Guru Charanam: Menjadi Rendah Hati, Bersujud dan Berserah pada Kehendak Ilahi

“Guru adalah Ia yang menghilangkan kegelapan yang disebabkan oleh ketidaksadaran, yang timbul dari keterikatan badaniah. Badan, wujud, tak lain hanyalah alat. Tuhan memberimu wujud untuk bertindak, bekerja. Wujud ini adalah anugerah Tuhan….. Wujud adalah kuil dan penghuninya adalah Tuhan! Perlakukanlah setiap wujud sebagai kuil Tuhan dan berikan penghormatanmu. Hormatilah bahkan musuh-musuhmu…. Hormat yang kau berikan, dan celaan yang kau lontarkan — dua-duanya diterima Tuhan.” Sri Sathya Sai Baba. Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Silakan ikuti penjelasan Guru Charanam berikut:

buku Sai_Anand_Gita

Buku Sai Anand Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

 

Guru Charanam – secara harfiah berarti “kaki sang Guru” — ini adalah ajakan untuk menjadi rendah hati, untuk bersujud dan berserah pada kehendak Ilahi.

Guru, Tuhan, Keilahian, Ilahi… Apakah Guru, siapakah Guru itu? Atau tepatnya, siapa yang bisa disebut seorang Guru?

 

GURU – MEMAKNAI KEMBALI

Di samping pengertian tradisional sebagai “penghapus kegelapan akibat ketidaksadaran”, Swami juga mendefinisikan Guru sebagai Ia yang Gunatita dan Rupatita — yaitu Ia yang sudah melampaui Guna atau sifat, dan Rupa atau bentuk, wujud.

Namun, tidak berarti seorang Guru harus tak bersifat atau tak berbentuk, tak berwujud. Sifat atau kualitas tetap ada, begitu pula bentuk, wujud – namun dia sudah melampauinya, tak terpengaruh olehnya.

Selama masih hidup, kita tidak akan pernah bisa tanpa sifat dan tanpa wujud, tanpa badan. Itu tidak mungkin. Tapi, ya kita bisa melampauinya — dalam pengertian kita dapat melampaui keduanya dan tetap tidak terpengaruh. Kita bisa berada dalam keadaan di mana kita tidak terpengaruh oleh bentuk wujud dan sifat.

Dalam Bhagavad Gita, Sri Krishna berkata bahwa semua makhluk hidup dipengaruhi oleh 3 sifat yang melekat di dalam dirinya:

 

SATVA, RAJAS, DAN TAMAS

Satva menenangkan kita, meneduhkan. Yang memungkinkan kita untuk berhenti sejenak merenung, berpikir, berefleksi, berkontemplasi dan meditasi.

Rajas bersifat dinamis, mandiri, selalu melihat ke depan dan agresif. Tetapi, pada suatu ketika bisa menjadi terlalu bersemangat, ceroboh dan ugal-ugalan.

Tamas, sifat terakhir, membuat kita menjadi lamban, bodoh, malas, dan bergantung pada orang lain. Sifat yang ketiga ini benar-benar kebalikan dari Satva. Arti dari kata Tamas sendiri adalah “gelap” — sedangkan Satva berarti bersinar, terang dan sifat yang paling ideal.

Manusia adalah campuran dari ketiga sifat tersebut. Ketika Satva dominan, seseorang menjadi bijak, namun pasif. Karenanya, sedikit Rajas selalu dibutuhkan. Tanpa dinamisme Rajasik, hidup menjadi suram.

Sebaliknya, Rajas yang dominan membuat manusia menjadi mementingkan dirinya sendiri dan egois. Karenanya, sekian persen sifat Satva selalu dibutuhkan.

Sementara itu, sifat Tamas yang dominan — sudah pasti menjadi rintangan dalam perjalanan menuju kesempurnaan. Namun, demikian, sedikit Tamas — bila digunakan dengan baik – sesungguhnya bisa membantu kita. jadilah Tamasik, jadilah malas untuk melakukan sesuatu yang tidak menunjang dan tidak membantu kita dalam perjalanan kita menuju kesempurnaan.

Dengan kata lain, ketiga sifat tersebut punya kegunaan sendiri. Kita bisa memanfaatkannya untuk kepenringan kita.

Sri Krishna berkata bahwa semua tindakan, pikiran dan emosi kita dipengaruhi oleh ketiga Guna ini. Orang yang bijak, manusia yang sempurna adalah ia yang telah sepenuhnya mengendalikan semua sifat ini dan menggunakannya, bukan sebaliknya digunakan oleh Tri Guna. Inilah keadaan yang disebut sebagai Gunatita — melampaui kualitas.  Dalam keaclaan inilah seorang guru disebut berada dalam keadaan Gunatita.

 

SEORANG GURU TIDAK DIKUASAI OLEH GUNA

 

Dia memegang kendali penuh, total dan seutuhnya atas Guna. Dia tahu kapan harus mengekspresikan salah satu dari Guna tersebut, atau kombinasinya, sesuai dengan situasi dan kebutuhan. Dia mengekspresikan kualitas-kualitas tersebut semata-mata untuk kesejahteraan dan kepentingan semua orang.

Kita sering melihat Swami “marah”.

Adalah salah apabila kita berpikir bahwa beliau dikendalikan oleh amarah. Tidak, beliau menggunakan kemarahan untuk menegur kita, untuk mengembalikan kita ke jalur yang semestinya. Itulah saat beliau menggunakan Rajas untuk mendidik dan menolong kita yang melenceng dari jalan yang semestinya kita ambil.

Beliau tidak larut pada amarah.

Beliau tidak terbawa oleh amarah sebagaimana kita. Kemarahan beliau yang “nampak” itu membuktikan bahwa beliau dapat menggunakan apa saja, termasuk amarah, demi keuntungan dan kepentingan kita yang baru sebatas menyatakan diri sebagai muridnya…….

Ya, sebagai muridnya, baru sebatas itu. Karena mengaku diri sebagai bhakta, atau pengabdi, sungguh merupakan hal yang sangat jauh. Berarti kita sepenuhnya menerima segala pelajaran, betapa pun pahitnya, yang diberikannya kepada kita.

Berikutnya, Rupatita….

 

GURU MELAMPAUI SEGALA BENTUK

Artinya, ia tidak terpengaruh oleh perbedaan-perbedaan yang berslfat kulit luar yang nyata dan mencolok. Dia selalu fokus pada kebenaran yang mendasari semua hal.

Rupatita adalah keadaan di mana seseorang selalu ingat akan kesatuan di balik segala macam perbedaan.

Rupatita adalah ajakan untuk menghapuskan segala macam perbedaaan berdasarkan warna kulit, kebangsaan, status sosial, kasta, kepercayaan, keyakinan, dan lain sebagainya, secara total, menyeluruh dan untuk selamanya.

Setelah mampu melampaui segala perbedaan yang muncul karena Guna dan Rupa, seseorang tidak akan pernah menyombongkan diri. Bahkan dia menjadi rendah hati. Guru adalah personifikasi dari kerendahan hati, kesederhanaan.

Inilah tema Iagu kehidupan yang disarankan oleh Swami… Menjalani hidup dalam kesederhanaan, kesahajaan, dan kerendahan hati, mencintai dan melayani semuanya. Inilah cara kita untuk bernyanyi di sepanjang jalan menuju kebahagiaan yang tertinggi dan abadi — aananda.

 

NYANYIKANLAH KEMULIAAN KAKI SUCI SANG GURU!

“Maanasa Bhajare Guru Charanam” – wahai manusia, wahai pikiran, bernyanyilah sepanjang hidupmu; lampauilah perbedaan-perbedaan kulit luar dengan selalu berfokus pada kesatuan yang mendasar, dan mendasari semua. Dan, tetaplah rendah hati!

Menjadi rendah hati dan bersujud kepada Guru tidaklah berarti merendahkan harga dirimu. Tidak pula berarti menyerahkan kebebasanmu. Sesungguhnya hanyalah orang-orang bebas, jiwa-jiwa yang merdeka saja yang bisa membungkuk dengan sukarela.

Dibutuhkan keberanian yang luar biasa, percaya diri, dan keyakinan untuk bisa membungkuk dan menundukkan kepala yang mewakili ego kita.

Peran ego, yang selama ini disalahpahami oleh para psikolog generasi awal, bukanlah diri kita yang sejati. Ego adalah diri-luar, kulit luar yang tercipta oleh berbagai macam conditioning — pengkondisian yang diperoleh dari “luar”.

Ego bukanlah realitas diri anda yang hakiki. Ego ini harus dilampaui agar realitas hakiki anda muncul ke permukaan.

Jadi, “Maanasa Bhajare Guru Charanam” sesungguhnya adalah suatu permulaan untuk melepaskan identitas palsu kita, dan menemukan identitas sejati kita.

 

BAGI PARA EKSEKUTIF MODERN

Berarti juga sebuah tantangan untuk menemukan potensi seseorang. Ini adalah ajakan untuk menjadi bebas, mandiri, atau berdikari – berdiri diatas kaki sendiri, sebagaimana dianjurkan pula oleh Bung Karno – namun tetap rendah hati.

Lihatlah ke dalam diri!

Temukan dan ungkapkan sumber kekuatan dan kelimpahan yang ada dalam dirimu. Biarkanlah kekuatan dan kelimpahan tersebut mewujud dalam hidupmu.

Ketahuilah bahwa sumber yang ada di dalam diri anda adalah sama dengan sumber dalam diri setiap makhluk hidup, dan terhubung dengan Sumber. Hyang Tertinggi, Hyang Satu, Tunggal adanya.

Raihlah kesadaran, keyakinan total dan mutlak pada kesatuan tunggal itu. Kesadaran ini akan membuat anda menjadi tegas, kuat, berani, namun tetap halus, rendah hati, dan di atas segalanya musikal, penuh irama.

Dikutip dari buku (Das, Sai. (2012). Sai Anand Gita Kidung Mulia Kebahagiaan Sejati. Koperasi Global Anand Krishna Indonesia)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s