Sudah Merasa Tidak Nyaman Tapi Tetap Mengikuti Tradisi? Tidak Cerdas Kata Sri Krishna!

buku bhagavad gita kebiasaan dulu dan sekarang

“Kakek Pandawa, Bhisma selalu berpegang pada tradisi, pada adat kebiasaan, menurut dia melawan tradisi adalah tindakan adharma. Sri Krishna menyampaikan kepada Bhisma bahwasanya tradisi itu seperti buah mangga. Sewaktu lahir, terasa pahit dan hanya orang tertentu yang berani memakannya. Ketika tradisi menjadi mangga yang masih muda, yang melaksanakan masih sedikit, maka terasa asam bagi sebagian besar orang. Akan tetapi saat tradisi sudah menjadi mangga yang masak, terasa manis, maka semua orang ingin melaksanakan tradisi tersebut. Ada waktunya buah “tradisi” sudah menjadi busuk dan mengikuti tradisi menjadi tidak menyenangkan. Orang yang berpegang pada tradisi mengatakan bahwa mereka yang melanggar tradisi dianggap sesat. Akan tetapi pada kenyataannya orang sudah tidak nyaman dengan tradisi tersebut sehingga masyarakat menjadi munafik, takut dianggap sesat padahal sudah tidak melaksanakannya.” Demikian penjelasan Krishna pada tayangan film seri Mahabharata di ANTV.

Sang Kala, Sang Waktu membawa perubahan “setting” zaman. Banyak hal yang okay di masa lalu sudah tidak sesuai dengan situasi dan kondisi masa kini………

 

“Krishna adalah pemberontak, Yesus adalah pemberontak, demikian pula Siddharta, Muhammad, setiap nabi, setiap avatar, setiap mesias, dan setiap sadguru. Mereka semua dikenang sebagai Pembaharu, karena mereka melakukan pemberontakan terhadap sistem yang sudah usang, kadaluarsa, tetapi mapan. Mereka semua memberontak terhadap kemapanan system yang korup. Seorang sanyasi, sadhu, bhikshu, pejalan spiritual, atau apa pun sebutannya, sedang mengikuti jejak mereka. Ia mengatakan ‘tidak’ terhadap sistem yang ingin memperbudaknya. Ia menolak menjadi bagian dari kawanan domba. Tak peduli ada yang membantunya atau tidak; ada yang mendukungnya atau tidak; ia berdiri tegak di tengah medan perang, Dan menyatakan perang dengan decisive, definite— do or die!” (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Berikut adalah penjelasan Bhagavad Gita 13:25 tentang Panembah yang tidak cerdas hanya mengikuti kebiasaan yang sudah terbiasa dilakukan…….

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Mereka yang tidak cerdas (tidak memiliki pemahaman tentang jati diri dan cara untuk menemukannya, sebagaimana telah dijelaskan); memuja Jiwa Agung berdasarkan uraian yang didengarnya dari orang lain. Kendati demikian, mereka pun melampaui kematian.” Bhagavad Gita 13:25

Mayoritas yang mengikuti tradisi dan kepercayaan tertentu secara turun temurun – tidak memahami inti kepercayaan mereka. Mereka mengikutinya begitu saja. Jika ditanya kenapa melakukan ritus tertentu, jawaban mereka hampir selalu sama, “Tidak tahu, tapi sejak dulu memang sudah demikian”. Kendati demikian, kendati menjalani kepercayaan mereka secara tidak cerdas,

 

MEREKA PUN MELEWATI KEMATIAN – Kata-kata Krsna sungguh penuh makna. Orang seperti itu, tidak terbebaskan dari kelahiran dan kematian. Ia hanya melewati alam kebendaan secara mulus.

Dalam pengertian, ia pun tidak sedemikian terikat dengan alam benda sehingga sulit melanjutkan perjalanannya.

Seorang yang menjalani kepercayaan hanya karena mendengar, karena mengikuti Ieluhur dan orangtuanya yang “sejak dulu melakukan seperti itu” adalah…….

 

“PANEMBAH YANG TIDAK CERDAS“ – Ia melakukan sesuatu yang barangkali memang berguna bagi dirinya, dan mesti dilakukannya, tapi tanpa memahami maknanya. Seperti seseorang yang memiliki sebuah jaket, peninggalan orangtuanya, dan memakainya setiap hari.

Apa jadinya?

Ketika udara di luar sejuk, maka jaket yang memang dimaksudkan untuk musim dingin itu pun terasa comfy enak dipakai, nyaman.

Tetapi, ketika udara di luar panas, maka ia sudah pasti kegerahan. Namun, dalam kebodohannya, ia tidak akan melepaskan jaket itu, “Tidak, orangtuaku selalu memakainya, saya pun mesti selalu memakainya”.

 

DULU KOTA BANDUNG SEJUK – Saya masih ingat setiap kali berkunjung ke Bandung, saya selalu bawa sweater. Sekarang, dengan kemacetan, pembangunan dan pergantian cuaca, kota Bandung sudah tidak sesejuk dulu. Tidak perlu sweater. Cerdaskah saya, jika setiap kali di Bandung, saya tetap memakai sweater, dengan alasan dari dulu saya selalu pakai sweater? Jelas tidak. Banyak sekali ritus-ritus dalam setiap kepercayaan — yang “dulu” oke — sekarang tidak. Tapi kita melakukannya terus karena “sejak dulu sudah seperti itu.”

 

MELAKONI KEPERCAYAAN SECARA TIDAK CERDAS, kadang membahayakan diri kita sendiri. Kita kegerahan tetapi enggan melepaskan sweater. Kita mengidentifikasikan seluruh kepercayaan kita dengan ritus-ritus tertentu, dengan sweater yang sesungguhnya bukanlah untuk menggerahkan – tetapi untuk menyamankan kita di musim dingin.

Seseorang yang menjalani kepercayaan dengan cara itu, menurut Krsna, tetaplah melewati alam kebendaan secara mulus — Walau ia tidak terbebaskan dari lingkaran kelahiran dan kematian. Ia hanya melewati satu episode dengan baik — itu saja. Krsna menantang kita untuk menjadi panembah yang cerdas, sadar!

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s