Materi Hanya Dapat Menawarkan Kenyamanan yang Fana? Bukan Kebahagiaan Sejati?

buku dvipantara yoga sastra materi

Di tengah-tengah krisis kehidupan seberat apa pun juga, alihkan kesadaran ke dalam diri; dan temukan sumber semangat di dalam diri sendiri!

DALAM KEADAAN “LEMAH” – Atau, lebih tepatnya ketika kita “merasa” lemah; sesungguhnya saat itu kesadaran kita sedang mengalir ke luar. Saat itu, kita sangat “materialis” karena mengidentifikasi diri dengan “materi” – maka kita merasa lemah.

Kita memperhatikan kedudukan, kepemilikan, dan kelebihan orang-orang di sekitar kita. Kita membandingkan diri dengan mereka. Alhasil, kita merasa lemah. Mereka “tampak” lebih kuat.

Padahal kekuatan yang terlihat adalah kekuatan materi. Jika kita memercayai kekuatan itu, maka kita ikut “menjadi” materialis. Penjelasan Bhagavad Gita 15:6 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Berikut pandangan leluhur kita tentang sifat materialis dalam diri dalam kitab Sang Hyang Mahajnana:

buku dvipantara yoga sastra

Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

“Mereka yang senantiasa melakukan Pemujaan Luaran terhadap Linga Eksternal, Bahya Linga atau Para Linga sungguh tersesatkan. Mereka sungguh-sungguh bodoh — karena tidak sadar akan Sva, atau Atma Linga, Linga Internal. Apa yang mereka capai dari pemujaan luaran tersebut tidak terlalu berharga. Apalagl pencapaian tersebut tidak kekal, malahan terus menurun.” Sang Hyang Mahajnana 28

 

DISINI, BAHYA ATAU LINGA EKSTERNAL dikaitkan dengan segala yang telah kita bahas di beberapa ayat terakhir.

Hidup, sebagaimana kita tahu, sebagaimana kitajalani adalah bersifat “material”. Jadi, adalah absurd untuk menyangkal atau menolak materi. Tidak mungkin. Pakaian fisik ini yang disebut tubuh, yang dipakai oleh kita semua, bersifat material. Jadi kita tidak dapat hidup tanpa materi.

Tapi, ya, kita bisa mencoba untuk tidak menjadi materialis, dalam pengertian kita menjunjung nilai-nilai material kasar di atas segala nilai lain.

 

APA YANG DIMAKSUD DENGAN NILAI-NILAl MATERIAL “KASAR”? “Uang adalah segalanya; by hook atau by crook, dengan segala cara, aku harus mencapai targetku menjadi miliuner dalam dua tahun ke depan; aku tidak peduli apa yang aku lakukan, yang penting adalah hasilnya” — ini adalah nilai-nilai material.

Ketika “pengumpulan”harta, penghargaan, gelar, nama, dan ketenaran menjadi satu-satunya tujuan hidup kita — maka tidak diragukan lagi bahwa kita adalah materialis. Jika kita tidak peduli dengan apa yang terjadi pada tetangga kita, pada sesama manusia, pada lingkungan kita, dan bahkan pada hewan, burung, dan sesama makhluk hidup – maka kita adalah materialis.

Beberapa waktu silam, saya kebetulan mendengar sebuah ceramah dari seorang tokoh kepercayaan tertentu. Ia berbicara tentang nilai senyuman, “Berbagilah senyum dengan semua – siapa pun yang Anda temui di jalan. Tersenyumlah di mana pun…” Ini bagus, sungguh bagus, tetapi kemudian ia menambahkan, “Tetapi, jangan pemah tersenyum pada makhluk rendahan, para hewan. Tuhan telah menciptakan kita sebagai makhluk yang lebih tinggi, bahkan sebagai makhluk tertinggi. Kita tidak bisa berteman dengan hewan. Mereka bisa digunakan sebagai penarik beban atau untuk dimakan. Jangan bersikap seperti mereka yang tidak berkepercayaan, mereka yang memelihara hewan sebagai peliharaan.”

Hidup tanpa rasa empati pada semua makhluk hidup, tanpa berbagi berkah dengan mereka yang kurang beruntung; tanpa memberikan sumbangsih positif bagi tetangga kita, kota, negara, dan dunia — adalah hidup materialistis.

 

MEREKA, SEMUA ORANG YANG MELAKONI HIDUP MATERIALISTIS adalah para pemuja Bahya Linga, Para Linga, atau Linga Eksternal.

Hanyalah Tubuh Fisik mereka yang berkembang. Semua lapisan kesadaran mereka yang lain belum berkembang (untuk mengenal lebih lanjut tentang berbagai lapisan kesadaran manusia, silakan baca Seni Memberdaya Diri I : Meditasi untuk Manajemen Stress dan Neo Zen Reiki untuk Kesehatan Holistik oleh penulis yang sama — ed.). Tanpa sebuah moto seperti “Hidup dan Biarkan yang Lain Hidup” – kita hanya hidup demi diri kita sendiri, melakoni hidup yang egois. Inilah pemujaan terhadap Linga Eksternal.

Mereka yang beriman pada kekuatan luaran, koneksi luaran, dan sebagainya — yang berpikir bahwa hanyalah dengan bantuan faktor-faktor tersebut mereka bisa sukses dalam hidup — adalah para pemuja Linga Eksternal.

 

OLEH KARENA ITU, BERDAYAKAN DIRIMU!

Pemberdayaan Diri membebaskan kita dari ketergantungan bodoh terhadap faktor-faktor luaran.

Kita harus selalu mengingatkan diri akan pepatah yang luar biasa ini, “Tidak ada makan siang gratis”. Semua ketergantungan kita terhadap faktor-faktor luaran menjadikan kita budak terhadap faktor-faktor tersebut, terhadap orang-orang yang selalu kita mintai bantuan dan pertolongan.

Marilah kita mengubah situasi ini.

Kita bisa, jika saja kita memiliki niat yang kuat untuk melakukannya.

Linga Luaran, tidak peduli betapapun ia berhias permata hanya dapat menawarkan kenyamanan yang fana. Tidak ada kebahagiaan sejati karena kebahagiaan sejati hanya bisa muncul dari pemujaan terhadap Lingga Internal, Sva Linga, Atma Linga. Keceriaan sejati adalah hasil dari hidup sepenuhnya dan hidup ceria. Dan, hidup sepenuhnya dan ceria hanya mungkin jika kita sadar akan jatidiri sejati kita dan bahwa kita semua adalah  bagian yang tak terpisahkan dari Hyang Tunggal.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s