Renungan Gita: Menghadapi Medan Laga Kehidupan

buku bhagavad gita medan laga perjalanan hidup

Kendaraan kita memiliki Sepuluh Indra untuk Berkegiatan dan Persepsi; ditambah dengan Ego, Intelek, Gugusan Pikiran serta Perasaan, Harapan, dan lain-lain. NAH, DI LUAR SANA – di Jalan Raya Kehidupan, di Jalan Penuh Tantangan, ada Lima Objek Pemicu Indra: Warna, Aroma, Rasa, Suara dan Sentuhan. Jika indra kita terpicu, tergoda oleh setiap pemicu di luar – kita tidak bisa melangkah maju. Kendaraan kita berhenti di tempat. Tidak maju-maju.

Banyak tempat peristirahatan dalam perjalanan hidup ini. Jika kita beristirahat di setiap tempat – kapan bisa sampai tujuan? Jika kita terbawa oleh  setiap godaan, setiap pemicu di luar, maka kita akan merepotkan hidup kita sendiri. Sebab itu Krsna mengajak Arjuna untuk menguasai medan laga, memahami kinerja indra dan lain-lain, supaya bisa berlaga secara efisien!

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 13:5-6 tentang medan laga kehidupan berikut:

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

 “Lima elemen (Air, Api, Tanah, Angin, dan Eter atau Substansi Ruang); Ego atau Kesadaran ‘aku’, ke-‘aku’-an; Intelek; dan Materi lain yang masih belum bermanifestasi (antara lain: obsesi, harapan, impian dan sebagainya); sepuluh indra kegiatan dan persepsi (Mata, Hidung, Mulut, Telinga, dan Kulit; Penglihatan, Penciuman, Pengecapan, Pendengaran, dan Persentuhan); Gugusan Pikiran serta Perasaan (Mind);”

“Pun Keinginan, Kebencian, Suka, Duka; Hubungan dan Pergaulan, Kesadaran Dasar, Keteguhan; semuanya itu, dengan segala keberagamannya, disebut ksetra.” Bhagavad Gita 13:5-6

 

Inilah alat-alat yang kita miliki untuk bermain di ksetra, medan laga kehidupan. Inilah peta medan, ksetra, secara singkat. Namun, sesingkat-singkatnya penjelasan ini, sesungguhnya sudah lengkap.

Misalnya; ketika Krsna menyebut materi yang masih belum bermanifestasi, Avyakta – Maka segala macam harapan, impian, obsesi, angan-angan semuanya ada di dalamnya. Semua ini adalah bagian dari ksetra.

Pengetahun tentang medan ini penting sekali, sebagaimana pengetahuan tentang kendaraan sangat penting bagi pengendara.

 

BISA SAJA KITA MENGGUNAKAN KENDARAAN TANPA PENGETAHUAN YANG MEMADAI – Namun, ketika kendaraan itu mogok di jalan, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Kita mesti mencari montir.. dan, jika montir itu tidak ahli, tidak pernah menangani jenis kendaraan kita – maka bukannya memperbaiki, ia malah akan merusaknya.

Setidaknya pengetahuan dasar tentang kendaraan sangat penting. Tentu untuk pemeriksaan berkala dan pekerjaan berat lainnya, kita masih tetap membutuhkan service station dengan segala perlengkapannya, dan para ahli yang tahu persis tentang jenis kendaraan kita.

 

SERVICE STATION ITU ADALAH SANGHA Ashram atau Padepokan Spiritual. Para Fasilitator di sana adalah para montir. Kepalanya adalah Sadguru, Pemandu Rohani yang sudah bisa bahas perannya dalam beberapa buku terdahulu, termasuk “Sanyas Dharma” dan “Alpha Omega Spiritualitas”.

Kendaraan kita memiliki Sepuluh Indra untuk Berkegiatan dan Persepsi; ditambah dengan Ego, Intelek, Gugusan Pikiran serta Perasaan, Harapan, dan lain-lain.

 

NAH, DI LUAR SANA – di Jalan Raya Kehidupan, di Jalan Penuh Tantangan, ada Lima Objek Pemicu Indra: Warna, Aroma, Rasa, Suara dan Sentuhan.

Jika indra kita terpicu, tergoda oleh setiap pemicu di luar – kita tidak bisa melangkah maju. Kendaraan kita berhenti di tempat. Tidak maju-maju.

Banyak tempat peristirahatan dalam perjalanan hidup ini. Jika kita beristirahat di setiap tempat – kapan bisa sampai tujuan? Jika kita terbawa oleh  setiap godaan, setiap pemicu di luar, maka kita akan merepotkan hidup kita sendiri.

Sebab itu Krsna mengajak Arjuna untuk menguasai medan laga, memahami kinerja indra dan lain-lain, supaya bisa berlaga secara efisien!

“Tidak sombong, tidak munafik, tanpa kekerasan, kesabaran, kebajikan; pelayanan pada Guru; kemurnian atau kebersihan luar dan dalam diri; keteguhan hati dan pengendalian diri;”

“Tidak tergoda oleh pemicu-pemicu indra; tanpa ego, dan perenungan pada penderitaan kelahiran, kematian, masa tua dan penyakit;”

“Tanpa keterikatan dan tidak bergantung pada anak, pendamping, hunian dan lain sebagainya; keseimbangandiri dalam keadaan yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan;”

“Pengabdian pada-Ku tanpa keraguan, dan dalam kesadaran kemanunggalan Yoga; senang bepergian ke tempat-tempat yang tenang dan suci; tidak menikmati persahabatan dengan mereka yang bersifat duniawi;”

“Senantiasa berkesadaran Jiwa, dan menyadari Kebenaran Hakiki sebagai tujuan tunggal segala pengetahuan, semuanya ini disebut Pengetahuan Sejati, segala hal selain ini adalah kebodohan.” Bhagavad Gita 13:7-11

 

Setiap butir kebijaksanaan luhur di atas adalah dalam bentuk tindakan, bukan pengetahuan belaka.sementara itu, kita menerjemahkan pengetahuan sebagai informasi yang diperoleh dari bacaan, studi atau paling banter dari pengalaman hidup, yang diperoleh secara acak dan kebetulan.

 

BAGI KRSNA, SEMUA ITU BELUM “PENGETAHUAN” – Bagi Krsna, kita tidak menjadi “berpengetahuan” karena gelar yang kita peroleh, atau karena kita seorang kutu buku dan senang mengoleksi informasi.

“Bagi Krsna, pengetahuan sejati adalah tindakan, upaya yang sungguh-sungguh. Bukan sekadar tahu tentang ego, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Bukan sekadar tahu tentang indra, tetapi pengendaliannya dan mengendalikannya. Pun demikian dengan badan, pikiran, perasaan, intelek, dan lainnya.

Pengetahuan sejati bagi Krsna, adalah suatu keadaan di mana…….

 

SEORANG YANG BERPENGETAHUAN TIDAK TERPICU, tidak tergoda oleh hal-hal luaran. Ia tidak tertipu oleh dualitas.

Ia menyelami hidupnya dengan semangat “all is one” – semua satu adanya. Ia tidak membedakan kepentingan diri dan keluarga dari kepentingan umum.

Di atas segalanya, walau sudah mencapai kemanunggalan seperti itu, ia tetap rendah hati, tidak sombong. Ia sadar betul selama masih berbadan, setiap orang dapat tergoda oleh pemicu-pemicu di luar diri. sebab itu, ia pun senantiasa eling, waspada, hati-hati dalam hal menentukan tempat tinggal, tempat kerja, profesi, karier, pergaulan, dan sebagainya dan seterusnya.

Ia tidak munafik. Ia jujur. Ia tahu persis bila tuntutan daging bisa saja menyeret dirinya ke ‘bawah’ – maka ia tidak pernah membanggakan diri sebagai orang yang ‘sudah berkesadaran, sudah cerah, sudah bisa mengakses dirinya yang terdalam, sudah menemukan jati dirinya.’

Ia tahu persis semuanya itu adalah keadaan yang  mesti dirawat, dijaga, dan dilestarikan. Ia bekerja keras, berupaya sungguh-sungguh, untuk ‘menjaga diri’ dan menjaga kesadaran diri.”

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s