Lima Pedoman Perilaku Yang Mulia dalam Yoga

buku-yoga-sutra-patanjali-5-niyama

Mandi 2-3 kali sehari bisa membersihkan badan, tapi belum tentu men-“suci”-kan badan. Pen-“suci”-an badan dicapai, tercapai, ketika ia—badan—tidak melakukan sesuatu yang tidak lazim, tidak patut dilakukannya. Demikian pula dengan indra, pancaindra. Berarti, mata tidak melihat sesuatu yang tidak patut dilihatnya. Telinga tidak mendengar sesuatu yang tidak layak didengarnya. Hidung tidak mencium sesuatu yang tidak layak diciumnya. Tidak mencari aroma-aroma yang tidak menunjang tujuannya dalam mencapai Samadhi, meraih pencerahan.

 

Sauca, Kebersihan, Kesucian atau Kemurnian; Samtosa atau Kepuasan Diri; Tapah, Tapa, atau Disiplin-Diri untuk tujuan spiritual murni; Svadhyaya, Belajar Sendiri atau Mempelajari Diri; Isvara Pranidhana atau Penyerahan Diri pada Ia Hyang Bersemayam dalam diri setiap makhluk. Inilah Niyama atau Pedoman untuk Perilaku yang Mulia.” Yoga Sutra Patanjali II.32

buku-yoga-sutra-patanjali 

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Tapah, Svadhyaya, dan Isvara Pranidhana— Disiplin-Diri; Mengenal Diri, Memahami Potensi Diri, Mengetahui Tujuan Hidup; dan Penyerahan Diri secara utuh, sepenuhnya pada Hyang Bersemayam dalam Diri setiap makhluk—mesti mewarnai setiap Laku-Hidup kita.

Jangan lagi memisahkan antara urusan sakala, urusan materi; dan urusan niskala, urusan rohani—urusan adalah urusan. Hidup kita penuh dengan segala macam urusan, baik sakala maupun niskala. Tiga warna dasar ini mesti mewarnai cara kita menangani setiap urusan.

 

MISALNYA UNTUK URUSAN DUNIAWI, ber-tapah atau bertapa berarti bekerja keras, berkeringatan, tidak bersikap pasif. Keuletan, Kecekatan, Kepandaian dalam pengertian memiliki skill dan mengasah diri secara terus-menerus, semua ini adalah tapah.

Arti harfiah dari kata tapah sebagaimana telah klta bahas adalah “berpanasan”—memanaskan-diri. Tidak malas, tidak sontoloyo, tidak pernah memberikan alasan, “Tunggu sebentar ya, saya tidak bisa didorong-dorong seperti itu. Saya makhluk luar angkasa, tidak terbiasa di-push, ditekan seperti itu.”

Jika kita tidak bisa, tidak mampu bekerja under great pressure—di bawah tekanan yang luar biasa—maka kita belum bisa ber-tapah, dan sebab itu pula kita belum bisa memasuki Yoga. Tiada Yoga tanpa tapah. Yoga bukanlah sesuatu untuk bermain-main.

Seandainya kita menghendaki keadaan yang adem-ayem saja, maka tapah bukanlah untuk kita, Yoga belum menjadi kebutuhan kita.

Sebagian besar postur-postur asana yang sesungguhnya adalah bagian dari Hatha Yoga yang dimaksudkan sebagai gerakan-gerakan untuk menyeirnbangkan unsur-unsur matahari dan bulan di dalam diri kita. Dalam hal ini, Matahari mewakili Unsur Api dan Bulan mewakili Unsur Air—P anas dan Dingin.

 

HATHA YOGA ADALAH UNTUK THERAPY. Namun lagi-lagi, hatha—gerakan-gerakan untuk meraih keseimbangan antara dua unsur tersebut pun—tujuan akhirnya adalah Yoga.

Hatha Yoga adalah inovasi para penerus Patanjali, yang cukup bijak dan paham bila tidak semua orang siap untuk Astanga Yoga Patanjali walau mereka berkeinginan untuk itu. Maka, mereka menciptakan satu tahap, satu program sebagai kelas atau program persiapan sebelum memasuki Patanjali sepenuhnya.

Berarti prinsip-prinsip Patanjali pun sudah mesti diperkenalkan kepada setiap praktisi Hatha Yoga, walau barangkali mereka belum dapat memprakatekkan sepenuhnya. Semacam perkenalan, pemanasan.

Urusan Hatha Yoga adalah dengan Ayurveda, dengan buku Veda, Pengetahuan, Kebijakan tentang Hidup, Kehidupan—tentang Seni, ya, Pengetahuan atau Veda—tentang Seni, tentang Art Kehidupan—Cara untuk Menua secara Anggun, Aging Gracefully!

Di bagian akhir buku ini, saya berikan beberapa gerakan Hatha yang dirangkum “sebagai” satu flow, dan saya sebut AIM Yoga (Ananda’s Integral Meditative Yoga). Semoga bermanfaat.

 

SETELAH TAPAH, SVADHYAYA—Mengenal Diri, Mempelaj ari Diri; bisa juga diartikan Belajar Sendiri. Jika kita kaitkan dengan sakala, dengan urusan duniawi, pedoman ini adalah untuk mengetahui, mengindentifikasi potensi diri dan berkarya sesuai dengan itu.

Bersama itu penting juga untuk memperhatikan kekurangan-kekurangan diri, skill apa saja yang dibutuhkan untuk memperbaiki diri, untuk meningkatkan kemampuan diri. Jadi, setelah mengenal potensi-diri pun, tidak berarti duduk diam. Potensi mesti diwujudkan. Mesti berkarya, membanting tulang, dan semua itu dilakukan dengan semangat.

 

ISVARA  PRANIDHANA—semangat persembahan, semangat melayani. Dalam segala hal yang menyangkut urusan duniawi, sakala, pedoman ini berarti “tidak menyakiti, tidak merugikan orang lain, demi keuntungan dan kepentingan diri—sebab setiap orang adalah Wujud-Nya.” Setiap orang, setiap makhluk, adalah bukti nyata kehadiran-Nya.

Dari segi niskala, semua itu, termasuk dua pedoman berikut adalah untuk merealisasi tujuan akhir hidup, kehidupan—yaitu Samadhi, Pencerahan!

 

NIYAMA PERTAMA YANG DISEBUT PATANJALI ADALAH SAUCA—yang umum diterjemahkan sebagai kebersihan-diri saja. Bukan, bukan sekadar kebersihan diri, tetapi sebagaimana telah kita bahas sebelumnya, sauca berarti kesucian diri, kemurnian diri. Sauca berasal dari kata suci atau suci—jadi, sauca adalah kesucian diri. Kesucian Diri dalam pengertian seluas-luasnya. Kesucian fisik, indra, energi, gugusan pikiran serta perasaan, intelek—segalanya.

Mandi 2-3 kali sehari bisa membersihkan badan, tapi belum tentu men-“suci”-kan badan. Pen-“suci”-an badan dicapai, tercapai, ketika ia—badan—tidak melakukan sesuatu yang tidak lazim, tidak patut dilakukannya. Demikian pula dengan indra, pancaindra. Berarti, mata tidak melihat sesuatu yang tidak patutdilihatnya. Telinga tidak mendengar sesuatu yang tidak layak didengarnya. Hidung tidak mencium sesuatu yang tidak layak diciumnya. Tidak mencari aroma-aroma yang tidak menunjang tujuannya dalam mencapai Samadhi, meraih pencerahan.

Soal hidung dan penciuman ini, kiranya kita perlu melakukan sedikit perenungan.

 

INDRA HIDUNG SEBAGAI ALAT BAGI INDRA PERSEPSI PENCIUMAN sangat erat hubungannya dengan Indra Mulut sebagai alat Indra Persepsi pencecapan.

Baru-baru ini saya membaca tentang seorang penderita kanker otak. Ketika ahli bedah otak mengangkat tumornya, ikut terangkat pula bagian otak yang berfungsi sebagai penerima sinyal penciuman.

Setelah 0perasi—dan operasinya dianggap sukses—sang pasien pun diberitahu tentang apa yang terjadi. Saat itu ia tidak mengeluh, ia justru bersyukur bahwa setidaknya tumor yang mulai menyebar itu sudah berhasil diangkat. Selama beberapa minggu saat dalam perawatan pun tidak ada keluhan. Tapi, setelah itu—setelah ia diperbolehkan pulang ke rumah—baruIah ia sadar akan kehllangannya. Indra Penciuman yang tidak berfungsi lagi membuat Indra Pencecapan pun “seolah” tidak bekerja lagi. Apa pun yang dimakannya terasa hambar, tanpa rasa.

Apa yang terjadi?

 

INDRA PENCECAPANNYA MASIH TETAP BEKERJA, namun informasi apa pun yang disampaikannya ke otak sudah tidak dapat diolah lagi. Bagian otak yang biasanya mengolah infonnasi tersebut sudah tidak ada lagi.

Berat badannya turun drastis dalam beberapa minggu saja, yang tentu menimbulkan permasalahan lain, termasuk kekurangan gizi, protein, dan sebagainya. Pasalnya, selera makan dia hilang. Apa pun yang dimakannya “terasa” tanpa rasa.

Kita berada di luar jalur.

Namun, informasi ini penting supaya kita dapat mengapresiasi peran setiap organ indra, juga setiap indra persepsi yang terkait dengan masing-masing organ.

Kembali pada Sutra tentang pentingnya pengendalian indra—termasuk indra penciuman dan hidung sebagai alatnya.

 

SESEORANG YANG SUDAH LAMA MENJADI VEGETARIAN bisa tergoda untuk makan daging lagi hanya karena mencium aroma steak atau terasi—yang, barangkali, bagi sebagian orang bukanlah aroma, tapi bau.

Jadi, rangsangan lewat hidung, lewat indra penciuman bisa memengaruhi indra pencecapan dan organnya, yakni mulut.

Sebab itu, sauca juga berarti tidak terpengaruh oleh aroma, bau, wangi, atau apa pun sebutannya—baik dari asap sate yang sedang dibakar, terasi yang sedang diuleg, ikan asin yang sedang digoreng, dan sebagainya.

Masih terkait dengan mulut, sauca juga menuntut supaya kita tidak mengeluarkan kata-kata yang kasar; tidak menghina orang; tidak terlibat dalam fitnah, dusta, gosip, dan sebagainya.

 

INTINYA, SAUCA BERARTI UPAYA MEMANUSIAKAN DIRI. Lahir sebagai manusia, jika kita hidup sebagai manusia, kita telah mempraktekkan sauca. Kemanusiaan adalah kemurnian, kesucian, kemuliaan manusia.

Seperti lempengan logam mulia—adalah takaran 24 karat yang dianggap paling mulia. Jika diterjemahkan dalam bahasa persentase, barangkali 99,99%. Sebab, bagaimanapun, dalam proses memurnikan emas, tetap saja tersisa 0,01% ketidakmurnian. Tidak blsa 100% muml.

Dalam hal kemanusiaan, ketidakmurnian 0,01% ini semestinya disebabkan oleh badan saja. Sebab, sehabis mandi pun, seseorang masih bisa berkeringatan walau sedikit, hanya 0,001% – tapi, tetaplah keringat itu mengurangi nilai sauca. Namun, semestinya sebatas badan saja. Pikiran, perasaan, prana, dan lainnya bisa 100% mumi. Setidaknya, itulah yang mesti menjadi ideal kita.

Niyama berikutnya.

 

SAMTOSA ATAU KEPUASAN DIRI. Seperti yang telah dibahas dalam buku saya yang berjudul Be Happy, hampir setiap hasil penelitian tentang “Kebahagiaan” yang kredibel, yang dapat dipertanggungjawabkan menyebut Inner-Satisfaction atau Kepuasan-Batin atau Kepuasan-Diri sebagai salah satu di antara tiga faktor utama yang “paling membahagiakan” manusia. Dua faktor lainnya adalah Kesehatan dan Relasi. Jadi, bukan uang. Uang bukanlah Faktor Penentu untuk meraih kebahagiaan, untuk menjadi bahagia. Uang sekadar pelengkap, itu saja.

Pemahaman old boys, para pemikir tempo doeloe yang menganggap bahwa seseorang yang cepat puas menjadi pasif, sontoloyo, tidak lagi memiliki semangat untuk bekerja dan meraih kesuksesan, sudah terbukti adalah anggapan yang keliru.

 

BERDASARKAN HASIL PENELITIAN MEREKA, para resi, para pemikir, para saintis masa lalu sudah tahu bahwa bukanlah uang, tetapi Kesehatan, Relasi, dan Kepuasan Diri itulah yang membahagiakan manusla. Malah mereka menambah satu faktor lagl, yang selama ini terlupakan oleh peneliti modern, yaitu Faktor Kebebasan—kebebasan untuk berkarya berpikir, beperglan, berkeglatan.

Yoga mencakup keempat faktor utama tersebut, dan menambah beberapa subfaktor lain yang tidak kalah penting. Bahkan, sebagaimana; telah kita pelajari pada Bagian Pertama, Patanjali juga membedah alasan-alasan yang membuat kita tidak bahagia, yang menjadi alasan duka-derita.

Dengan mengatasi alasan-alasan tersebut, kita meraih kebahagiaan sejati—ananda—yang juga membebaskan kita  dari belenggu-belenggu duniawi. Tetap hidup di dunia, tapi tidak terpengaruh oleh lumpur keduniawian. Persis seperti bunga teratai yang tumbuh dari dan dalam kolam penuh lumpur, tapi tidak tersentuh oleh lumpur itu. Inilah kebebasan—moksa, kebebasan sejati. Inilah yang dimaksud dengan Jivan Mukta, meraih kebebasan mutlak, moksa selagi masih hidup, masih berbadan.

Kiranya cukup kita menyelami Yama dan Niyama—segala hal yang mesti dihindari, dan segala apa yang mesti diadopsi, dijadikan pedoman dalam hidup.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s