Awal Penderitaan: Aku Merasa sebagai Gelombang Pribadi yang Terpisah dari Lautan

buku bhagavad gita gelombang dan lautan 

Ada istilah lautan dan gelombang, namun apakah mereka dapat terpisahkan? Tidak juga. Begitu pula dengan “Aku” saya dan “Aku” Anda. Nama saya lain, nama Anda lain, tetapi dalam “aku” itu kita bertemu. “Aku” inilah Jiwa. Inilah bukti kehadiran Sang Jiwa Agung, kita hanya percikan-percikan-Nya. Apabila kita mulai melihat “Aku” ini di balik segala sesuatu, di balik setiap nama dan setiap rupa, dan apabila kesadaran semacam ini dapat dipertahankan setiap saat, maka itulah pencerahan, itulah penemuan jadi diri. Hanya orang-orang yang cerah semacam ini yang dapat mengubah keadaan dunia. Bukan orang-orang yang sibuk mengkotak-kotakkan umat manusia. Mereka justru mencelakakan seluruh tatanan masyarakat. Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 2:61.

Di bawah ini adalah penjelasan tentang pentingnya kita mesti selalu mengingat-ingatkan diri kita, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku- “mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung, seperti dijelaskan pada penjelasan Bhagavad Gita 12:16 berikut:

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ia yang tidak menginginkan sesuatu, berhati suci tanpa kemunafikan; cerdas, cermat—penuh kebijaksanaan, bebas dari keberpihakan dan kegelisahan – seorang panembah yang berkarya tanpa ke- ‘aku’ an seperti itulah yang sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:16

 

Keinginan muncul dari pikiran yang serba terbatas. Keinginan adalah buah persepsi manusia berdasarkan keadaan sesaat. Dalam keadaan tertentu kita menginginkan sesuatu. Namun, tak lama kemudian keadaan berubah – dan kendati kita telah memiliki, telah memperoleh apa yang diinginkan, tetap saja kita tidak puas, tidak bahagia.

 

KETIKA MASIH MUDA “PACARAN” DAN “PACAR” ada dua hal yang seolah-olah menjadi segala-galanya. Demi apa yang kita anggap “cinta”, kita rela mengorbankan segala-galanya. Keduanya berada di urutan teratas daftar prioritas kita, keinginan kita.

Ketika pacar sudah menjadi pendamping, timbullah rasa kecewa. Ternyata, cinta tempo doeloe sudah berubah, entah menjadi apa. Pacar yang sama, tetapi sudah berubah peran sebagai “pendamping” tidak lagi membahagiakan seperti tempo doeloe. Malah menyebabkan kegelisahan dan kekecewaan.

 

SEORANG PANEMBAH MENYADARI HAL INI – Maka, ia berupaya untuk melampaui keinginan-keinginan seperti itu.

Kemudian berhati-suci.

Bukan sekadar membersihkan badannya setiap hari. Seorang panembah juga menjaga kebersihan hati. lnilah pertanda seorang panembah yang bijak. Inilah kebijakan yang membuat seorang panembah senantiasa manunggal dalam Kesadaran Ilahi.

Ia tidak terpengaruh oleh keadaan-keadaan di luar diri, yang senantiasa berubah. la tidak pilih kasih, bebas dari dualitas favorit dan tidak-favorit. Ia melewati semua pengalaman tanpa terikat dengan satu pun.

 

SESEORANG MENGIDOLAKAN GANDHI – Saat itu ia baru mengenal Gandhi sebagai pelopor ahimsa – perjuangan tanpa kekerasan. Namun, ketika ia mendalami kehidupan Gandhi dan mulai mengenal sisi lain dari sosok Gandhi, khususnya yang terkait dengan spiritualitas ala Gandhi, maka ia “kecewa” — kok begini yah!

Dari idola, Gandhi sekarang menjadi objek kritikannya.

Termasuk sisi ahimsa Gandhi yang sebelumnya diagung-agungkannya memudar. Dari santo,  Gandhi menjadi setan baginya.

Banyak orang yang sebelumnya mengidolakan seorang artis sekaliber Michael Jackson – pun terpengaruh oleh publisitas miring oleh media. Dan MJ pun berubah menjadi momok bagi mereka.

 

FAVORITISM KITA DITENTUKAN OLEH PUBLISITAS, oleh penilaian di luar, dan oleh persepsi kita terhadap apa yang disajikan itu. Kita tidak menggunakan fakultas kesadaran saat menentukan favorit dan tidak favorit, hanyalah pikiran kita yang berjalan. Kemudian, pikiran itu pula mengecewakan kita. Yang demikian itu bukanlah sifat seorang panembah.

Yang terakhir dalam ayat ini adalah tentang ke-“aku”-an terkait dengan doership — aku telah berbuat ini, aku telah berbuat itu. Aku telah melakukan ini, aku telah melakukan itu.

Seorang panembah sadar bila badan dan indra yang melakukan sesuatu hanyalah alat. Alat badan tak akan pernah bergerak jika tidak digerakkan oleh otak. Otak adalah komandan badan. Sebab itu, ketika otak mengalami gangguan, apalagi stroke, badan sulit digerakkan, atau sulit diatur gerakannya.

Otak sendiri bukanlah segala-galanya.

la digerakkan oleh mind. Dan mind yang memberi kesan “aku” pun, sebenarnya hanyalah salah satu gelombang di dalam lautan Sang Aku Sejati, Sang Jiwa Agung.

 

REAS0NING SEPERTI INI, analisis seperti ini, pembedahan seperti ini, mesti dilakukannya purna-waktu oleh seorang panembah. Ia mesti selalu mengingat-ingatkan dirinya, bila Sang Jiwa Agung yang sesungguhnya Maha Menggerakkan, Maha Berbuat. Aku kecil ini, aku-“ku”, dan aku- “mu” hanyalah ikan-ikan kecil, gelombang-gelombang di dalam lautan Sang Aku Agung.

Kesadaran seperti ini mengantar kita pada penyerahan diri di mana kita sadar sesadar-sadarnya bila Hyang Maha Ada hanyalah Dia. Dialah segala-galanya. Dialah semua!

Seorang panembah berkesadaran seperti itulah yang disayangi Krsna. Seorang panembah seperti itulah yang bertindak sesuai dengan kodratnya.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s