Lampaui Nafsu dan Keterikatan, Lakoni Intisari Dharma agar Tidak Lahir Mati Berulangkali

buku medis meditasi reincarnation-and-karma

Umumnya manusia lahir untuk mati, dan mati untuk lahir kembali—demikian terjadi berulang-ulang. Mereka ibarat ilalang. Tidak melakoni dharma atau kebajikan; juga tidak pernah puas dengan kama atau kenikmatan indra.

(Sedemikian luas cakupannya sehingga) adalah sulit untuk memahami sifat dharma yang sebenarnya, sama sulitnya menentukan ayah seorang anak pekerja seks komersial.

(Sebab itu, kiranya cukuplah) jika kau memahami inti dharma atau kebajikan yaitu apa yang kau tidak sukai bagi dirimu sendiri, janganlah sekali-kali engkau berbuat seperti itu terhadap orang lain.

Silakan simak penjelasan leluhur tentang bagaimana melakoni dharma, setiap melakukan tindakan selalu sadar: “apa yang kita tidak sukai bagi diri kita, janganlah sekali-kali kita berbuat demikian terhadap orang lain,” seperti penjelasan tersebut di bawah ini:

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sara Samuccaya 47

Janganlah memperlakukan orang lain, dengan cara yang tidak menyenangkan bagi dirimu sendiri. Inilah intisari dharma atau kebajikan. Segala sesuatu yang lain bersumber dari kama atau nafsu.

 

Sara Samuccaya 48

Contohlah perbuatan para bijak yang penuh dengan pengendalian diri, berpegang teguh pada kebenaran, kesahajaan atau kesederhanaan, dan berada pada Jalur Dharma atau Kebajikan.

 

Sara Samuccaya 49

Ibarat roda sebuah kereta (yang menyebabkan gerak kereta dengan penumpang bersama segala isinya yang lain), pun demikian adanya dharma atau kebajikan. Ia meliputi segala bidang, segala aspek kehidupan. (Sedemikian luas cakupannya sehingga) adalah sulit untuk memahami sifat dharma yang sebenarnya, sama sulitnya menentukan ayah seorang anak pekerja seks komersial. (ini adalah idiom/peribahasa dan tidak merupakan suatu penghinaan – a.k.)

 

Sara Samuccaya 50

(Sebab itu, kiranya cukuplah) jika kau memahami inti dharma atau kebajikan yaitu apa yang kau tidak sukai bagi dirimu sendiri, janganlah sekali-kali engkau berbuat seperti itu terhadap orang lain. Berpegang teguhlah pada nasihat atau anjuran yang kau dengarkan ini.

 

Sara Samuccaya 51

Seperti padi tanpa isi di tengah tumpukan beras; atau semut/lalat bersayap di tengah burung-burung yang terbang tinggi — demikianlah kiranya keadaan seseorang yang tidak melakoni dharma atau kebajikan di tengah masyarakat. Pengertiannya, ia tidak akan dihargai.

 

Sara Samuccaya 52

Umumnya manusia ibarat ilalang. (Atau, manusia umum/biasa adalah seperti ilalang). Tidak melakoni dharma atau kebajikan; juga tidak pernah puas dengan kama atau kenikmatan indra. Mereka lahir untuk mati, dan mati untuk lahir kembali—demikian terjadi berulang-ulang.

 

Sara Samuccaya 53

Ada pula orang-orang yang tersesatkan oleh pikiran yang berkabut karena moha atau keterikatan. (Buddhi yang tidak berkembang, gugusan pikiran dan perasaan atau mind yang belum mengalami penghalusan, sehingga belum dapat memilih antara yang bajik nan mulia dan batil serta tidak mulia.) Perbuatan mereka melanggar dharma — nilai-nilai luhur kebajikan. Dengan mengikuti orang-orang seperti itu, penderitaan sajalah yang diperoleh.

 

Sara Samuccaya 54

Mereka yang tumpul tidak tertarik dengan dharma, dengan kebajikan. Sebab itu, mereka mengalami kehidupan ulang sebagai makhluk-makhluk rendahan, di mana tiada kebahagiaan bagi mereka.

 

Sara Samuccaya 55

Hasilkanlah harta yang tidak dapat dirampas oleh negara (lewat berbagai peraturan, perpajakan, dan lain-lain yang tidak wajar), atau dicuri oleh pencuri. Pun tidak tertinggal (di dunia ini) saat maut datang menjemput. Pengertiannya ialah: Hasilkanlah harta karma atau perbuatan baik dan mulia.

 

Sara Samuccaya 56

Seseorang yang berpegang teguh pada dharma atau kebajikan, sekalipun hidup dengan cara mengemis, sesungguhnya, adalah hartawan, seorang yang kaya raya. Dharma atau kebajikan adalah harta sejati bagi para bijak berperilaku mulia.

 

Sara Samuccaya 57

Dengan berpegang teguh pada dharma atau kebajikan, seandainya seseorang tidak meraih penghasilan yang cukup, maka hendaknya ia tetaplah berpuas dengan apa saja yang diraihnya — air, rempah-rempah, maupun gandum secukupnya.

 

Sara Samuccaya 58

Banyak rempah-rempah yang dapat diperoleh (secara gratis) dari hutan; sungai-sungai pun berlimpah dengan air jernih; dan cahaya bulan tetaplah menerangi (dalam kegelapan malam). Untuk tujuan apakah seseorang mesti mengejar harta hingga mati-matian dan menimbunnya?

 

Sara Samuccaya 59

Kendati sibuk dengan segala pekerjaan duniawi (mencari nafkah dan sebagainya), hendaknya seseorang tetap juga mengurusi perkembangan jiwanya, persis seperti kerbau di sawah, sembari membajak sawah, ia tetap punya waktu untuk makan rumput.

 

Sara Samuccaya 60

Sungguh sangat sulit memahami jalan dharma atau kebajikan, sebagaimana sulitnya seseorang menerka jalannya ikan-ikan dalam kolam air. Kendati demikian, seorang bijak yang telah tercerahkan dan terkendali dirinya, tetaplah giat dan aktif melakoni dharma atau kebajikan (berjalan di atas jalur dharma)

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s