Pengulangan Om Secara Terus-Menerus Mengatasi Segala Rintangan

buku yoga sutra patanjali om suara matahari

“Om adalah password tunggal; baik untuk memasuki alam benda, maupun keluar dari alam benda. Bahwasanya password ini dibuka bagi setiap orang – adalah merupakan kemurahan hati Gusti Pangeran. Ini adalah berkah-Nya. Ada password, tapi password ini tidak dirahasiakan – silakan memakainya! Siapa pun kita, dengan latar belakang tradisi apa pun – password ini tidak berkurang manfaatnya. Luar biasa!

“Sekarang, tinggal keyakinan kita yang dibutuhkan. Karena, password ini mesti disertai keyakinan. Keyakinan adalah energi yang mengaktifkan password ini. Komputer-komputer pribadi sudah makin canggih, menggunakan cara-cara identifikasi dengan jari, wajah, suara, retina – tapi belum menggunakan pikiran, perasaan, apalagi niat!

“OM + NIAT YANG KUAT. Nah, untuk memunculkan niat yang kuat itu, kita mesti memiliki keyakinan yang luar biasa. Tanpa keyakinan tiada sesuatu yang dapat terjadi.” Penjelasan Bhagavad Gita 8:13

Demikian penjelasan Bhagavad Gita dan berikut penjelasan Om untuk meraih tujuan seperti dijelaskan dalam Yoga Sutra Patanjali I.28-29-30 berikut:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Dengan mengulangi-Nya (Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang meraih atau merealisasi makna utau tujuannya.” Yoga Sutra Patanjali I.28

Kiranya apa yang menjadi tujuan Anda ketika Anda memanggil nama saya? Atau sebaliknya, apa yang menjadi tujuan saya, jika memanggil nama Anda? Sekarang, bagaimana jika kita menggunakan rumusan yang sama pada penyebutan, atau

PENGULANGAN OM ATAU AUM SECARA TERUS-MENERUS? Dan kita tahu bahwa Om atau Aum adalah Ekspresi atau Ungkapan Verbal-Nya. Dalam pengertian, Inilah Nama-Nya!

Patanjali ingin mengingatkan kita bahwa dengan mengulangi Nama-Nya secara terus-menerus, kita tidak hanya menyapa dan menyadari hakikat-Nya, tetapi juga menyapa dan menyadari hakikat diri kita sendiri—hakikat kita sebagai Jiwa, yang sesungguhnya tak terpisahkan dari Sang Jiwa Agung.

Sutra ini bisa dimaknai dengan berbagai cara: Taj Japah berarti “Mengulangi-Nya”. Tad Artha berarti “Makna, Arti, atau Tujuan-Nya”. Terakhir, Bhavanam berarti “Menjadi, Mewujud, atau Merealisasi”.

Secara esoteris, makna yang lebih dalam lagi: Dengan mengulangi-nya (mengulangi Om atau Aum) secara terus-menerus, seseorang tidak sekadar merealisasikan makna-Nya, tetapi “menjadi-Nya”. Bagi mereka yang telah mengenal prinsip kemanunggalan, bagi mereka yang percaya pada prinsip tersebut, tentu tidak menjadi masalah. Namun, bagi mereka yang berprinsip dualitas, di mana matahari, cahaya, dan/atau sinarnya dianggap terpisah, maka makna terakhir ini agak sulit untuk dicerna. Tidak menjadi soal.

JIKA KITA MASIH BERPIHAK PADA PAHAM DUALITAS, maka kita dapat pula memaknai sutra ini sebagai berikut.

“Dengan mengulangi Om secara terus-menerus kita meraih tujuan dari pengulangan tersebut.” Nah, sekarang kembali pada diri kita sendiri, apa yang menjadi tujuan kita?

Jika kita tetap bertujuan untuk berpisah dari-Nya, tujuan itu yang tercapai. Jika tujuan kita adalah kemanunggalan, kemanunggalanlah yang kita realisasi.

 

“Demikian, seseorang meraih Pratyak Cetana atau Kesadaran Jiwa, dan segala rintangan (untuk mencapainya) teratasi.” Yoga Sutra Patanjali I.29

Dengan mencapai Kesadaran Jiwa, maka tiada lagi kebingungan tentang jati diri, tentang kesejatian diri kita sebagai Jiwa yang Tak Terpisahkan dari Jiwa Agung.

 

 

“Rintangan-rintangan yang mengacaukan citta atau benih-pikiran adalah Vyadhi atau Penyakit; Styana atau Ketumpulan (Mental); Samsaya atau Kebimbangan, Keragu-raguan; Pramada atau Sifat Tidak Peduli, Kecerobohan yang muncul dari ego, mementingkan diri sendiri saja; Alasya atau Kemalasan; Avirati atau Keterlibatan dengan segala Kenikmatan Indra; Bhranti-Dharsana atau Pandangan yang Terkondisi/Salah, Kebingungan, Ilusi; Alabdha-Bhumikatva atau Tidak Membumi, tidak Realistis; dan Anavasthitatvani atau Ketidakstabilan.” Yoga Sutra Patanjali I.30

Itulah daftar panjang rintangan yang dihadapi setiap sadhaka, setiap pelaku spiritual. Bahkan, sesungguhnya dalam keseharian hidup pun, rintangan-rintangan seperti itu selalu muncul. Dalam hal ini, adalah sangat penting bahwa kita memahami maksud PatanjaIi.

SETIAP RINTANGAN TERSEBUT ADALAH TERKAIT DENGAN DIRI KITA SENDlRl. Berarti, tiada satu pun rintangan berarti dari luar diri. Tiada satu pun rintangan yang disebabkan oleh keadaan di luar.

Ya, kadang keadaan menguntungkan. Jalan kita mulus. Kadang, keadaan tidak menguntungkan, dan kesadaran-diri pun mesti menghadapi “tantangan” off-road. Bagi Patanjali, tantangan-tantangan eksternal tersebut tidak bisa disebut tantangan. Tantangan eksternal relatif mudah dihadapi. Adalah rintangan-rintangan yang disebabkan oleh diri kita sendiri yang agak sulit diatasi. Unluk itu solusi yang ditawarkan oleh Patanjali, barangkali terdengar terlalu simplistic, sangat sederhana.

“MASA IYA, DENGAN PENGULANGAN OM SAJA SEMUA ITU BISA TERATASI?” Bisa, sangat bisa. Bahkan, tiada solusi lain.

Ingat, Patanjali adalah seorang Saintis Jiwa. Ia tidak Asbun—tidak Asal Bunyi, tidak Asal Bicara. Solusi yang ditawarkan pun sangat ilmiah.

Om atau Resonansi yang tercipta dengan mengulangi Om secara terus-menerus dapat menyelaraskan lapisan-lapisan kesadaran kita dengan semesta. Pun, elemen-elemen di dalam tubuh ikut terselaraskan dengan elemen-elernen alam. Bayangkan, renungkan apa yang terjadi saat itu? Kita mendapatkan tambahan kekuatan dari semesta. Energi kita, kemampuan kita berlipat ganda dalam sekejap!

Selain itu, segala sesuatu di dalam alam ini, bahkan alam semesta ini terungkap, terciptakan dari Suara Awal. Jadi, tak terbayangkan betapa dahsyat resonansi Suara Awal tersebut. Tak terbayangkan betapa Kreatif Suara Awal tersebut sehingga dampak dari resonansi awal itu masih tetap terasa, masih tetap menciptakan galaksi-galaksi baru!

Maka, tidaklah keliru jika Patanjali menganjurkan pemanfaatan resonansi dari Om. Cobalah, dan buktikan sendiri!

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s