Pengembangan 6 Sifat Mulia untuk Meraih Kemanunggalan menurut Bhagavad Gita

buku bhagavad gita 6 sifat mulia

“Jangan ‘asal berkarya’ – jangan asal ‘berbuat’. Jangan asal ‘makan’. Jangan asal ‘hidup’. Berkaryalah dengan penuh kesadaran bahwa karya tersebut memuliakan (shreya). Bahwa karya tersebut tidak hanya memuaskan diri atau indra saja (preya), tetapi juga bermanfaat bagi kehidupan secara utuh, bagi lingkungan, bagi masyarakat.” Demikian penjelasan Bhagavad Gita 12:12.

Langkah berikutnya adalah bagaimana mengembangkan 6 sifat mulia untuk meraih kemanunggalan abadi pada penjelasan Bhagavad Gita 12:13-14 berikut:

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Bebas dari rasa benci terhadap sesama makhluk; bersahabat dengan semua, penuh welas asih; bebas dari ke-‘aku’-an dan rasa kepemilikan; sama dan seimbang dalam suka dan duka; penuh ketabahan, mudah memaafkan;”

“Puas dengan apa yang diraihnya, dan terkendali dirinya, senantiasa mengenang-Ku, manunggal dengan-Ku; pikiran, perasaan, serta inteligensianya terpusat pada-Ku; seorang panembah yang teguh dalam keyakinannya seperti itu sungguh sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:13-14

 

Inilah cara untuk mencapai kemanunggalan dengan semesta. Dengan cara ini seseorang merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta. Krsna mengajak Arjuna untuk mengembangkan sifat-sifat mulia, sebagaimana dijelaskan-Nya, untuk meraih kemanunggalan abadi.

 

PERTAMA: BEBAS DARI RASA BENCI — Berarti bebas dari rasa dendam, bebas dari kekecewaan, ketersinggungan dan lain sebagainya. Karena benci adalah produk dari perasaan-perasaan tersebut. Awalnya sekadar kecewa, tersinggung — kemudian marah, dendam dan benci. Ini adalah api yang membakar diri kita. Rasa benci adalah api neraka. Untungnya kita dapat menghindarinya.

Namun, bebas dari rasa benci pun tidak cukup. Krsna mengajak Arjuna untuk mengembangkan sikap positif — positive attitude — terhadap semua makhluk.

 

KEDUA: BERSAHABAT DENGAN SEMUA – Bersahabat di atas landasan welas-asih. Bukan bersahabat karena ada “mau”nya; ada keperluan materi, duniawi, atau keperluan lain apa pun. .

Kadang kita membungkus kepentingan duniawi murni dengan pembungkus rohani, “saya mencintai jiwamu, bukan badanmu” — ujung-ujungnya tetap juga kita menginginkan raganya.

Bukan, bukan persahabatan seperti itu, tetapi persahabatan tanpa kepentingan apa pun. Dan hal itu hanyalah mungkin jika kita mengembangkan Sifat…….

 

KETIGA: TANPA KE-“AKU”-AN DAN RASA KEPEMILIKAN – Ini punya-ku, itu milik-mu; aku begini, dia begitu. Semuanya ini merupakan kendala bagi seorang panembah.

Perjalanan spiritual adalah perjalanan dari aku menuju kita dan akhirnya mencapai “Dia” —hanya Dia.

Kemudian, bagi seorang panembah yang telah melampaui kepentingan diri, langkah berikutnya; sifat-sifat berikutnya menjadi mudah untuk ditempuh……..

 

KEEMPAT: SAMA DAN SEIMBANG dalam keadaan suka dan duka – tampak susah, sulit, tetapi sesungguhnya menjadi mudah ketika kita sudah mengembangkan 3 sifat sebelumnya. Khususnya jika kita sudah melampaui ke-“aku”-an dan kepemilikan.

Kecewa, benci dan lain sebagainya rnuncul karena “aku” merasa dirugikan, dizalimi, diperlakukan secara tidak adil. Jika “aku” telah terlampaui, maka rasa benci dan sebagainya pun gugur sendiri.

Kemudian, apa pun yang kita lakukan, termasuk perlawanan terhadap ketidakadilan bukanlah karena “urusan-ku”, tetapi karena urusan yang lebih tinggi, lebih mulia — karena urusan sesama makhluk hidup, urusan semesta, urusan dharma — kebajikan.

 

KELIMA: KETABAHAN DAN PEMAAFAN. Sifat-sifat sebelumnya membuka hati kita, diri kita, bagi ketabahan dan pemaafan. Sesungguhnya, ketabahan dan pemaafan adalah sifat yang saling terkait. Tanpa ketabahan, seseorang tidak mampu memaafkan. Sifat “gampang memaafkan” adalah buah dari ketabahan, yang membuat kita menjadi sabar.

Maafkan mereka yang “dalam ketidaktahuan dan kebodohannya” menyakiti kita, karena sesungguhnya mereka sedang menggali lubang bagi diri sendiri. Betapa bodohnyal Seorang bodoh patut dikasihani, kesalahannya dimaafkan. Dan jika memang membuka diri, maka perlu diberi pelajaran supaya tidak bodoh untuk selamanya.

 

KEENAMI KEPUASAN-DIRI – Tanpa kepuasan diri, kita selalu mengeluh, selalu merasa “kurang”. Kepuasan-Diri adalah “kekuatan”, energi yang dapat menyuntiki kita dengan sernangat untuk senantiasa berkarya to the best of our ability — kemudian leave the rest to God.

 

 

SEORANG YANG TELAH MENGEMBANGKAN sifat-sifat tersebut, menurut Krsna, adalah panembah yang sudah “kuat” tekadnya untuk mempersembahkan dirinya bagi kebaikan sesama.

Ia telah menemukan dirinya yang sejati — dan diri itu temyata sama dengan diri setiap makhluk. Tidak ada satu pun makhluk, satu pun Jiwa, yang tidak tersinari, tidak mendapatkan aliran kehidupan dari Sang Maha Diri Hyang Tunggal adanya, Sang Jiwa Agung.

Seorang panembah seperti itu akan “membersihkan” diri dari daki adharma, kezaliman, ketidakadilan dan sebagainya dengan semangat penyucian diri, bukan dengan semangat membenci. Untuk apa membenci daki?

Kekotoran di dunia ini, debu dan sampah — daki dan bau tidak sedap — semuanya dapat dibersihkan. Seorang panernbah tidak hanya berkarya tanpa henti untuk membersihkan dirinya; tetapi juga berkontribusi kepada kebersihan Bumi, kelestarian Alam.

Hendaknya kita tidak kecewa jika besok pagi menemukan lapisan debu yang baru di pekarangan gugusan pikiran serta perasaan kita. Inilah konsekuensi keberadaan kita di dunia ini. Bersihkan badan, bersihkan gugusan pikiran serta perasaan, dan jaga pula kesucian Kesadaran-Jiwa. Setiap hari, dari hari ke hari. Inilah nasihat Sri Krsna. Ini yang mesti kita lakukan untuk meraih kemanunggalan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s