Mencuri dalam Berbagai Kemasan Zaman menurut Patanjali, Gita dan Leluhur Nusantara

buku dvipantara yoga sastra anak smp menyontek

Zaman telah berubah, kemajuan zaman telah mengubah kehidupan manusia, akan tetapi sifat dasar manusia yang masih membawa insting hewani dalam dirinya belum banyak berubah. Oleh karena itu Kitab Yoga Sutra Patanjali di abad 12 yang dipopulerkan Svami Vivekananda pada akhir abad 19, yang saat ini dijelaskan secara detail oleh Bapak Anand Krishna masih sangat relevan sekali dengan keadaan manusia masa kini. Yang artinya sifat manusia tidak banyak berubah, ego, keserakahan, iri, dengki masih muncul hanya dalam kemasan zaman yang berbeda.

Bukan hanya Yoga Sutra Patanjali, bahkan nasehat Sri Krishna kepada Arjuna lewat Bhagavad Gita pada saat perang Bharatayuda di Zaman Dvpara Yuga pun masih valid dengan sifat manusia kini.

Leluhur kita di abad 8 juga menulis kitab yang lebih spesifik tentang sifat-sifat manusia Nusantara yang nampaknya belum banyak mengalami perubahan juga.

Silakan baca pandangan ketiga kitab tersebut perihal Asteya (jangan mencuri) di bawah ini:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

YAMA KETIGA: ASTEYA, TIDAK MENCURI—pun berarti tidak merampas hak orang, tidak menyalahgunakan wewenang, tidak mengkhianati amanah.

Bahkan dalam Bhagavad Gita jelas sekali bahwasanya seseorang yang menikmati segala berkah dari keberadaan, tanpa berbagi dengan mereka yang kurang beruntung, adalah maling. Nah Iho!

Asteya adalah salah satu di antara beberapa pedoman yang dititikberatkan pula oleh Krsna dalam Bhagavad Gita. Berniat jahat terhadap kepemilikan seseorang pun—yang biasa dikategorikan sebagai rasa iri atau cemburu—sesungguhnya adalah tindakan mencuri.

Rasa Iri dan Cemburu adalah benih-benih, yang ketika bertunas melahirkan para maling; para koruptor; orang-orang yang bermoral bejat; mereka yang mengira dapat me-laundry dosa-dosa mereka dengan cara menyedekahkan sebagian dari penghasilan haram mereka.

Berwaspadalah selalu terhadap kekacauan pikiran serta perasaan. Janganlah sekali-kali terbawa oleh mereka. Penjarahan adalah penjarahan, pencurian adalah pencurian. Mau disembunyikan di balik pembungkus serapi atau seindah apa pun, setiap orang tetap harus mempertanggungjawabkan setiap perbuatannya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Tentang Asteya (tidak mencuri)

  1. Patanjali menyebutkan bahwa Asteya (tidak mencuri) adalah salah satu 5 Yama atau atau Pedoman untuk Disiplin-Diri, untuk Pengendalian-Diri seperti penjelasan di ataas.
  2. Bhagavad Gita 3:12 menyampaikan: “……….kau memperoleh segala kenikmatan dari mereka, sekalipun tanpa meminta. Sesungguhnya, ia yang menikmati segala pemberian alam tanpa merawat dan melestarikannya kembali dengan semangat manembah yang sama, adalah seorang maling.”
  3. Leluhur kita menyampaikan hal yang lebih detail dalam kitab Vrati Sasana tentang delapan jenis pencuri. Mungkin leluhur kita paham bahwa kita termasuk yang agak “permisif” dan kurang tegas dalam hal kriteria pencurian. Apakah sampai saat ini kita masih permisif atau tambah permisif, silakan renungkan dalam-dalam.

Berikut adalah Delapan jenis Pencuri yang disebutkan dalam Kitab Vrati Sasana Sloka 30

  1. Kartā atau Ia yang Melakukan Pencurian;
  2. Kārayitā atau Ia yang Memerintahkan Pencurian, ia yang memberi gagasan dan menyemangati seseorang untuk mencuri;
  3. Bhoktā atau Ia yang Menikmati Barang Curian serta ia yang memberi makanan pada pencuri;
  4. Nirdeṣṭā atau Ia yang secara Langsung atau Tidak Langsung Mendukung Pencuri atau Pencurian;
  5. Sthānadeśaka atau Ia yang Membantu Pencuri dengan Menunjukkan Jalan, serta memberikan Tempat Bernaung;
  6. Trātā atau Ia yang menjadi Rekan Pencuri;
  7. Jñātā atau Ia yang Menyediakan Informasi kepada Pencuri, yang dapat membantu si pencuri beraksi atau dengan kata lain, informan bagi si pencuri; dan,
  8. Guptā atau Ia yang Menyembunyikan Pencuri;

 

Seseorang hendaknya senantiasa menghindari tindakan-tindakan tersebut, yang bisa membuatnya melanggar sumpah Asteya atau Tidak Mencuri.

 

KEDUA KRITERIA PERTAMA CUKUP JELAS, namun kriteria ketiga patut direnungkan…..

Bhokta, ia yang menikmati hasil dari pencurian, tidak peduli siapa pun yang mencuri. Ini adalah arti pertama dari Bhokta. Dengan kata lain, mengetahui bahwa seseorang mendapatkan penghasilan dengan cara-cara yang tidak bajik dan menikmati bahkan secuil dari penghasilan tersebut yang diberikan sebagai hadiah atau sumbangan, membuat kita menerima “penghargaan untuk disebut sebagai seorang pencuri”. Apakah kita menghargai penghargaan, pengakuan semacam itu?

Anak-anak yang dibesarkan dengan uang yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak bajik, akan tumbuh untuk mengikuti jalan ketidakbajikan. Uang, harta adalah energi; dan keadaan mental dari ia yang menghasilkannya memengaruhi kualitas harta tersebut. Oleh karena itu, seseorang haruslah senantiasa berhati-hati saat menerirna hadiah dan sumbangan yang mungkin terlihat “tidak berbahaya”.

 

ARTI LAIN DARI BHOKTA adalah “Ia yang memberikan makanan kepada seorang pencuri”. Dengan MELAKUKAN HAL TERSEBUT, sesungguhnya kita memelihara orang tersebut, pencuri tersebut, termasuk sifat-sifat negatifnya, kualitas-kualitas jahat dalam dirinya.

Secara ringkas, nasihat sang resi adalah untuk menghindari pencuri dan pencurian dalam segala bentuk. Ini adalah anjuran untuk senantiasa berpegang teguh pada prinsip Asteya atau Tidak Mencuri.

Di sini tidak akan keluar konteks jika kita menyebut tentang salah satu bentuk pencurian,yang hendaknya tidak pernah dilakukan siapa pun. Sri Krsna bersabda dalam Bhagavad Gita bahwa, “Ia yang hanya peduli dengan dirinya sendiri, ia yang mencari uang untuk dirinya dan tidak berbagi penghasilannya dengan mereka yang kurang beruntung — sesungguhnya adalah seorang pencuri.”

 

DENGAN KATA LAIN, TIDAK BERBAGI BERKAH adalah suatu tindakan pencurian. Menjadi kikir adalah sama saja  dengan menjadi seorang pencuri. Menumpuk harta demi keuntungan pribadi adalah sama saja dengan mencuri.

Apa yang engkau dapat, kau mendapatkannya dari dunia ini. Apa pun yang engkau peroleh, engkau memperolehnya dari sesama manusia. Oleh karena itu, adalah wajib bahwa kau menyisihkan penghasilanmu demi kesejahteraan sesama manusia, demi kemajuan masyarakat,” demikian Master saya senantiasa mengingatkan kita.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s