Kebenaran di Dunia Masih Terkait Dimensi Ruang dan Waktu, Maya, Ilusi? Lampauilah?

buku dvipantara yoga sastra surga neraka

Gambaran Surga dan Neraka juga masih dalam dimensi ruang dan waktu?

Maya – Kekuatan yang bersifat ilusif memberi kesan “ada” padahal “tidak ada”. Maya memang diciptakan untuk memfasilitasi pertunjukan-Nya di atas panggung dunia ini. Seperti halnya para penyelenggara pertunjukan modern menggunakan sound system, lighting, dan berbagai peralatan mutakhir lainnya untuk memeriahkan pertunjukan – pun demikian Tuhan menggunakan maya untuk menciptakan berbagai ilusi!

UNTUK KELUAR DARI ILUSI ITU. Untuk mengetahui ihwal di balik panggung, kelayakan Arjuna hanyalah satu. Yaitu, “kedekatan”nya dengan Krsna. Hubungannya dengan Krsna. Inilah kelayakan Arjuna. Dekatilah Sang Sutradara – dan Ia akan membuka, mengungkapkan segala rahasia, sebagaimana yang terjadi antara Krsna dan Arjuna.

Dengan memuja-muji pertunjukan-Nya, dengan mengagumi ilusi-Nya – kita menjadi penonton yang baik. Namun hanyalah dengan cara bersahabat dengan-Nya – maka, Ia akan mengajak kita ke ruang rahasia-Nya. Bersahabatlah dengan-Nya! Dan, landasan bagi persahabatan adalah cinta-kasih, cinta-kasih yang tulus. Inilah kelayakan Arjuna yang mana mesti menjadi kelayakan diri kita juga. Penjelasan Bhagavad Gita 7:19 dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Leluhur kita dalam buku Tattva Sang Hyang Mahajnana mengatakan hal yang sama. Bahkan ilmu fisika pun adalah kebenaran dalam “Panggung Ilusi”, “Maya” yang melibatkan dimensi ruang dan waktu. Gambaran surga dan neraka pun masih gambaran dalam ruang dan waktu.

Silakan simak penjelasan leluhur berikut:

buku dvipantara yoga sastra

Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Pengetahuan tentang Purusa – makhluk berwujud dengan segala fakultasnya, termasuk keberadaan semesta ini sebagai tempat kerjanya – termasuk dalam kategori ilmu pengetahuan yang terkait dengan ruang dan waktu. Dan, adalah suatu kebodohan dengan menganggap bahwa pengetahuan tersebut, ilmu tersebut sebagai segala-galanya dan Purusa sebagai Realitas Puncak yang Langgeng. Kebodohan tersebut, ketidaktahuan tersebut menyebabkan kematian fisik dan kelahiran berulang.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 27

 

TIADA YANG SALAH DENGAN PENGETAHUAN TENTANG PURUSA, jangan sampai kita menyalahpahami arti dari sloka ini.

Juga tiada yang salah mengetahui tentang Prakrti atau Keberadaan. Tidak ada yang salah sama sekali untuk mengejar pengetahuan tersebut.

Apa yang salah adalah menganggap pengetahuan tersebut sebagai Pengetahuan Puncak.

Apa yang disebut sebagai kalasamkhya — Ilmu Pengetahuan tentang Ruang dan Waktu – adalah apa yang sekarang disebut dengan fisika, atau tepatnya ilmu tentang segala sesuatu yang terkait dengan fisik.

Berarti, selain segala cabang dari fisika modern, termasuk juga cabang-cabang pengetahuan seperti neurologi, genetika, dan lain-lain.

 

MALAHAN SESUNGGUHNYA, SEGALA SESUATU yang diajarkan di sekolah-sekolah kita saat ini — segala ilmu, segala seni, segala sesuatu termasuk dalam kategori Pengetahuan terkait Ruang dan Waktu, kalasamkhya atau kalajnana.

Jadi, sekali lagi, tiada yang salah dengan pengetahuan tersebut, ilmu tersebut, seni tersebut. Apa yang salah adalah menganggap pengetahuan tersebut sebagai pengetahuan tertinggi. Inilah kesalahan yang “dilakukan” oleh para ilmuwan kontemporer. Mereka mencoba untuk menemukan jawaban, solusi dari segala masalah akademis dan ilmiah melalui kalasamkhya yang secara harfiah berati Logika berdasarkan ilmu Ruang dan Waktu.

Kebanyakan rumusan, nilai, matriks; dan bahkan asumsi dan model mereka dibuat berdasarkan pemahaman mereka “saat ini” tentang Ruang dan Waktu. Bahkan, banyak di antara mereka tidak sepenuhnya memahami implikasi dari Hukum Probabilitas, konsekuensi alami dari Mekanika Kuantum.

Mereka harus mengganti semua paradigma mereka yang didasarkan pada pemahaman mereka saat ini tentang Ruang dan Waktu yang terkait dengan dunia. Bahkan untuk memahami galaksi kita dengan jumlah bintang yang terbatas antara 100-400 milyar saja, kita harus membuka diri kita terhadap segala kemungkinan, termasuk yang paling liar.

Resi penggubah risalah ini bahkan melangkah lebih jauh……

 

TENTANG JIWA INDIVIDU YANG MENEMPATI BADAN, katakanlah demikian, juga termasuk dalam Ilmu dan Seni terkait Ruang/Waktu.

Sementara itu, banyak kepercayaan menganggap segala sesuatu yang terkait dengan Jiwa sudah sebagai sesuatu yang bersifat spiritual, dan oleh karenanya, melampaui Ruang dan Waktu.

Substansi-Jiwa, atau, lebih tepatnya, “Substansi” dari Jiwa bisa saja spiritual, namun setelah berbadan, Ia bisa terdelusi untuk memercayai bahwa diri-Nya terperangkap dalam jaring samsara, kelahiran dan kematian berulang.

 

GAMBARAN TENTANG AKHIRAT, SURGA, DAN NERAKA yang diciptakan oleh kebanyakan sistem kepercayaan. Bukankah mereka hanyalah sekadar improved version, versi yang lebih baik dari kehidupan di bumi?

Ini dikarenakan gambaran-gambaran tersebut tercipta dalam dimensi Ruang/Waktu, dan oleh mereka yang bekerja dalam dimensi tersebut.

Apa pun yang “dihasilkan” dalam dimensi ini tidak bisa dibawa ke alam kematian fisik, apalagi melampaui ruang dan Waktu.

Apa yang hendak disampaikan oleh sang resi-penggubah adalah ini.

 

“JANGAN MENGANGGAP PERPADUAN RUANG/WAKTU INI sebagai kebenaran mutlak. Jangan menganggap apa pun dalam dimensi ruang/waktu ini sebagai satu-satunya realitas.

“Karenanya, jangan menganggap pengalaman-pengalaman di sini – termasuk fenomena Purusa, Jiwa yang mengambil badan, sehingga ‘menjadi’ makhluk berbadan – sebagai realitas.

“Lampauilah segala realitas yang hanya tampak nyata ini. Bahkan jika kau tidak mampu melakukannya, setidaknya sadarilah bahwa segala realitas yang hanya tampak nyata ini sebagai hal yang tidak Nyata! ”

“Yakinlah, Pengetahuan tentang Hyang Transenden pada akhirnya akan membantu kita melampaui realitas tubuh yang dihuni oleh Jiwa.

Ketika pelampauan tersebut terjadi, bahkan bila ia masih berupa “gagasan” dan “niat” – hidup akan berubah secara dramatis! Pengalaman tak terjelaskan – tapi bisa dialami dalam dimnesi tak berdimensi atau alam meditasi yang melampaui ruang dan waktu; setelah mengalaminya, ketika kita “kembali” ke dimensi ini, kita hanua bisa tersenyum, tertawa, tetapi tidak akan pernah bisa menjelaskannya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

 

Dalam FB:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s