Apakah Kenyamanan Raga dan Kenikmatan Materi Mampu Membuat Kita Lebih Bahagia?

buku soul awareness new york

Lebih dari 3-4 di antara 10 orang yang kita temui  di setiap jalan-raya di kota besar di seluruh dunia adalah penderita gangguan jiwa, atau lebih tepatnya, sakit mental tingkat menegah.

Seorang Psikiater yang juga adalah seorang Guru Besar – mengatakan kepada saya bahwa di antara 100 orang, belum tentu ada 1 orang yang menurut Kriteria Standar Psikiatri, “betul-betul normal” – lebih parah lagi! Pasalnya setiap orang yang menderita stress berlebihan dan merasa tidak mampu menangani stressnya, sudah mengalami  gangguan mental. Dan, memang tidak mudah mencari seorang pun di antara kita yang betul-betul bahagia, atau setidaknya tenang, sehingga berani menghadapi segala tantangan dengan senyuman!

Kita melihat perbedaan yang jelas sekali antara “Pengalaman” Krsna dan “Pemahaman” para Motivator – Penceramah, pengkhotbah modern masih “mencari” keseimbangan antara dunia dan Tuhan, antara alam benda atau materi dan alam batin atau spirit. Bagi Krsna, alam benda dan Jiwa tidak sebanding, tidak bisa disejajarkan.

Alam benda adalah gambar-gambar yang sedang bergerak, bayang-bayang kita yang sedang diproyeksikan – sementara itu, Jiwa adalah Layar yang menjadi “Penopang” dan memberi kehidupan pada gambar-gambar yang sedang ditayangkan. Layar yang statis ini tidak terpengaruh oleh adanya banjir,tsunami, gempa, perang, kelahiran, kematian dan sebagainya. Layar tidak menjadi basah karena tayangan banjir. Ia tidak terbakar karena adegan pembakaran.

Tidak ada perbandingan antara gambar-gambar yang sedang diproyeksikan dan Layar. Mustahil. Tidak ada keseimbangan di antaranya – dalam pengertian Layar yang statis digerakkan 50% dan gambar-gambar yang sedang diproyeksikan diturunkan kecepatannya 50% – semuanya malah menjadi kacau.  Kekacauan inilah yang sedang kita saksikan di dunia – saat ini. Setiap orang bicara tentang “keseimbangan” tanpa memahami makna dan impliksinya. Keseimbangan seperti itu telah membuat kita agak  “rada-rada” – lebih dari 3-4 di antara 10 orang yang kita temui  di setiap jalan-raya di kota besar di seluruh dunia adalah penderita gangguan jiwa, atau lebih tepatnya, sakit mental tingkat menegah. Dikutip dari penjelasan Bhagavad Gita 7:5

 

Berikut ini relevansi meditasi dengan kaitannya stress dan sakit mental seperti dijelaskan dalam buku Soul Awareness berikut:

buku soul-awareness

Cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Ketika banyak yang masih meragukan relevansi meditasi, saya pun sudah menawarkannya sebagai solusi untuk berbagai macam persoalan yang menyangkut kesehatan fisik maupun mental/emosional. Tepatnya, untuk kesehatan secara holistis, menyeluruh. Bahkan, saya masih ingat betul, saat itu istilah “holistis” pun belum populer. Masih banyak yang bertanya, termasuk wartawan dan penulis kolom di surat kabar dan majalah,“Apa maksud holistis? Apa arti kata itu?”

 

Meditasi Tidak Sekadar Masih Relevan, bahkan saat ini menjadi kebutuhan. Dengan perkembangan teknologi yang sedemikian pesat, para neurosaintis kontemporer mulai menyimpulkan bahwa tiba-tiba saja otak kita terbebani oleh berbagai hal—0leh berton-ton informasi, ton loads of information—yang sebelumnya tidak pernah terjadi.

Sementara itu, para ahli psikologi dan psikiater yang berwawasan luas dan mau membuka diri terhadap perkembangan-perkembangan mutakhir, mulai menyadari pula bahwa cara-cara konvensional yang mereka tempuh untuk menangani berbagai keadaan yang menyangkut jiwa manusia, sudah tidak ampuh lagi, tidak cocok lagi. Sudah saatnya ada approach baru, pendekatan baru.

 

Teknologi Telah Berhasil Membuat Hidup Kita Lebih Nyaman. Tetapi, apakah kenyamanan raga dan kenikmatan materi saja mampu membuat kita lebih bahagia?

Lebih senang, mungkin.  Namun, kesenangan sesaat bukanlah definisi kebahagiaan. Kebahagiaan yang dimaksud dalam hal ini adalah ananda, kebahagiaan diri yang tidak terganggu oleh apa pun yang terjadi di luar.

Sejak awal 1980-an, saya sudah mempelajari dan melakukan riset kecil-kecilan tentang dampak kemajuan teknologi, kenyamanan hidup, kenikmatan materi, dan kebahagiaan sejati, keceriaan yang berasal dari dalam diri.

Saat itu, saya banyak mempelajari keadaan di negara-negara yang secara kolektif disebut Scandinavian countries, di antaranya adalah Swedia.

 

Swedia, Negara dengan Penghasilan per Kapita Tertinggi saat itu, mempunyai tingkat kematian dengan cara bunuh diri yang sama tingginya.

Jauh Iebih tinggi daripada tingkat kematian karena salah atau kebanyakan makan di Amerika Serikat, dan yang mati kelaparan di Bangladesh dan beberapa negara Afrika. Penelitian yang dilakukan oleh belasan universitas di Eropa dan Amerika itu, kemudian ditindaklanjuti oleh salah satu media di Singapura. Kesimpulannya: Di Singapura dan beberapa kota besar di Thailand, satu dari setiap sepuluh orang yang Anda temui di jalan adalah penderita sakit jiwa—dari ringan hingga berat, yang semestinya sudah dirawat di rumah sakit.

Keadaan itu bertambah buruk.

Saya pernah berdiskusi dengan seorang psikiater yang amat sangat terkenal, berdasarkan pengalamannya sendiri, ia menjelaskan: “Di kota-kota besar kita, seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dan sebagainya, jumlah penderita sakit jiwa sudah mencapai empat orang di antara sepuluh. Itu pun hitungan yang sangat konservatif. Banyak di antara mereka, bahkan tidak tahu jika sudah termasuk golongan penderita kejiwaan tingkat ringan yang, sewaktu-waktu, bisa berubah tingkat.”

 

Dengan Sedikit Pemicu dari Luar—misaInya, suatu pengalaman yang terjadi secara tiba-tiba dan di luar dugaan—seseorang bisa kehilangan keseimbangan diri dalam sekejap.

Saya pernah bercerita tentang seorang kawan yang berhasil memiliki bank, setelah banting tulang sekian lama. It was a dream come true. Tetapi tiba-tiba, baru berapa tahun menikmati keberhasilannya, ia didiagnosis menderita kanker, tumor ganas, di otaknya.

Ia menjadi gila.

Setiap orang yang ditemuinya ditantang, “Saya berikan 50% saham saya di bank. Atau ambil saja banknya, sembuhkan saya.”

Saat itu, saya tidak tahu apa yang menyebabkan kanker otak yang dideritanya, apakah murni alasan fisik?

Beberapa waktu lalu, saya baru tahu bahwa pemicunya adalah “suatu keadaan” yang bersifat sangat personal—saya tidak akan membahasnya di sini—yang membuatnya merasa hopeless, sama sekali tidak berdaya.

 

Berulang Kali Ia Berkata kepada Istrinya: “Lebih baik mati saja. Punya uang pun tidak berguna. Tidak membantu.” Selama setahun begitu terus, dan mengeluh pusing setiap saat. Tidak lama kemudian, ia didiagnosis menderita kanker otak.

Hikmah apa, pelajaran apa yang dapat kita petik dari pengalaman sahabat yang sudah tidak bersama kita? Jangan percaya, jangan meyakini keberhasilan materi. Nikmati keberhasilan Anda, namun jangan menganggapnya sebagai satu-satunya nilai kehidupan. Masih banyak nilai-niIai lain.

Di atas segala kenyamanan, segala kenikmatan, kesenangan, dan ketenangan—bahkan kedamaian hati dan kepuasan diri—adalah kebahagiaan sejati, ananda! Jika Anda menggadaikan kebahagiaan sejati itu demi kesenangan sesaat, sungguh merugilah Anda.

(Krishna, Anand. (2016). Soul Awareness, Menyingkap Rahasia Roh dan Reinkarnasi, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s