Kita pun Materialis? Hidup Cemas Selalu Terbayang Perubahan yang Sulit Kita Kendalikan?

buku bhagavad gita hitler jatuh

Dari percaya diri ke percaya materi; Hitler yang sukses di awal jatuh karena ambisi politik, ambisi materi

Seorang materialis selalu mencari support di luar; bahkan seorang raja, yang tergantung pada support dari para menteri dan pendukungnya — selalu merasa dirinya terancam. Yang terbayangkan olehnya adalah “Apa jadinya jika aku tidak disupport lagi? Apa jadinya kalau ada yang menggulingkan aku? Apa jadinya jika ada yang merebut kekuasaanku?”

Saat kita “merasa” lemah; sesungguhnya saat itu kesadaran kita sedang mengalir ke luar. Saat itu, kita sangat “materialis” karena mengidentifikasi diri dengan “materi” – maka kita merasa lemah. Kita memperhatikan kedudukan, kepemilikan, dan kelebihan orang-orang di sekitar kita. Kita membandingkan diri dengan mereka. Alhasil, kita merasa lemah. Mereka “tampak” lebih kuat. Padahal kekuatan yang terlihat adalah kekuatan materi.

Oleh karena itu seorang materialis hidup dalam rasa ketakutan, karena keadaan di luar yang pernah menunjangnya berubah terus. Dan ia tak mampu mengendalikannya.

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 15:6 berikut:

 

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Matahari, bulan, dan api tidak lagi dibutuhkan untuk menerangi-Nya; Setelah mencapai-Nya, seseorang tidak lahir kembali di dunia-benda; Itulah Param-Dhama, tempat-Ku Hyang Tertinggi (Kesadaran Jiwa Agung).” Bhagavad Gita 15:6

Kita dapat meminjam buku tentang pencerahan; kita dapat mendengar tentang pencerahan dari orang lain; kita dapat membaca tentang pengalaman orang yang sudah tercerahkan. Namun “pencerahan orang lain” tidak dapat mencerahkan kita.

 

KITA MESTI TERCERAHKAN OLEH UPAYA KJTA SENDIRI – Tak seorang pun dapat mencerahkan kita, kecuali kita sendiri.

Tempat tertinggi yang disebut oleh Krsna; tempat-“Nya”; tempat-“Ku” — adalah tempat tertinggi kita sendiri. Tempat itulah, keadaan tertinggi itulah, kesadaran itulah yang menjadi takdir kita semua. Itulah kesadaran dan keadaan hakiki kita semua.

Dan untuk mencapainya atau menyadari hakikat diri itu, tidak perlu meminjam pelita dari siapa-siapa. Tidak perlu sinar matahari, bulan, bintang, ataupun api unggun. “Diri” kita sudah terang-benderang adanya. Kita hanya perlu menoleh balik ke dalam diri. Di tengah-tengah krisis kehidupan seberat apa pun juga, alihkan kesadaran ke dalam diri; dan temukan sumber semangat di dalam diri sendiri!

 

DALAM KEADAAN “LEMAH” – Atau, lebih tepatnya ketika kita “merasa” lemah; sesungguhnya saat itu kesadaran kita sedang mengalir ke luar. Saat itu, kita sangat “materialis” karena mengidentifikasi diri dengan “materi” – maka kita merasa lemah.

Kita memperhatikan kedudukan, kepemilikan, dan kelebihan orang-orang di sekitar kita. Kita membandingkan diri dengan mereka. Alhasil, kita merasa lemah. Mereka “tampak” lebih kuat.

Padahal kekuatan yang terlihat adalah kekuatan materi. Jika kita memercayai kekuatan itu, maka kita ikut “menjadi” materialis.

 

SEBELUM MENANGKAP HAZRAT ISA, pihak penguasa yang merasa terancam oleh ajaran-Nya yang memerdekakan Jiwa manusia — bekerja sama dengan para ahli kitab yang sama-sama merasa terancam oleh-Nya. Mereka menyebarkan berbagai cerita tentang Sang Hazrat. Beliau ditampilkan sebagai sosok pembangkang — sebagai seorang teroris. Proses penangkapan pun melibatkan prajurit dalam jumlah besar, untuk memberi kesan seolah Hazrat amat sangat berbahaya.

 

SAAT ITU MURID MENINGGALKAN BELIAU – Mereka terjebak oleh bayang-bayang materi, “Pihak penguasa tidak bisa dilawan —lebih baik kita menyingkir.” Mereka menyingkir dan Hazrat Isa pun ditangkap. Bahkan di tengah penderitaan-Nya, Hazrat Isa sempat goyah, walau untuk sesaat saja, “Dimanakah Engkau? Mengapa membiarkan diriku menghadapi ini sendiri?” Tapi, tak lama kemudian, Ia langsung sadar bila kekuasaan materi di luar hanyalah bayangan, bukan Kekuasaan Roh, Kekuasaan Gusti Pangeran. Istana Sang Gusti adalah di dalam diri kita sendiri dan di sanalah Dia bersemayam.

 

KESADARAN DIRI LENGKAP, UTUH ADANYA – ia tidak membutuhkan sesuatu untuk menunjangnya. Seorang materialis yang sedang mencari support di luar; bahkan seorang raja, yang tergantung pada support dari para menteri dan pendukungnya — selalu merasa dirinya terancam. Yang terbayangkan olehnya adalah “Apa jadinya jika aku tidak disupport lagi? Apa jadinya kalau ada yang menggulingkan aku? Apa jadinya jika ada yang merebut kekuasaanku?”

Seorang materialis hidup dalam rasa ketakutan, karena keadaan di luar yang pernah menunjangnya berubah terus. Dan ia tak mampu mengendalikannya.

 

MENJELANG AKHIR HAYATNYA – sebelum bunuh diri, Hitler mengalami paranoia super berat. Salah seorang yang sangat dekat dengannya dan sudah tidak tahan melihat kondisi Sang Pemimpin, merencanakan pembunuhan. Ia gagal, Hitler lolos dari Iubang jarum maut. Tetapi, setelah pengalaman itu, ia kehilangan percaya diri. Paranoianya malah bertambah. Setiap orang dilihatnya sebagai musuh di dalam selimut.

Ia tidak bisa memercayai siapa pun juga. Bahkan, seorang sejarawan menulis: Ia sering bicara sendiri dengan anjing piarannya, “Katakan, apakah kau masih setia? Jangan-jangan kau sedang merencanakan sesuatu???”

 

AWALNYA, HITLER SANGAT PERCAYA DIRI – dan itulah rahasia keberhasilannya. Ia sempat membebaskan negerinya dari lilitan hutang pasca perang dunia pertama. Jerman sempat menjadi kekuatan utama di seluruh Eropa. Ketika Inggris masih sibuk membangun kembali negerinya, Jerman sudah membanggakan dirinya sebagai negara termakmur di seluruh Eropa. Padahal, sebelumnya ia sempat dimiskinkan oleh perang.

Namun, ketika ambisi politiknya, ambisi materinya membuat dia “besar kepala”, maka kesadarannya pun beralih dari “diri”, dari “Jiwa” ke kepala yang maha besar. Dan ia menggali liang kubur bagi dirinya.

Hari ini kita mengenang Hitler sebagai demon, sebagai raksasa. Kita lupa perannya sebagai nasionalis tulen yang sempat dibanggakan seluruh rakyat J erman. Sejarah melupakan segala kebaikannya. Kenapa? Karena aliran kesadarannya yang berpindah haluan.

Banyak sekali contoh-contoh lain seperti Hitler. Para pemimpin masa kini yang tidak mempelajari sejarah, menjadi korban ego dan ambisi mereka seperti Hitler. Mereka jatuh bukan karena dijatuhkan, tetapi karena diri mereka sendiri yang lupa akan Jiwa, sumber kekuatan, dan memercayai kekuatan materi.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s