Yang Sadar Jumlahnya Bertambah! Yang Tidak Sadar Meningkat Lebih Banyak? Terkait Evolusi?

buku rahasia alam one earth retret

Masyarakat berubah bila indiividu berubah. Ya, saya yakin masyarakat sedang berubah dan perubahan itu terjadi, karena anda sekalian telah berubah.

 

Tanya: Tapi Pak, jumlah mereka yang tidak sadar pun kian bertambah.

 

Jawab: Ya, tapi jumlah hewan berkurang terus. Setiap hari, sekian banyak jenis cacing, ikan, burung dan hewan-hewan lain punah. Yang Bapak sebut manusia tidak atau belum sadar itu sesungguhnya hewan yang baru jadi manusia. Dalam diri mereka instink-instink dan naluri hewani masih sangat menentukan. Namun demikian, sesungguhnya mereka sudah berevolusi. Setidaknya fisik mereka sudah bukan fisik hewan lagi. Mereka sudah berbadan manusia.

buku rahasia-alam-500x500

Cover Buku Rahasia Alam Alam Rahasia

 

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

 

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Silakan ikuti tanya jawab lanjutan berikut:

 

Tanya: Masih dalam konteks Yantra, Pak, kiranya ada pesan khusus yang dapat Bapak sampaikan bagi kami yang telah selesai membuatnya.

 

Jawab: Ya, ya, ya… bukan hanya bagi mereka yang rnengikuti latihan-latihan ini selama lima minggu penuh di padepokan, tapi juga bagi mereka yang kelak akan berlatih sendiri di rumah.

 

Atas Nama Kasih Yang Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Yantra ini, Ini, Insya Allah, pasti membantu anda. Yantra ini akan mempersatukan kita semua dalam Kasih-Nya.

 

Atas Nama Ia Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Seorang Saadhaka, Pengolah Batin yang menggunakan Yantra ini, tak akan pernah kekurangan sandang, pangan dan papan.

 

Berkaryalah, Tuhan Menyertai kita. Kita tak akan kekurangan sesuatu. Kebutuhan-kebutuhan kita pasti dipenuhi oleh-Nya. Yakinilah kebijakan Keberadaan Yang Maha Bijak Ada-Nya… berserahlah kepada-Nya, dan kita akan selalu berada dalam lindungan-Nya.

 

Tanya: Pak, bisa jadi simbol-simbol jaman dulu pun dimaksudkan untuk hal yang sama.

 

Jawab: Persis, betul… tapi, jika tidak ditunjang dengan latihan, dengan olah batin, simbol tinggal simbol saja, tidak berguna. Sekarang simbol-simbol tertentu malah disalahgunakan untuk mempersatukan gerombolan dalam kebencian, kehancuran dan kekacauan.

 

Tanya: Berarti simbol-simbol tertentu, termasuk alat ini, dapat mempersatukan kita untuk menyebarkan rasa benci maupun kasih.

 

Jawab: Seperti pisau—dapat digunakan untuk memotong sayur, bisa pula digunakan untuk menikam orang. Simbol-simbol agama pun demikian. Ada yang menggunakannya untuk mernpersatukan umat manusia dalam kasih-Nya. Ada yang menggunakannya untuk mempersatukan anggota satu kelompok dalam rasa benci, dalam kebencian.terhadap kclompok lain.

 

Tanya: Pak, apakah Yantra ini berlaku untuk

seumur hidup?

 

Jawab: Seorang Guru akan mengevaluasi perkembangan batin siswanya. Bila diperlukan, ia akan membimbing sang siswa untuk memperbaiki Yantra ini, atau bahkan membuat baru sama sekali.

 

Tanya: Bagaimana dengan mereka yang tinggal jauh Pak, tidak cukup beruntung untuk bertemu seorang Guru?

 

Jawab: Bila seorang Shishya atau siswa siap memenggal shish atau kepalanya, Keberadaan pun akan mengatur pertemuannya dengan Sang Guru. Yakinilah hal ini. Kemudian, jarak pun tidak menjadi soal. Mereka yang mempersoalkan jarak, waktu dan sebagainya belum siap… titik.

Tanya: Tapi Pak, bertemu sekali dengan Guru kan tidak cukup juga. Seorang siswa harus bertemu berulang kali. Apakah kontak fisik tidak dapat diganti dengan kontak batin, misalnya?

 

Jawab: Selama kita masih berbadan, kontak badan diperlukan. Kontak batin pun memiliki nilai tambah setelah adanya kontak fisik.

 

Tanya: Berarti kita sungguh tergantung pada seorang Guru. Bapak sangat inkonsisten, ada kalanya Bapak mengatakan Guru tidak perlu. Keberadaan adalah Guru. Nurani adalah Guru. Suara Hati adalah Guru. Tuhan bersemayam di dalam diri. Saya bingung Pak, mohon pencerahan.

 

Jawab: Bahwa saya inkonsisten, telah saya akui berulangkali. Lewat tulisan-tulisan saya, lewat sharing dengan Bapak-Ibu sekalian, dengan anda semua. Benar, saya memang inkonsisten.

Inkonsistensi saya disebabkan oleh perkembangan jiwa, oleh evolusi batin mereka yang mendekati saya. Orang-orang berjiwa bayi membutuhkan penunjuk jalan, pengarah, pemandu. Pemandu itu adalah Guru Awal. Seorang bayi membutuhkan jari ibunya untuk belajar jalan. Guru Awal adalah Guru Massal. Kitab-kitab suci, para suci yang memberi kotbah kepada belasan bahkan ratusan ribu orang di tengah alun-alun, semuanya bisa menjadi guru Bapak-Ibu. Saat itu, Bapak-Ibu tidak harus berkontak badan dengan guru itu. Bapak-Ibu dapat membaca tulisan-tulisan nya, menghadiri pertemuan akbarnya di stadion, bahkan bisa lewat media elektronik, internet dan sebagainya. Kata kuci saat itu adalah Ketergantungan.

Kemudian, bila Bapak-Ibu sudah berjiwa remaja, Bapak-Ibu harus belajar hidup mandiri. Bapak-Ibu akan tetap menerapkan pelajaran yang Bapak-Ibu terima semasa berjiwa bayi, tetapi Bapak-Ibu tak akan tergantung pada siapa-siapa. Saat itu, kata kuncinya Kemandirian.

Berjiwa dewasa, kemandirian Bapak-Ibu akan berkcmbang menjadi Kebebasan, kebebasan mutlak dari segala sesuatu yang membelenggu jiwa Bapak-Ibu. Termasuk ”ketergantungan pada kemandirian”. Saat itu Bapak-Ibu belajar hidup mengikuti arus, tapi dengan penuh kesadaran. Bapak-Ibu tak akan terbawa oleh arus. Bapak-Ibu tak akan hanyut. Ada kalanya Bapak-Ibu akan berharap—itu ketergantungan. Ada kalanya Bapak-Ibu tidak berharap—itu kemandirian. Ada kalanya Bapak-Ibu

menjadi tenang, dualitas harap/tak berharap pun sirna.

Langkah terakhir harus Bapak-Ibu ambil saat jiwa Bapak-Ibu memasuki usia tua. Dan, jangan lupa, yang saya maksud di sini bukanlah usia badan, tapi usia jiwa. Saat itu Bapak-Ibu membutuhkan seorang Guru lagi. Guru Akhir Manusia, demikian sebutannya, menjadi katalisator bagi perkembangan jiwa Bapak-Ibu. Inilah perkembangan terakhir sebelum Bapak-Ibu mceampaui semuanya, dan menyemplung masuk ke dalam lautan Kasih Ilahi. Pada tahap ini, kata kuncinya adalah Kasih.

 

Tanya: Terima kasih Pak, terima kasih atas penjelasannya. Kalau boleh tanya lagi Pak, dasar dungu saya ini, keberadaan Guru sebagai katalisator…..

 

Jawab: Seperti halnya oksigen dan hidrogen membutuhkan kehadiran aliran listrik untuk menjadi air. Walau sudah dicampur aduk dalam proporsi yang betul, keduanya tidak akan menjadi air tanpa kehadiran listrik.

Guru adalah aliran listrik yang mempertemukan oksigen siswa dengan Hidrogen Allah….. kemudian meleburlah tiga-tiganya untuk menjadi air Kehidupan. Tentu ada sebagian orang yang tidak bisa menerima “konscp peleburan” seperti itu. Tidak apa, jangan memalcsa mereka untuk menerima konsep, karena peleburan sebagai konsep akan kita tinggalkan pula saat terjadinya

peleburan.

Sesungguhnya apa yang terjadi saat peleburan itu tak terjelaskan lewat kata-kata. Penjelasan ini pun hanyalah upaya gagap untuk menjelaskan apa yang tak terjelaskan. Karena ditanya, saya harus menjawab. Saya harus menciptakan konsep supaya Bapak paham, setelah Bapak memahami maksud saya, lepaskan semua konsep. Termasuk konsep peleburan itu sendiri.

 

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2003). Rahasia Alam Alam Rahasia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

 

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

2 thoughts on “Yang Sadar Jumlahnya Bertambah! Yang Tidak Sadar Meningkat Lebih Banyak? Terkait Evolusi?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s