Laku Ahimsa Saat Menghadapi Para Penjarah Penuh Kekerasan?

637418 3ND-V34-T1-1 Vrancx, Sebastian 1573-1647. "Pluenderung eines Dorfes". Ausschnitt. Oel auf Holz, 75 x 107 cm. R.F. 1182 Paris, Musee du Louvre. Foto: akg-images / Erich Lessing

“Banyak orang menggunakan alasan Ahimsa saat dituntut untuk bersikap dan bertindak, mereka berdalih, ‘Aku percaya pada Ahimsa, main kekerasan bukanlah fitrahku.’ Mereka tidak siap membawa kendaraan mereka (kendaraan juga bermakna tubuh yang merupakan kendaraan jiwa, ………penulis kutipan) ke tempat di mana sedang terjadi keributan. Mereka tidak mau tahu apa yang sedang terjadi di sana – orang mau mati, hidup – kendaraanku mesti tetap aman. Sikap konyol ini kita kamuflase dan sebut Ahimsa – Kita menipu diri sendiri. Kendaraan kita tidak pernah menabarak orang atau ditabrak kendaraan lain. Tidak pernah terjadi kecelakaan. Tidak ada tanda lecet. Tampangnya pun masih mulus. Namun, semua itu tidaklah membuat kita menjadi seorang bijak. Semua itu hanya menunjukkan bahwa kita tidak menggunakan kendaraan kita. Jiwa kita tidak mengalami sesuatu yang berharga. Kita sibuk dengan kelahiran dan kematian berulang-ulang tanpa mendapatkan pelajaran apa pun.” Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 7:4. (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Bhagavad Gita merupakan hikmah kebijaksaan yang disampaikan Krishna kepada Arjuna pada saat akan dimulai perang Bharatayuda. Penjelasan Gita menjelang perang yang penuh kekerasan pun juga menyinggung tentang Ahimsa (tidak menyakiti). Kalau berpegang pada Laku Ahimsa, mengapa tetap melakukan peperangan?

Silakan simak penjelasan Ahimsa salah satu dari 5 Yama (Pedoman atau Disiplin Diri) dalam buku Yoga Sutra Patanjali.

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

AHIMSA—TIDAK MENYAKITI. Bukan sekadar tidak membunuh, tidak menyembelih—tapi juga tidak menyakiti.

Model atau modulus Yama dan Niyama—yang acap kali disebut Dasa Sila, Dasa Sila atau 10 Pedoman Perilaku—juga dikembangkan oleh para pujangga di tanah air. Prinsip-prinsip dasarnya sama. Malah ada beberapa tambahan, seperti Akrodha dan Avyavaharika—anjuran untuk Tidak Terbawa oleh Emosi Amarah, Ketersinggungan, Ngambek, Ngamuk; dan Tidak Bersikap Komersil. Menarik, sungguh menarik.

Bagi mereka yang tertarik untuk mendalami teks-teks Yoga dan Yoga Sastra yang berasal dari kepulauan kita sendiri, bisa membacanya dalam ulasan kami yang akan terbit dalam beberapa jilid—kompilasi teks-teks kuno dari Jawa, Bali, dan Sunda. (tambahan pengutip buku, pada saat ini sudah terbit 3 buku terkait: Dvipantara Dharma Sastra, Dvipantara Yoga Sastra dan Dvipantara Jnana Sastra).

Kembali pada Ahimsa.

Tentu diet vegetarian atau nabati adalah sesuatu yang tidak bisa ditawar jika kita betul-betul ingin mempraktikkan Ahimsa. Namun bukan berarti dengan hanya mengubah diet, kita sudah bisa menjadi praktisi Ahimsa berkaliber Gandhi. Tidak bisa.

 

AHIMSA ADALAH SIKAP HIDUP, ahimsa adalah cara kita membawa diri dan berinteraksi dengan, tidak hanya sesama manusia, tapi sesama makhluk hidup.

Ahimsa juga tidak bodoh, Ahimsa adalah sikap hidup yang inteligen, cerdas-Buddhi; bukan cerdas akal-akalan, tapi cerdas kesadaran.

Gandhi selalu mengingatkan bahwa Ahimsa adalah ideal. Tapi, ada kala ideal itu tidak bisa dipakai lagi. Menghadapi orang-orang yang tidak mau diajak berdialog; menghadapi para penjarah yang sudah memutuskan untuk menjarah rumah Anda; menghadapi para penjahat yang ingin memerkosa ibu, saudara atau anak Anda; menghadapi orang-orang yang menertawakan Ahimsa, mau-tak-mau Anda pun mesti membalas mereka dengan bahasa lain.

Berarti, kita selalu berusaha.

Kita senantiasa berusaha untuk berbahasa Ahimsa, tapi jika tidak ada jalan lain, maka demi membela harkat-martabat diri, bangsa, negara, dunia; bahkan demi menjaga dan membela kemanusiaan itu sendiri, kita juga tidak boleh berpangku tangan.

 

BERULANG KALI GANDHI MENGINGATKAN KEPADA KITA bahwa Ahimsa bukanlah untuk para pengecut, bukan untuk mereka yang malas, yang tidak peduli pada kezaliman, ketidakadilan, atau penganiayaan yang terjadi pada orang lain, dengan alasan mereka adalah “lain”. Tidak. Ahimsa, sebagaimana dijelaskan oleh Patanjali, demikian pula dengan 4 Yama atau Pedoman lainnya, adalah produk buddhi, inteligensi.

Kasarnya, seperti yang pernah saya dengar dari seorang guru spiritual, “Pakai otak! Punya otot, bisa balas. Tapi, tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Itulah Ahimsa. Tapi jika orang yang berseberangan itu tidak menghargai ahimsa, ya jangan biarkan dia menindasmu. Itu berarti himsa, kekerasan pada diri sendiri.”

Gandhi mengatakan hal yang sama, persis sama, hanya bahasanya lebih manis, sopan. Intinya sama. Ahimsa bukanlah untuk dijadikan tameng guna menutupi kelemahan atau kepengecutan diri kita. Ini penting sekali untuk dipahami.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s