Belajar dari Kisah Dramatis Beberapa Selebrities yang Diunggah Alam Semesta

buku-bhagavad-gita-shakuni-di-masa-jaya-plus-tulisan

Kisah Kehidupan Selebrities yang diunggah Alam Semesta

Seorang motivator publik terkenal terbuka lembaran kisah kehidupannya setelah sekian lama sukses dan menjadi panutan masyarakat. Seorang yang dikenal media sebagai Guru Spiritual yang hidup gemerlap di tengah para artis cantik tertangkap saat sedang pesta narkoba.

Kadang-kadang alam seakan-akan sengaja memberikan pembelajaran kepada masyarakat lewat kisah nyata para selebrities. Sebetulnya bukan hanya para selebrities, kita semua pun juga mengalami hal yang sama walau tidak dipermalukan alam di depan publik. Maukah kita belajar dan memperbaiki kehidupan kita?

 

Belajar dari Dhammapada

Dhammapada 22:306 menjelaskan apa yang dapat mencelakakan diri, yaitu kebohongan. Mengingkari perbuatan keji, dan berbohong untuk menutupinya – inilah pertanda orang yang sedang mencelakakan dirinya.  Kita tidak dapat membohongi Keberadaan Yang Maha Mencatat setiap kegiatan. Perbuatan keji untuk mencelakakan orang lain adalah serangan terhadap Keberadaan. Dan, begitu kita menyerang Keberadaan yang adalah Kasunyatan Abadi, maka perbuatan keji dan kebohongan akan bergaung kembali. Tidak ada yang menghukum kita kecuali perbuatan kita sendiri. Ada kalanya benih perbuatan keji itu belum tumbuh menjadi pohon, maka sepertinya lama sekali baru berbuah. Ada kalanya Keberadaan membiarkannya tumbuh malah diberi air hujan dan difasilitasi pertumbuhannya, supaya pada saatnya dapat ditebang karena ilalang memang tidak berguna dan malah mencelakakan pertumbuhan tanaman lainnya. Catatan Bapak Anand Krishna tentang Dhammapada yang terasa “klop” dengan kehidupan dunia.

 

Buah Karma yang belum matang

Dalam Dhammapada 9:125 Buddha jelas sekali bahwa jika seorang pelaku kejahatan berupaya mencelakakan orang yang tidak bersalah, maka ia sendiri yang akan celaka. Lalu apa yang kita lihat selama ini dan di sekitar kita? Seolah pelaku kejahatan bisa merajalela, dan mereka yang tidak bersalah bisa seenaknya dianiaya. Untuk itu Buddha menjelaskan dalam ayat 119 bahwa ada juga perbuatan-perbuatan jahat yang “belum matang”. Ketika buah kejahatan itu matang, maka ia jatuh sendiri. Tinggal tunggu waktu. Catatan Bapak Anand Krishna tentang Dhammapada.

 

Hukuman Bagi Tindakan Adharma

Banyak di antara kita yang punya pengalaman menghadapi oknum penyidik di kepolisian atau kejaksaan yang korup dan dengan sombong bisa mengatakan, “Ini wewenang kami”. Pun demikian dengan para hakim dan pejabat lain yang sama-sama korup. Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan yang tidak langgeng, tidak untuk selamanya. AKHIRNYA, MEREKA BINASA karena dan oleh kebutaan mereka sendiri. Kadang mereka tidak sadar bahwa ketika dharma bertindak, ia bisa menggunakan senjata apa saja. Banyak senjata di tangan dharma.

Para pejabat korup yang memiliki anak yang autis, penderita penyakit lain, pencandu, pemabuk, penderita HIV, dan sebagainya – telah dijatuhi hukuman seumur hidup oleh dharma! Penyakit anak-anak mereka adalah disebabkan oleh uang haram hasil korupsi, hasil jarahan, yang mereka gunakan untuk membiayai kehidupan mereka. Dan tentunya disebabkan oleh karma anak-anak itu pula yang memilih mereka sebagai orang-tua.

Dharma tidak selalu memenjarakan para penguasa zalim. Penjara adalah urusan peradilan dunia. Hukuman penjara adalah hukuman ringan jika dibanding dengan hukuman dharma yang tidak hanya membuat seseorang menderita hingga akhir hayatnya, tetapi juga setelah meninggalkan dunia ini. Hukuman dharma bukanlah hukum korup yang bisa dikompromikan. Tidak ada sin laundering, pencucian dosa lewat ziarah, amal-saleh, dan sebagainya. Setiap penderitaan yang disebabkan oleh seorang penguasa zalim mesti dipertanggung jawabkan olehnya sendiri……. dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 11:34 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Mari kita merenungkan sejarah kehidupan kita sendiri, bukan hanya para selebrities, bukan hanya oknum Penyidik dan Hakim yang tidak jujur, kita pun juga mungkin pernah angkuh, arogan saat kita sedang berkuasa. Bentuk hukuman adharma bukan hanya anak cacat, tetapi penderitaan yang dirasakan perih sampai maut datang menjemput. Dan, itu bisa berupa apa saja……

Mari kita cari jalan keluar, bagaimana sebaiknya……..

 

Apakah kepada mereka yang berbuat salah sudah diberi kesempatan untuk bertobat?

Pasti! Alam akan memperingatkan dalam beberapa tahap sebelum memberikan pukulan telak.

Alam memperingatkan manusia seperti simbol 4 tangan Vishnu. Pertama kali, tangan memberi “blessing”, memaafkan kesalahan awal yang telah diperbuatnya. Kedua kali, tangan memegang terompet kulit kerang, setelah kita terus melakukan kesalahan, alam memberi peringatan dengan teguran keras. Ketiga kali, tangan memegang chakra, Alam memberi semacam tenggat waktu untuk memperbaiki perbuatan yang salah. Keempat kali, tangan membawa gada, begitu semua peringatan sudah dilaksanakan, masih “ndhendheng”, bebal, maka gada yang berbicara.

Silakan renungkan kisah berikut:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/09/08/cara-vishnu-sang-pemelihara-alam-memperingatkan-kita/

 

Masihkah ada jalan keluar bagi kita yang telah bertindak jahat di masa lalu?

Kesalahan bisa diperbaiki, hukuman bisa diperingan.

Sebagaimana seorang presiden, seorang kepala negara, seorang raja memiliki hak prerogatif untuk memberi pengampunan total — demikian pula Tuhan. Ia memiliki hak prerogatif untuk menghapus segala macam dosa-dosa kita. Asal — lagi-lagi ini menurut pendapat saya, dan berdasarkan pengalaman saya pribadi – kita insaf, kita bertobat. Dan, tidak lagi mengulangi kesalaha-kesalahan yang sama. Bukan hanya keringanan, walaupun tidak sering terjadi – tetapi Tuhan bisa mengampuni kita secara total. Dalam hal ini, peranan Tuhan bisa dibandingkan dengan peranan Presiden suatu negara. Presiden mempunyai wewenang penuh untuk mengampuni seseorang, walau ia telah mengalami kekalahan dalam sidang-sidang pengadilan sebelumnya. Namun, harus ingat, Presiden hanya mengambil keputusan jika ia yakin orang yang bersalah itu benar-benar insaf, telah menyadari akan kesalahannya, tidak akan berbuat lagi. Sebelum mengambil keputusan, Bapak Presiden memperhatikan pula latar belakang dan hal lain-lain yang bersangkutan dengan orang itu. Kita bisa tersesat, begitu sadar akan kesalahan kita dan kita mohon kepada-Nya agar diampuni, Ia pasti mengarahkan kita kembali ke jalan yang benar. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan renungkan kisah berikut:

https://kisahspiritualtaklekangzaman.wordpress.com/2016/09/10/sri-krishna-sais-agung-kereta-kehidupan-kita-pembawa-chakra-dan-bunga-wijaya-kusuma/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s