Satya, Kebenaran: Jaga Kesadaran Walau Sedang Marah, Jengkel, Ngambek, Tersinggung!

buku yoga sutra patanjali marah jaga kesadaran

DALAM KEADAAN CAPEK, KESAL, MARAH, JENGKEL, NGAMBEK, TERSINGGUNG, SAKIT HATI, seseorang bisa kehilangan akal-budinya. Tapi lagi-lagi, janganlah mencari pembenaran atas hilangnya akal-budi, “Aku kan lagi capek, ya pasti kesal dong diganggu pengemis pagi-pagi.” Alasan yang tidak saja tidak kuat, tapi juga membuktikan kelemahan diri kita. Masa rasa capek bisa bisa menghanyutkan, menghilangkan akal budi kita.

Mungkin juga, dia merasa sudah berada dalam wilayah aman. Barangkali ia berpikir, Sekarang aku sudah bekerja secara jujur hartaku sudah berlimpah lagi, sekarang aku sudah aman. Dalam keadaan, yang oleh para Sufi atau Sophy disebut takabur, seseorang bisa kehilangan akal-sehatnya. Ia lupa bahwa keberhasilannya bukanlah sekadar hasil jerih payah atau kecakapan dirinya dalam menjalankan usaha, tapi juga karena berkah. Karena lupa peran berkah, ia menjadi sombong, angkuh. Matanya berkabut, pandangannya tidak jernih lagi.

Silakan simak kisah dan penjelasan tentang Kebenaran di bawah ini:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

KEDUA: SATYA, KEBENARAN, atau Tidak Berbohong. Kembali pada Gandhi, ia menyatakan, “Satya hi Isvara hai! Truth is God—Kebenaran itulah Tuhan.”

Dalam tradisi yang berkembang di wilayah Peradaban Sindhu, salah satu sebutan bagi Tuhan adalah Satya Narayana, Ia Hyang Bersemayam dalam Diri Setiap Nara, Setiap Manusia, sebagai Satya, Kebenaran.

Artinya, seseorang yang berbohong itu sudah tidak berketuhanan lagi. Ia sudah memutuskan hubungannya dengan Tuhan. Ia sudah tidak melihat, menyaksikan, menyadari keberadaan Tuhan di dalam diri.

Untuk mengingatkan kita betapa pentingnya Yama Kebenaran ini, setiap sore menjelang Malam Purnama, dibacakan kisah-kisah dari Padma-Purana tentang Satya Narayana Vrta atau Hidup Berpedoman pada Kebenaran, Hyang adalah Bukti Kehadiran Tuhan di dalam diri kita.

 

KONON, SEORANG PENGUSAHA YANG MENJADI BANGKRUT, merenung lama. Ia merenungi apa yang menjadi sebab kebangkrutannya, tapi tidak memperoleh jawaban. Ia menganggap dirinya sudah bekerja keras, risiko yang diambilnya juga sudah dikalkulasikan secara matang, lalu apa lagi?

Ketulusan hati pengusaha itu, ketulusan untuk menemukan jawaban, ketulusan untuk mengakui bahwa kebangkrutannya itu terkait dengan dirinya—sebab banyak orang selalu mencari kambing hitam, selalu mencari alasan di luar diri untuk membenarkan kelemahan dan kegagalan diri—semua ketulusan hati itu mengundang respons berkah dari semesta.

Seorang bijak mendatanginya dan menjelaskan alasannya, “Wahai pengusaha, kau memang sudah menjalankan svadharma-mu, kewajiban sesuai dengan profesi, pekerjaan, dan potensi dirimu. Semua sudah tepat. Hanya satu hal yang terlupakan olehmu, satu hal yang sangat penting. Yaitu, Kebenaran, Kejujuran. Dalam pekerjaan apa pun, profesi apa pun, Kebenaran adalah nilai yang mesti dijunjung tinggi.”

Sang Pengusaha, Sang Vaisya menyadari kesalahannya, dan berjanji, “Romo betul sekali. Ya, seandainya Keberadaan memberi saya kesempatan lagi, maka pastilah saya menjalankan usaha. saya dengan sejujur-jujurnya.”

“Berjanjilah pada dirimu sendiri, Vaisya, wahai Pengusaha. Berjanjilah pada nuranimu, sanubarimu. Sehingga jika kau lali, jika janji itu terlupa, maka nuranimu sendiri, sanubarimu akan menegurmu.”

 

SANUBARI SEBAGAI SAKSI—hal penting untuk dicamkan. Adalah teguran dari sanubari, dari hati nurani yang selalu bekerja. Tiada teguran lain seampuh tegurannya

Melanjutkan kisah klta.

Vaisya atau Pengusaha itu bekerja lagi, mulai lagi dari nol, dan menjadi kaya raya lagi. Selama masih berpegang pada kebenaran, kejujuran, ia pun menikmati segala berkah dari keberadaan.

Kemudian, suatu ketika dalam perjalanan pulang dari luar negeri dengan kapal penuh dengan barang dagangan—bahkan emas dan perak—, ia berlabuh di bandar terdekat dari kota tempat dia tinggal. Baru turun dari kapal, sementara karyawannya sibuk menurunkan barang, datang seorang pengemis mendekati Sang Vaisya, “Kulihat Tuan mendapatkan banyak berkah. Kiranya jika bisa membant saya……..

Kesal, jengkel karena tengah sibuk-sibuknya, Vaisya itu kehilangan akal-budinya, “Berkah, berkah apa? Peti-peti yang kau lihat itu kosong semua!”

 

DALAM KEADAAN CAPEK, KESAL, MARAH, JENGKEL, NGAMBEK, TERSINGGUNG, SAKIT HATI, seseorang bisa kehilangan akal-budinya. Tapi lagi-lagi, janganlah mencari pembenaran atas hilangnya akal-budi, “Aku kan lagi capek, ya pasti kesal dong diganggu pengemis pagi-pagi.” Alasan yang tidak saja tidak kuat, tapi juga membuktikan kelemahan diri kita. Masa rasa capek bisa bisa menghanyutkan, menghilangkan akal budi kita.

Mungkin juga, Vaisya itu merasa sudah berada dalam wilayah aman. Barangkali ia berpikir, Sekarang aku sudah bekerja secara jujur hartaku sudah berlimpah lagi, sekarang aku sudah aman. Dalam keadaan, yang oleh para Sufi atau Sophy disebut takabur, seseorang bisa kehilangan akal-sehatnya. Ia lupa bahwa keberhasilannya bukanlah sekadar hasil jerih payah atau kecakapan dirinya dalam menjalankan usaha, tapi juga karena berkah. Karena lupa peran berkah, ia menjadi sombong, angkuh. Matanya berkabut, pandangannya tidak jernih lagi.

 

LAGI-LAGl, BARANGKALI IA BERPIKIR, Apa arti seorang pengemis, “seorang” pengemis yang tidak tahu diri. Sudah lihat aku sibuk, masih tetap mengganggu. Aku sudah menyumbang banyak selama ini. Sudah banyak uang yang kuhabiskan untuk membangun tempat ibadah, menyantuni yatim piatu. Si pengemis jelek ini betul-betul kurang ajar. T unggu sebentar dong, kalau saya sudah tidak sibuk, baru minta. Pasti kulemparkan receh padanya. Ini adalah bahasa seseorang yang takabur, seseorang yang lupa daratan. Seseorang yang sudah tidak membumi lagi. Seseorang yang tidak memiliki rasa empati.

Maka, Keberadaan pun melakukan intervensi. Tiba-tiba para pekerja merasakan bahwa peti-peti yang tadinya terasa berat sekali, menjadi enteng!

Ya, seluruh peti-peti itu, semua tanpa kecuali, menjadi kosong. Vaisya yang awalnya hanya mendengar, dan masih tidak percaya, memerintahkan karyawannya untuk membuka setiap peti. Temyata betul, semua kosong.

Bahkan, ketika ia memasukkan tangannya ke dalam kantong jubahnya, kantong itu juga kosong. Padahal sebelumnya ada beberapa lempeng emas dalam setiap kantong.

Ia jatuh pingsan!

 

KEBETULAN SAAT IA MENGUSIR PENGEMIS ITU, menantu-laki suami putrinya menyaksikan. Maka, melihat keadaan yang menimpa mertuanya, dan peti-peti kosong itu, ia tersadarkan bahwa pastilah ada kaitannya dengan kebohongan sang mertua terhadap pengemis, yang diyakininya bukan “orang biasa”. Setelah memerciki mertuanya dengan air hingga ia siuman kembali, sang menantu langsung berlari mengejar pengemis.

Ia bersyukur ketika melihat pengemis itu sedang duduk santai, berteduh di bawah pohon. “Lari-lari cari aku? Padahal aku berada dalam dirimu Katakan kepada mertuamu bahwa kebenaran, kejujuran, satya mesti dilakoni secara utuh.”

Sang menantu sungkem, “Maafkan kami, Romo. Aku tahu Romo bukan pengemis. Romo datang untuk menyadarkan kami yang terbutakan oleh keberhasilan materi ” Ketika ia mengangkat kepalanya, Sang Romo Pengemis sudah gaib, lenyap, tanpa bekas.

 

JANGAN BERDUSTA, JANGAN BERBOH0NG—jika tidak mengetahui sesuatu, katakan tidak tahu. Jika tidak mau memberitahu, mlnta maaf, berkata jujur, “Aku tidak bisa menjawab penanyaanmu.” Sebab ada juga hal-hal yang perlu dirahasiakan tidak perlu digembar-gembor.

Rahasia negara; cekcok dalam rumah tangga yang merupakan urusan pribadi dan mesti diselesaikan sendiri tanpa merepotkan warga sekampung, dan masih banyak contoh lain yang memang tidak perlu diberitakan, diumumkan.

Perhatikan acara-acara gosip di televisi, adakah manfaatnya? Bagi siapa? Bagi pemilik stasiun televisi yang mendapatkan iklan. Bagi produser program, yang jika rating  acaranya naik, mendapatkan promosi. Bagi selebritas yang pertengkarannya dijadikan berita gosip, tanpa mereka sadari, malah menjadi bencana! Pertengkaran biasa berubah menjadi perceraian. Jadi pemilik stasiun televisi, produser, dan setiap orang yang terlibat dalam acara itu, dalam pemberitaan itu, tidak bisa Iepas dari konsekuensi karma atas perbuatan mereka. Tinggal tunggu waktu saja! Ada pohon karma yang berbuah cepat, ada yang lamban. Masih untung jika berbuah, walau buahnya asam, pahit, sepat. Jika pohon itu mandul, tidak berbuah, maka dibabat oleh tukang kebun! Tinggal pilih, mau yang mana—buah pahit, asam, sepat sebagai konsekuensi perbuatan yang kurang asam; atau dibabat habis?

 

JANGANKAN BERITA G0SIP, pemberitaan lain pun sering dipelintir. Berita baik tidak mendapatkan slot. Berita “seksi”, berita yang dianggap “menjual” adalah berita-berita sensasional. Tidak peduli sejelek  apa. Tidak peduli bila berita itu benar atau tidak. Dengan kepala tegak, seorang wartawan senior, seorang jurnalis membela diri, profesi, dan rekan-rekannya, “Kami, Insan Media hanya bertanggung jawab untuk menyampaikan suatu berita. Kami bukan investigator, itu urusan orang lain.” Oh ya!

Tiada seorang pun yang menanggapinya.

Tapi, palu karma tetap terketuk. Dan ya, dia pun mesti menanggung konsekuensi dari pemikiran materialis seperti itu.

“Satya” atau Kebenaran mesti mewarnai seluruh aspek kehidupan, mesti menjadi sikap hidup, sebagaimana pedoman-pedoman lain.

Dalam waktu dekat, akan terbit pula ulasan kami terhadap teks-teks Yoga yang berasal dari Tanah Air kita. Local Indigenious Wisdom—Kearifan Lokal kita, yang tentu mengacu pada sutra-sutra Patanjali. Namun ada pula sedikit perbedaan dan penegasan, yang terasa betul adalah untuk menjitak botak kita, untuk menjewer kuping kita. Para pujangga yang menyusun teks-teks itu adalah warga kita sendiri, berasal dari kepulauan Nusantara, yang saat itu disebut Dvipantara sehingga mengetahui kelemahan-kelemahan kita secara persis, secara akurat. (Buku terkait Dvipantara Yoga Sastra saat ini sudah diterbitkan)

Ada baiknya, teks-teks itu pun dipelajari bersama sutra-sutra ini untuk mendapatkan suatu pemahaman yang komprehensif.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

One thought on “Satya, Kebenaran: Jaga Kesadaran Walau Sedang Marah, Jengkel, Ngambek, Tersinggung!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s