Menghormati Ibu, Ayah dan Guru Menurut Gita dan Leluhur Kita

14212639_736710329801104_7407610158444086230_n

Sri Krishna dalam Bhagavad Gita 3:19 menyampaikan bahwa sebelum kita mencapai kesadaran “tersebut”, kita perlu menjalankan tugas di dunia dengan baik tanpa keterikatan.

Tugas dan kewajiban kita bukanlah terhadap keluarga saja. Dan, keluarga bukanlah pasangan dan anak-anak kita saja. Bagaimana dengan ayah dan ibu? Mereka melahirkan kita. Kita berhutang budi pada mereka., bukan saja untuk melahirkan, tetapi untuk membesarkan kita. Merawat kita ketika kita masih bayi, masih tidak berdaya. Tapi sayang beribu-ribu kali sayang, apa yang kita lakukan terhadap orangtua kita? Kita menitipkan mereka di Panti Wreda. Atau, membiarkan mereka hidup merana di salah satu pojok rumah.

Kita pun berkewajiban terhadap masyarakat, lingkungan – termasuk sekolah, college, dan universitas tempat kita mengecap pendidikan. Tempat karakter kita dibentuk. (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Leluhur kita dalam Kitab Sara Samuccaya juga memberi nasehat yang sama, melaksanakan tugas dan kewajiban terhadap  orangtua yang melahirkan dan merawat kita serta terhadap Guru tempat kita belajar seperti disampaikan pada Kitab Sara Samuccaya 240-252 berikut:

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sara Samuccaya ayat 240

Seseorang yang menyakiti Guru, Ayah dan Ibu — bahkan sekalipun di dalam pikiran saja — melakukan kesalahan, dosa-kekhilafan, dengan tingkat yang lebih tinggi daripada menggugurkan janin atau membunuh.

 

Sara Samuccaya ayat 241

Ibu dan ayah — orang tua adalah pemberi badan, tubuh yang tidak kekal, tidak abadi. Seorang Pemandu (Guru) Spiritual memberi pelajaran yang mulia demi terjadinya peningkatan kesadaran, yang dapat mengantar kita pada tingkat keabadian.

 

Sara Samuccaya ayat 242

(Sebab itu) hendaknya seseorang selalu menghormati dan lebih dahulu menyapa dan menyalami para guru, baik mereka yang mengajarkan ilmu-ilmu duniawi, maupun yang mengajarkan pengetahuan sejati demi perkembangan Jiwa.

 

Sara Samuccaya ayat 243

Janganlah sekali-sekali bermaksud mengkhianati, mencelakai seorang guru. Jika dimarahi oleh guru, maka seorang murid mesti mencari tahu sebabnya dan mengubah dirinya, kesadarannya, supaya dapat menghibur dan menenangkan sang guru. (Amarah seorang guru, dalam hal ini, mesti dimaknai sebagai ungkapan kasihnya untuk menunjukkan kesalahan-kesalahan kita, supaya kita dapat memperbaikinya.)

 

Sara Samuccaya ayat 244

Hendaknya, seorang murid selalu bersikap sopan terhadap gurunya — kendati seorang guru terasa berada di jalur yang salah. Dengan menjelek-jelekkan seorang guru, seorang murid hanyalah mencelakakan dirinya saja. (Pengertian “jalur yang salah” di sini terkait dengan kesalahpahaman dan keterbatasan seorang murid memaknai setiap ucapan maupun tindakan gurunya.)

 

Sara Samuccaya ayat 245

Senantiasa bersikap suci bersih, melakoni nilai-nilai kebajikan atau dharma, dan kebenaran atau satya — hendaknya seseorang selalu melayani kedua orangtuanya dengan penuh khidmat serta kesetiaan.

 

Sara Samuccaya ayat 246

Ketabahan, Kesabaran, dan Pengorbanan seorang Ibu melebihi beratnya bumi ini; Pengayoman, Perlindungan, dan Perhatian seorang Ayah melebihi ketinggian dan keluasan langit. Kecepatan pikiran melebihi kecepatan angin. Sebab itu pikiran yang kacau, menyebabkan kekhawatiran yang sangat luar biasa yang jumlahnya melebihi rumput.

 

Sara Samuccaya ayat 247

Wahai Maharaja, dengan melayani dan menyenangkan kedua orang tua, seseorang tidak hanya menjadi tenar di dunia ini saja – di alam berikutnya pun ia dihormati, mendapatkan pujian.

 

Sara Samuccaya ayat 248

Adalah tiga orang yang patut dihormati sebagai ayah: yaitu, yang memberi badan ini, ayah kandung; seseorang yang menyelamatkan nyawa, termasuk dokter dan sebagainya; dan seseorang yang memberi pekerjaan, memberi nafkah (Sarirakrta, Pranadata, dan Annadata).

 

Sara Samuccaya ayat 249

Bagi seorang ayah, perilaku dan keberhasilan anaknya adalah yang paling, membanggakan dan membahagiakan. Maka, hendaknya seorang putra pun menempatkan kebahagiaan seorang ayah di atas segalanya. Dialah yang memberi badan dan memenuhi segala kebutuhannya semasa pertumbuhannya hingga ia beranjak dewasa.

 

Sara Samuccaya ayat 250

Seorang Ibu mengasuh, merawat, dan memelihara anaknya dengan penuh kasih. Seperti apa pun (kondisi) seorang anak — cacat, Iemah, kegemukan — tetaplah ia menjaga dan melindunginya, sebagaimana tiada orang lain yang dapat melakukannya.

 

Sara Samuccaya ayat 251

Seorang ayah, walau miskin, akan selalu menjaga, merawat, dan melindungi anak-anaknya. Apa yang dilakukannya itu tak tertandingi oleh apa saja yang kelak dapat dilakukan oleh anak-anaknya yang sudah dewasa.

 

Sara Samuccaya ayat 252

Seorang anak yang tetap berbakti kepada Ibunya, walaupun ia sendiri sudah berkeluarga — punya anak dan cucu — maka niscayalah ia diberkahi dengan usia panjang, dan memperoleh semua kenikmatan dalam alam berikutnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s