Brahmacarya Melakoni Hidup Sekreatif Brahma? Energi Seksual Bersifat Kreatif?

buku yoga sutra patanjali brahmacarya

Banyak energi muda, energi yang masih murni, dan berkualitas prima tersia-siakan karena ‘aktivitas seksual yang berlebihan dan belum waktunya’. Sperma dalam diri seorang pria dan sel telur dalam diri seorang wanita adalah liquid energy. Inilah energi yang paling murni dan paling dahsyat. Energi ini pula yang membuat manusia menjadi kreatif. Bagaimana Mengendalikan Keinginan Seks? Jangan dikendalikan, tidak perlu dikendalikan. Lebih baik pahami sifat energi yang meluap-luap itu. Sifatnya: Kreatif. Salurkan energi itu untuk melakukan sesuatu yang jauh lebih kreatif dan lebih bermanfaat. Dengan sendirinya ia tak akan meluap-luap dan mengganggumu lagi. Energi seks yang sedang meluap-luap itu berupa cairan. Mengikuti sifat dan kodrat cairan, ia akan mencari tempat yang lebih rendah. Ia keluar lewat alat kelamin. Bagaimana jika kita berhasil mengubah energi tersebut menjadi uap? Mengikuti sifat dan kodrat gas, ia akan menguap ke atas. la akan membuka blokade-blokade dalam otakmu. Otak akan mengalami revitalisasi. la menjadi lebih aktif, lebih awas.” (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

ADALAH LAKU BRAHMACARYA yang secara harfiah berarti ‘melakoni hidup layaknya Brahma, atau Sang Pencipta’. Coba lihat sekeliling kita, amati ciptaan Sang Pencipta. Sungguh menakjubkan! Tidak ada pengulangan, semuanya begitu unik. Inilah kreativitas Sang Pencipta. Brahmacarya adalah sebuah panggilan untuk hidup sekreatif Sang Pencipta. Tidak lebih dan tidak kurang. ‘Aturlah tingkah lakumu, teladanilah kehidupan Brahma, Sang Pencipta,’ demikian Master saya selalu mengingatkan kita. Orisinalitas adalah Ilahi, kreativitas adalah Ilahi — meniru adalah manusiawi. Saat kita menyalahartikan meniru sebagai hal yang lebih rendah daripada kreativitas Sang Pencipta, sang Master mengoreksi, ‘Tapi ada makna penting dari meniru, yaitu bahwa manusia harus selalu berusaha meniru perbuatan Brahma, Sang Pencipta. Teladanilah Brahma. Jadilah kreatif!’

 

TERKAIT DENGAN HIDUP SELIBAT (MENGHINDARI SEKS), yang merupakan pemahaman umum tentang kata Brahmacarya, itu haruslah dipahami sebagai cara untuk hidup kreatif. Sebuah tindakan seksual, entah di atas ranjang atau di dalam tabung (dalam kasus bayi-tabung), dapat menghasilkan sebuah energi yang sedemikian dahysatnya sehingga sebuah makhluk baru terlahirkan. Ini membuktikan sifat kreatif energi ‘seksual’. Namun, hubungan seksual bukanlah ‘produsen’ tunggal ataupun ‘penikmat’ tunggal energi tersebut. Bayi juga bukan “produk” tunggal kreativitas atau energi kreatif manusia. Ada produk-produk lain, pilihan-pilihan lain. Semua kreativitas, semua sifat bijak dan kualitas kepemimpinan dalam bidang apa pun adalah hasil energi yang sama, produk energi yang sama.” (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Berikut ini adalah penjelasan Brahmacarya dalam buku Yoga Sutra Patanjali:

 

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

YAMA KEEMPAT: BRAHMACARYA ATAU MENGHINDARI SEGALA KEGIATAN SEKSUAL YANG TIDAK LAZIM. Setelah berulang kali membaca Bhagavad Gita, saya tidak bisa lagi menerjemahkan Brahmacarya sebagai abstinance from all sexual activities atau celibacy.

Seseorang yang mau hidup selibat melakukan hal itu atas kesadaran dan kemauan diri sendiri. Bukan karena paksaan. Baik, jika seorang selibat seperti itu juga disebut Brahmacari, namun bukanlah seorang selibat saja yang bisa disebut demikian. Bahkan seorang selibat yang sekadar menghindari kegiatan seksual secara jasmani, namun pikirannya masih tetap penuh berahi; dan ia pun masih mengejar segala kenikmatan nafs, nafsu lainnya—tidak bisa, belum bisa disebut brahmacari.

SEORANG BRAHMACARI tidak hanya mengendalikan syahwatnya, ia mengendalikan hawa nafsunya. Nafsu bukan sekadar urusan syahwat.

Saya pernah bertemu dengan seseorang yang, bahkan, menyebut dirinya Brahmacari. Badannya melebar ke setiap penjuru mata angin, berat badan di atas 160 kilo.

Saat itu saya masih di High School, masih punya keberanian konyol atau tidak sopan untuk bertanya, “Romo, Maharaja (panggilan lazim bagi para pemandu spiritual di India), kalau saya boleh tanya, pemandu-pemandu lain semuanya kurus, tapi Maharaja begitu gemuk!?”

Untung ia tidak tersinggung.

Sambil tersenyum, ia menjawab, “Saya seorang Brahmacari, selibat, jadi makan adalah satu-satunya kesibukan dalam hidup saya. Porsi makan saya banyak Nak, maka gemuk!”

Simpel, sederhana!

Saat itu, kesimpulan saya masih tetap sama seperti sekarang, “Nafsu bukanlah urusan syahwat saja. Pengendalian nafsu bukanlah pengendalian urusan selangkangan saja, tapi juga urusan mulut, makan, dan lainnya.”

Hmmm, having said that, sekarang ketika berpikir kembali, saya tidak bisa tidak mengagumi keberaniannya. Beliau berjujur kata di hadapan ratusan orang yang menghadiri acaranya. Adakah keberanian seperti itu di dalam diri kita? Apakah kita memiliki nyalinya? Belum tentu.

Setiap kali becermin dan melihat badan saya yang juga melebar ke kanan dan ke kiri, saya tidak bisa tidak mengenang Sang Brahmacari. Beliau betul, dan beliau juga sadar. Dengan kesadaran itu, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa setelah menjawab pertanyaan konyol saya secara jujur, ia pun sudah pasti berhasil mengendalikan nafsu makannya. Ya, ia seorang Brahmacari!

 

BRAHMACARI JUGA BERARTI seorang yang kreatif, produktif cekatan, dinamis. Energi yang biasanya terboroskan dalam dan untuk kegiatan seks, tidak bisa tidak membuat seorang brahmacari menjadi kreatif sekaligus produktif. Dinamis dan efisien. Cepat dan tepat.

Tidak semua brahmacari mesti menjadi pemandu rohani. Tidak. Setidaknya saya pernah bertemu dengan dua orang besar, politisi besar India, kedua-duanya brahmacari. Yang pertama adalah Mantan Perdana Menteri Atal Bihari Vajpayee (13 hari pada 1996, kemudian 1998-2004).

Yang kedua adalah Mantan Presiden India, Dr. A. P. J. Abdul Kalam (2002—2007), yang bahkan adalah seorang ilmuwan, seorang saintis, ahli fisika nuklir.

Mereka berdua akan dikenang sepanjang masa sebagai negarawan. Keduanya brahmacari tulen, sejak lahir.

Intinya, seorang brahmacari bisa berprofesi sebagai apa saja dan menjalankan Yama Brahmacari-nya dengan penuh kesadaran serta kemauan diri—bukan karena paksaan; bukan karena kepercayaan, dan sebagainya.

Sengaja saya pilih kedua nama tersebut untuk menunjukkan bahwa dua orang dengan latar belakang kepercayaan yang berbeda dapat melakoni brahmacarya sebagai sikap hidup, dan bukan karena kepercayaannya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s