Badan dan Indra Selalu Menagih Ulang Rangsangan yang Dinikmatinya! Ajal Tidak menghentikannya?

buku bhagavad gita budak putri nafsu

Pertemuan dengan seseorang yang sudah bebas dari ketertarikan maupun ketidaktertarikan pada objek-objek duniawi, adalah berkah yang sungguh sangat langka. Bertemu dengan Pemandu seperti itu menjamin kita tidak akan pernah tersesat dalam perjalanan. Tentu, dengan catatan bila kita mengindahkan panduannya.

“Sekali melayani satu indra saja, maka tak henti-henti setiap indra menagih sesuatu, menagih terus. Ketertarikan terjadi pada level citta, benih pikiran dan perasaan. Jika dilayani, akan mengkristal menjadi keterikatan pada level manah atau mind, gugusan pikiran dan perasaan.” Demikian Penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.37

Badan dan indra selalu menagih pengulangan atas rangsangan-rangsangan yang dinikmatinya, sehingga Jiwa Individu pun terjebak dalam kejar-mengejar. Ia menjadi budak badan dan indra. Ia menjadi pelayan mereka. Demikian, jika tuntutan-tuntutan indra tidak terpenuhi, masih terasa — umumnya selalu demikian — maka setelah meninggalkan badan yang sudah tidak berguna, rusak, mati, Jiwa mencari badan Iain, seperangkat indra lain untuk memenuhi hasratnya untuk mengalami pengalaman-pengalaman yang sama. Sesuai dengan pengalaman yang dikehendakinya, Jiwa memilih rahim seorang perempuan yang sesuai dengan hasrat yang dimilikinya.

Silakan simak penjelasan lengkap Bhagavad Gita 13:21 tentang jiwa yang memilih rahim ibu yang sesuai dengan hasratnya.

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Purusa atau Gugusan Jiwa yang berinteraksi dengan Prakrti dan segala sifat kebendaannya, mengalami berbagai pengalaman sebagai hasil interaksi. Interaksi ini pula yang kemudian menjadi sebab kelahiran Jiwa lewat rahim yang baik atau tidak baik.” Bhagavad Gita 13:21

 

Sebagian orang menganggap pria sebagai bibit, benih, pembuah — dan rahim perempuan sebagai lahan saja. Mereka beranggapan bila yang penting adalah jenis bibitnya. Krsna mengatakan bahwa,

 

PRIA DAN WANITA SAMA PENTINGNYA – Bibit seunggul apa pun, jika ditaburkan, ditanam di lahan yang tidak subur atau kurang baik – maka hasilnya kurang baik pula.

Baik kualitas sperma, maupun sel telur — dua-duanya penting. Karena dua-duanya saling menunjang dan saling melengkapi demi kelahiran baru.

Pemahaman umum selama ini, ialah, bila. ..

 

PRAKRTI ADALAH FEMININ, PEREMPUAN DAN PURUSA ADALAH MASKULIN, PRIA… Dalam hal ini, kepriaan pria tidak membuatnya lebih unggul dari perempuan. Pun, sebaliknya keperempuanan perempuan tidak membuatnya lebih superior.

Demi terjadinya kelahiran, penciptaan — maskulin dan feminin, dua-duanya dibutuhkan. Dua-duanya penting, dan sama pentingnya.

Kembali pada ayat. ..

 

INTERAKSI ANTARA PURUSA DAN PRAKRTI menyebabkan Gugusan Jiwa atau Purusa mengalami segala macam pengalaman kebendaan, yang memiliki 3 guna, atau 3 sifat utama, yaitu Sattva yang tenang, Rajas penuh gairah, dan Tamas yang malas. Tentang hal ini, kita akan mendapatkan penjelasan yang lebih rinci dalam percakapan selanjutnya.

Sementara, dari Purusa atau Gugusan Jiwa, kita beralih ke Jivatma atau Jiwa Individu, beralih kepada ‘diri’ kita masing-masing….

Interaksi antara Prakrti atau Alam Benda dengan Purusa atau Gugusan Jiwa, menyebabkan sebagian besar Jiwa Individu atau percikan-percikan Purusa terikat dengan pengalaman-pengalaman yang merangsang badan, indra, dan sebagainya. Kemudian, badan, indra, bahkan gugusan pikiran dan perasaan atau mind akan menagih pengalaman-pengalaman serupa. Jiwa pun terbawa oleh tuntutan mereka.

Seandainya semua tuntutan terpenuhi dalam satu masa kehidupan, dan tidak ada tuntutan lain, tidak ada keterikatan lain, tidak pula ada ketertarikan lain — maka tidak ada alasan bagi Jiwa Individu untuk berinteraksi terus dengan Prakrti atau Alam Benda.

Umumya tidak demikian.

Badan dan indra selalu menagih pengulangan atas…..

 

RANGSANGAN-RANGSANGAN YANG DINIKMATINYA, sehingga Jiwa Individu pun terjebak dalam kejar-mengejar. Ia menjadi budak badan dan indra. Ia menjadi pelayan mereka. Sebab, saat badan dan indra menikmati suatu rangsangan atau sensasi, sesungguhnya rasa nikmat itu sendiri terasa oleh Jiwa. Jiwa me-“rasa”-kan berbagai pengalaman hasil interaksi tersebut.

Demikian, jika tuntutan-tuntutan indra tidak terpenuhi, masih terasa — umumnya selalu demikian — maka setelah meninggalkan badan yang sudah tidak berguna, rusak, mati, Jiwa mencari badan Iain, seperangkat indra lain untuk memenuhi hasratnya untuk mengalami pengalaman-pengalaman yang sama.

Sesuai dengan pengalaman yang dikehendakinya, Jiwa memilih…

 

RAHIM SEORANG PEREMPUAN yang bersifat tenang, agresif, atau malas. Adakalanya, seorang perempuan yang tampak tenang dan sabar— sesungguhnya tidaklah tenang maupun sabar. Ia terpaksa menenang-neangkan dan menyabar-nyabarkan diri karena “takut” — maka rahimnya bukanlah lahan tenang dan sabar — rahimnya adalah lahan yang tercemar berat oleh rasa takut.

Sering juga rahim seperti itu tercemar oleh virus-virus dendam, benci dan sebagainya berdasarkan “pengalaman pemilik rahim” yang membuatnya berada dalam keadaan yang mencekam. Inilah rahim-rahim yang disebut tidak mulia.

 

JIWA YANG “LAHIR” lewat rahim seperti itu adalah Jiwa yang memang sudah berada dalam jangkauan frekuensinya. Ia memang sedang mengejar pengalaman-pengalaman seperti itu, maka ia tertarik dengan rahim tersebut.

Jiwa yang tenang ingin meningkatkan ketenangannya akan mencari rahim seorang wanita yang sungguh-sungguh tenang, walau, dalam keseharian hidunya, wanita tersebut tampak sangat aktif. Pun demikian dengan Jiwa yang sedang mencari, mengejar pengalaman-pengalaman yang dinamis, ia akan mencari rahim seorang ibu yang bersifat dinamis pula.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s