Sungguh Sulit Merasa Bersalah! Karena Tindakan yang Telah Terbiasa Kita Lakukan?

buku bhagavad gita anjing gila

Seekor anjing yang menggigit manusia kita anggap anjing gila – langsung diamankan. Kita membunuh, menyembelih, melahap sekian ekor binatang setiap tahun, adakah yang menganggap kita Super Gila?

Segala sesuatu yang telah menjadi kebiasaan masyarakat, kita terima sebagai hal yang biasa. Mind kita telah mengalami conditioning, mind kita telah terpengaruh oleh kebiasaan-kebiasaan yang kita lakukan. Pada saat kita mulai kritis, akan terasa banyak hal yang tidak sesuai dengan akal sehat kita, tetapi kita terlanjur terbiasa melakukannya. Sehingga terjadilah konflik diri.

Sungguh tidak mudah merasa diri kita bersalah, sekalipun atas perbuatan yang jelas-jelas menurut akal sehat adalah salah.

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 2:6 tentang kesulitan manusia untuk betul-betul merasa bersalah:

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Kita tidak tahu, apa yang menjadi pilihan terbaik bagi kita. Mana yang lebih baik, menaklukkan mereka, membunuh mereka; atau, tertaklukkan oleh mereka, terbunuh oleh mereka? Kita berhadapan dengan putra Paman Dhrtarastra, gairah hidup apa yang akan tersisa setelah membunuh mereka? Bhagavad Gita 2:6

 

Arjuna belum sadar akan urusan Dharma-Adharma. Ia masih melihat perang itu sebagai perang keluarga.

 

RASA BERSALAH – Guilty Conscience. Rasa bersalah adalah salah satu rasa yang baik, supaya kita tidak melakukan kesalahan yang sama.

Misalnya, seorang teroris merasa bersalah setelah melihat sekian banyak nyawa melayang karena ulahnya. Maka, ia insyaf, tersadarkan, dan tidak lagi mengulangi perbuatannya.

Banyak motivator mengatakan bahwa rasa bersalah melemahkan Jiwa manusia. Kita mesti memaafkan diri dan cepat-cepat keluar dari perasaan tersebut.

Dan, kita pun sering terperangah, “Iya, ya, aku mesti memaafkan diri.” Psikologi yang bersifat ilusif ini menciptakan ilusi baru, “ilusi rasa bersalah dan perlunya kita memaafkan diri.”

Kemudian, kita menghabiskan waktu untuk mengurusi rasa bersalah dan pemaafan diri selama berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun. Bahkan, ada yang sepanjang usia berupaya terus untuk meninggalkan rasa bersalah dan memaafkan diri. Pertanyaannya,

 

“APA IYA, SEDEMIKIAN GAMPANGKAH BAGI KITA UNTUK MERASA BERSALAH?” Tidak. Tidak semudah itu merasa diri kita bersalah, sekalipun atas perbuatan yang jelas-jelas adalah salah.

Dapatkah Anda membenarkan pembunuhan? Kemungkinan besar, jawaban Anda adalah “Tidak”. Lalu, bagaimana dengan penyembelihan hewan untuk disantap?

Setiap hewan memiliki predator. Ikan-ikan besar memakan ikan-ikan kecil. Anjing mengejar kucing. Kucing mengejar tikus, dan sebagainya, dan seterusnya. Binatang-binatang itu tidak membunuh jenis hewan yang bukan makanannya, mangsanya.

 

TAPI, MANUSIA! Apa saja dilahapnya. Seekor macan atau singa bisa melahap beberapa jenis binatang, tapi ia hanyalah memburu untuk mempertahankan hidupnya.

Daging yang membusuk pun disimpannya di gua dengan penyejuk alami sekedarnya. Ia tidak sekaligus menghabiskan hasil buruannya. Jika hasilnya adalah seorang berbadan besar dan gemuk seperti saya, maka boleh dipastikan, ia tidak akan memburu selama 1 bulan. Ia hanya memburu ketika merasa lapar lagi.

 

TAPI, LAIN MACAN, LAIN MANUSIA – Disuguhi daging kesenangan kita, entah “mentah”, atau sudah dimasak – dalam keadaan kenyang pun kita tetap saja melahapnya. Siapa yang lebih rakus, lebih serakah dari manusia? Kita memang champion di dalam hal itu.

Seekor anjing menggigit manusia, dan kita menganggapnya anjing gila – langsung diamankan. Kita membunuh, menyembelih, melahap sekian ekor binatang setiap tahun, dari tahun ke tahun, adakah yang menganggap kita Super Gila? Adakah yang berani mengamankan kita? Merasa bersalah???

 

SEORANG TERORIS BERJUJUR CERITA bila dirinya sudah pernah membunuh sekian banyak orang. Saya bertanya, apa yang kau rasakan saat itu? Bagaimana perasaanmu melihat mereka berlumuran darah?

Ia menjawab dengan nada datar, “Biasa-biasa saja. Perasaanku sama seperti saat menyembelih kambing, domba, ayam, dan sebagainya.”

Rasa bersalah? Hari ini menyembelih binatang, merasa tidak bersalah. Besok menyembelih sesama manusia, kemungkinan tidak merasa bersalah pula.

Lalu, merasa bersalah yang lebih parah apa lagi? Separah apa? Persoalan kita bukanlah “kelemahan diri dalam hal perasaan bersalah.” Kita justru nyaris tidak pernah merasa bersalah.

 

ADA ORANG MENGHANCURKAN KITA, ADA KELOMPOK MENGHANCURKAN PERADABAN membunuh karakter-budaya yang menjadi identitas suatu bangsa. Merasa bersalah? Tidak juga.

Dan, karena tidak pernah merasa bersalah, maka kita mengulangi terus kesalahan-kesalahan yang sama. Para teroris tetap menyebarkan teror, membunuh. Negara-negara yang disebut beradab, tetap saja melakukan infiltrasi, dan melakukan intervensi dalam persoalan dalam negeri negara berdaulat lainnya, menyebabkan kekacauan, bahkan pembunuhan massal, perang saudara, dan sebagainya. Merasa bersalah? Tidak juga.

 

SULIT BAGI MANUSIA UNTUK BETUL-BETUL MERASA BERSALAH. Maka, ia selalu mengulangi kesalahan-kesalahannya. Jika ia betul-betul menyadari kesalahannya, maka tidak terjadi pengulangan.

Bangsa yang tidak menyadari kesalahannya, maka dia akan menggadaikan budayanya untuk meniru budaya asing yang belum tentu cocok dengan karakteristik bangsanya. Negara yang tidak menyadari kesalahannya pun demikian. Tidak ada yang merasa bersalah atas nasib planet ini yang makin hari makin panas.

 

TIDAK, PERSOALANNYA BUKANLAH RASA BERSALAH, Arjuna tidak merasa bersalah. Ia sekadar menutupi rasa takutnya dalam pembungkus rasa bersalah.

Namun, terlepas dari itu – ada kejujuran dalam diri Arjuna, maka ia bertanya, ia memohon.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s