5 Laku Mentransformasikan Kesadaran Raga menjadi Kesadaran Ilahi

buku dvipantara jnana sastra sita (kita) terobsesi Kijang (duniawi)

Sita (kita) terobsesi kijang emas (duniawi yang gemerlap) sehingga terpisah dengan Sri Rama (Gusti Pangeran) dan berada dalam kekuasaan Ravana (raksasa dalam diri kita). Hanya Hanuman (Bhakti) yang bisa mengembalikan Sita dari cengkeraman Ravana pada Sri Rama.

“Setelah memperoleh Kesadaran Ilahi selagi masih berbadan—adalah mudah untuk memperoleh keduanya, Sukha atau Kebahagiaan dan Nirvana atau Keadaan Kekosongan sampurna—Kebebasan. Sesungguhnya, inilah rahasia dari kehidupan, dari kelahiran—awal, tengah, dan akhir dari segala pengetahuan.” Ganapati Tattva 41

Ayat-ayat berikut menjelaskan apa Kesadaran Ilahi dan bagaimana cara memperolehnya, cara mentransformasikan Kesadaran Tubuh “Material” kita saat ini menjadi Kesadaran Tubuh Surgawi, Kesadaran “Ilahi”, bagaimana mengubah Tubuh Material kita menjadi Tubuh Ilahi……..

buku dvipantara jnana sastra

Cover Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Seorang sisya atau murid yang berhasrat memperoleh Bheda Jnana, Kebijaksanaan Memilah, hendaknya melakoni hal-hal berikut:

  1. Sraddhadhano — Mengganggap Sraddha atau Keyakinan sebagai Dhana atau Kekayaan Sejati;
  2. Jitendriya — Menaklukkan dan mengendalikan pancaindra;
  3. Dharmatma — Menjadi perwujudan Dharma atau Kebajikan; melakoni kebajikan;
  4. Vratasampano — Berpegang pada Vrata atau Komitmen, Sumpah yang dibuat terkait Laku Spiritual atau Sadhana kita; dan
  5. Guru Bhakti Melayani Guru atau Pemandu Spiritual, berarti mematuhi anjuran-anjuran yang diberikannya demi pertumbuhan spiritual kita.” Ganapati Tattva 42

 

SRADDHADHANO — Pertama-tama adalah keyakinan tak tergoyahkan akan sifat kekal dan abadi dari jiwa, Atma; mengetahui bahwa Jiwa Individu tiada lain adalah pancaran dari Jiwa Agung.

Inilah tujuannya.

Inilah maksud, akhir dari segala sadhana spiritual. Seorang pencari spiritual tidak meraba-raba dalam kegelapan. Maksudnya, tujuannya, akhirnya jelas. Seorang Sadhaka berupaya menyadari hal ini. Ia tidak puas dengan sekadar pengetahuan belaka. Ia ingin mengalaminya secara langsung.

 

JITENDRIYA — menaklukkan dan mengendalikan indra. Lakoni pengendalian diri. Jangan biarkan mereka menculik Anda!

Dalam epos besar Ramayana, Sita, pasangan Rama mewakili kita. Tergoda oleh kijang emas, yang mewakili dunia materi, ia diculik oleh Ravana, si raksasa.

Ravana mewakili raksasa dalam diri kita, sifat-sifat raksasa kita, hasrat kita akan materi. Kebangkitan Ravana dalam diri kita, memisahkan diri kita dari Gusti, dari Rama.

Hanyalah ketika Hanuman, yang mewakili Panembahan Tak Tergoyahkan pada Gusti bangkit dalam diri, barulah Sita, Jiwa Individu meraih kembali surganya yang hilang, pasangannya, Rama.

 

DHARMATMA — Menjadi Perwujudan Kebajikan, Kebaikan!

Sekadar pengetahuan tentang dharma atau kebajikan tidak berguna. Tidak ada gunanya. Seseorang harus melakoni dharma dalam pikiran, ucapan, dan tindakan.

Dan, apa itu dharma?

Semua kitab suci, termasuk Sara-Samuccaya yang telah kita terjemahkan ulang sebelum karya ini, menjelaskan saripati dharma dalam satu kalimat sederhana: “Lakukan pada orang lain apa yang kamu kehendaki orang lain lakukan padamu.”

Dengan kata lain, jika kita tidak mau disakiti orang lain, maka jangan menyakiti, jangan mencelakakan siapa pun. Jika kita mau dicintai orang lain, maka jangan membenci siapa pun.

 

VRATASAMPANO – Praktekkan Vrata atau Pembatasan, dan berpeganglah pada itu!

Master saya selalu mengingatkan kita berulang-ulang untuk keep a ceiling on desires, memberi batasan pada keinginan. Vrata adalah seperangkat sumpah — yang dibuat secara sukarela — untuk mempraktekkan disiplin diri.

Vrata atau Sumpah ini dirujuk sebagai Yama atau Pedoman Disiplin; Niyama atau Pedoman untuk Perbuatan Bajik; dan Sila atau Pedoman Hidup Beretika, Nilai-nilai Moral. Semua ini telah dibahas dalam terjemahan ulang Sara-Samuccaya dan Tattva San Hyan Mahajnana.

 

GURU BHAKTI— Layani Guru Spiritual Anda, dalam pengertian “Ikuti Anjuran” yang diberikan olehnya.

Banyak orang menganggap ini sebagai bentuk lain perbudakan. Bukan, sama sekali bukan, Guru Bhakti adalah tindakan penundukan ego secara sukarela.

Sri Ramakrishna menjelaskan fungsi, tugas dari seorang Guru sebagai seorang mak-comblang:

“Apa kau tahu apa itu Guru? Ia seperti seorang mak-comblang. Seorang mak-comblang mengatur perkawinan antara sang pengantin wanita dengan pengantin pria. Demikian seorang Guru mengatur persatuan antara Jiwa Individu dengan Kekasihnya, Hyang Ilahi.”

Ini adalah jawabannya atas pertanyaan dari Girish Chandra Ghosh, murid dari Sang Master Agung. Dalam “Reminiscences of Ramakrishna (Kenangan akan Ramakrishna)”, Girish menambahkan, “Sesungguhnya beliau tidak menggunakan kata ‘mak-comblang‘, tetapi istilah lain yang lebih kasar.” (dikutip dalam “Girish Chandra Ghosh” oleh Swami Chetanananda)

Jika kita tidak percaya pada sang mak-comblang, maka kita hendaknya tidak meminta bantuannya untuk mencari pasangan untuk kita. Sesederhana itu.

Jika kita tidak percaya pada seorang dokter, maka kita hendaknya tidak berobat padanya.

“Keyakinan” pada apa yang Master Spiritual katakan adalah tidak lebih dan tidak kurang dari keyakinan, iman kita pada supir kita untuk menyupiri kita, sebagaimana kata Master saya. Atau, pada tukang cukur, hair-stylist, yang memegang gunting di tangannya, tetapi kita tidak meragukannya. Sehingga ketika ia bekerja, kita bisa menutup mata dan beristirahat.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s