menyesatkan mereka. Sekadar penjelasan, sekadar pengetahuan sering kali membuat kau merasa tahu, sudah melihat, padahal bagaimana seorang buta dapat melihat? Kebutaan itu harus diobati dulu. Kemudian, penjelasan tentang cahaya tidak penting lagi, tidak dibutuhkan lagi. Kita dapat melihat sendiri.

Saat ini, kita terbebani oleh penjelasan, oleh pengetahuan. Dan, kita berpikir bahwa sekadar pengetahuan sudah cukup. Padahal, bagi seorang buta, pengetahuan tentang cahaya sungguh tidak cukup, bahkan tidak berguna. Pengetahuan tentang meditasi pun tidak berguna, apalagi pengetahuan tentang cinta – tidak bermakna. Sang Buta harus diobati, kemudian meditasi akan terjadi sendiri, cinta akan bersemi sendiri.

Kemudian, masih bersama Sang Guru, siswa tadi melihat ada seorang yang datang. Dia adalah seorang pencari, seorang talib, bukan talib-taliban, tetapi Talib Sejati, Talib yang tidak menodai makna Talib. Aku sulit bermeditasi, teach me how to meditate. Ajarkan padaku, bagaimana bermeditasi… dan, Sang Guru pun melirik ke siswanya, Ia siap… Kemudian ia memanggil orang itu, Datanglah dekat aku… Maka, terjadilah meditasi. Dekati aku… dan terjadilah meditasi.

 Lain bahasa Siddharta, lain pula bahasa Isa. Siddharta berkata, Dekati aku. Isa berkata, Ikuti aku. Kata Mustafa, Aku rasul. Kata Mansur, Aku kebenaran. Krishna berseru, sesungguhnya Aku dan kamu sama, Aku tahu kau tidak tahu. (Krishna, Anand. (2005). Ishq Allah, Terlampauinya Batas Kewarasan Duniawi & Lahirnya Cinta Ilahi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

……………..

Bagi seorang Narada, how atau “bagaimana” lebih penting daripada what – apa. Dan technical know-how dia sungguh mudah dikuasai: 1. Hindari pemicu hawa nafsu, amarah, dan keterikatan; Dekati mereka yang sudah berhasil melampaui semua itu.

Begitu sederhana! Tetapi tidak begitu gampang, not that easy. Terbang bersama Narada berarti melepaskan keterikatan dengan harta dan takhta, dengan rumah dan keluarga. Terbang bersama Narada sama seperti mengikuti Isa, harus memikul kayu salib masing-masing. Nabi Isa pernah mengajak seorang pedagang untuk terbang bersama. Sebelumnya, dia disuruh membagikan harta kekayaannya kepada fakir miskin. Si pedagang tidak berani. Tidak siap. Namanya juga pedagang. Ajakan Sang Nabi tidak sesuai dengan kalkulasi dagangnya, “Apa jaminannya bahwa aku akan masuk Surga? Sudah membagikan harta benda kepada fakir miskin, bila tidak masuk Surga juga, wah celaka tigabelas!” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

……………..

Berikut  penjelasan Bhagavad Gita bagaimana melakoni hidup ini:

buku-bhagavad-gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ketika seseorang menyadari Sang Jiwa Agung sebagai Landasan Tunggal bagi keberadaan makhluk-makhluk beragam, maka saat itujuga ia mencapai-Nya.” Bhagavad Gita 13:30

 

Bagi sebagian pujangga Ia adalah Kasunyatan Abadi. Oleh karena itu, Buddha tidak pernah menjawab pertanyaan tentang Tuhan. Untuk apa menjawab pertanyaan seorang buta, “Seperti  apakah gerbong kereta?” Ia tak akan memahami jawaban sedetil, secerdik, dan sejelas apapun. Sembuhkan kebutaannya dan perlihatkan gerbong kereta. Ajaklah dia untuk masuk ke dalarn gerbong. Biarlah ia mengalami sendiri. Itu yang dilakukan oleh Buddha dengan mengajarkan hidup berkesadaran.

 

PARA GURU SEJATI TIDAK MENJAWAB pertanyaan-pertanyaan yang muncul dari curiosity saja — dari sekadar keingintahuan saja. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tidak membantu. Apa arti kehidupan? Apa arti kematian? Apa arti kelahiran? Seperti apakah Tuhan? Semua penanyaan ini tidak membantu kita. Pertanyaan yang membantu adalah “Bagaimana menjalani hidup ini, bagaimana rnenghadapi kematian, bagaimana mencapai Tuhan?” Jadi, not what — but how!

 

GITA ADALAH PANDUAN UNTUK HOW TO LIVE – Bagaimana melakoni hidup ini. Krsna mengajak Arjuna untuk menjalani hidup, bukan untuk berfilsafat.

Kendati demikian, di sana-sini Ia pun mesti memberi bocoran sedikit tentang apa yang akan ditemukannya di ujung terowongan. Bocoran ini adalah sepenuhnya berdasarkan pengalaman pribadi Krsna. Ia adalah Pribadi Agung. Ia senantiasa, 24/7 berada dalam Kesadaran Jiwa Agung. Sebab itu, bocoran dari Krsna adalah sangat berguna.

Dalarn ayat-ayat ini Krsna menyebut Sang Jiwa Agung, Tuhan, sebagai Brahman. Ia adalah Tri-Tunggal Kebenaran Abadi, Kesadaran Murni, dan Kebahagiaan Sejati — Sad, Cit, Ananda.

 

BOCORAN INI PENTING supaya kita tidak salah persepsi. Tidak menyalahartikan sebuah pengalaman “biasa” sebagai pencapaian. Bocoran ini semacam tolok ukur untuk Arjuna di dalam diri kita masing-masing.

Ketika kita mencapai-Nya, maka pengalaman awal kita adalah Ananda atau Kebahagiaan Sejati, langgeng, abadi. Bukan kebahagiaan sesaat seperti yang selama ini kita raih, kebahagiaan yang cepat menguap. Ananda adalah sifat Jiwa, bukan emosi sejenak.

Ketika kebahagiaan kita tidak terpengaruh oleh pengalaman suka dan duka di luar; ketika dalam keadaan apa pun kita masih tetap berkarya — maka kita telah meraih Ananda. Setelah Ananda, baru Kesadaran Murni dan Kebenaran Abadi. Jadi diurut dari belakang dulu. Sulit mencapai Kebenaran Abadi atau Kesadaran Mumi dulu. Awalnya, mesti dari Ananda.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s