Berbagi Berkah dengan Inteligensia Jangan Membabi Buta

buku dvipantara yoga sastra berbagi nasi bungkus

“Matahari mengajarkan kita untuk berbagi tanpa pilih kasih. Ia adalah sumber energi utama. Tanpa matahari kita tidak dapat membayangkan kehidupan. Ia memberi, dan memberi, dan memberi…. Hingga akhirnya ia akan ‘padam’ untuk selamanya. Adakah ia mengharapkan sesuatu dari kita? Adakah ia bekerja untuk memperoleh pujian? Tidak juga. Perhatikan cara kerja Matahari… Ia menyerap air laut, tetapi tidak menyimpannya bagi kroni, keluarga dan kelompoknya. Ia mendaur ulang air laut yang asin dan mengembalikannya sebagai air hujan yang bersih, murni! Adakah pelayanan yang diberikan oleh pemerintah sebanding dengan pajak yang ditariknya? Bagaimana pula dengan usaha-usaha negara lainnya? Adakah keuntungan dari usaha-usaha itu digunakan bagi kesejahteraan umum? Jika tidak, maka perhatikan Matahari setiap pagi, belajar, belajar, belajar!” (Krishna, Anand. (2011). Karma Yoga bagi Orang Moderen, Etos Kerja Transpersonal untuk Zaman Baru. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

………

Bagaimanakah jika kita memberi sanak saudara kita tapi hal tersebut membuat ketergantungan mereka pada kita? Leluhur kita di abad 8 sudah memberi nasehat bahwa matahari hanya memberi sinar, tapi bukan memberi nafkah sehingga orang yang diberi cahaya malas bekerja.

Silakan simak penjelasan Vrati Sasana 27 berikut:

buku dvipantara yoga sastra

Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sebagaimana matahari dan bulan yang berbagi cahayanya kepada semua tanpa syarat – yang tidak pilih kasih antara pengemis atau pangeran, rakyat jelata atau bangsawan – demikian pula hendaknya para bijak berhati murni senantiasa berbagi berkah tanpa pilih kasih dan kesombongan. Vrati Sasana 27

BERBAGI TANPA SYARAT DAN TANPA PILIH KASIH, juga tanpa kesombongan, tanpa arogansi, tanpa menjadi egois, “Lihat, lihat, bagaimana saya berbagi! Semuanya, lihatlah, aku memberi tanpa syarat.”

Mereka yang mempertunjukkan pemberian mereka hanyalah sekadar terlibat dalam semacam transaksi. Mereka memberi untuk mendapatkan nama, ketenaran, dan pengakuan dari masyarakat. Ini bukanlah berbagi, ini adalah iklan!

 

NASIHAT YANG PENTING DI SINI, “MEMBERI TANPA PILIH KASIH” hendaknya tidak disalahpahami sebagai “memberi tanpa pertimbangan”. Memberi tanpa pilih kasih adalah memberi tanpa syarat, tanpa memedulikan kebangsaan, ras, agama, atau afiliasi apa pun dari sang penerima.

Tidak berarti bahwa kita memberi tanpa pertimbangan dan membabi buta kepada mereka yang mungkin tidak membutuhkan pemberian kita, atau bahkan menyalahgunakan pemberian kita untuk mencelakakan diri mereka dan orang lain.

Izinkan saya mengutip beberapa contoh…….

 

DI PULAU JAWA, adalah kebiasaan yang umum hingga hari ini bahwa sanak-saudara yang kurang mampu – termasuk sepupu-sepupu jauh — akan mengerumuni orang yang-mampu. Dan, si orang mampu akan mengambil tanggung jawab untuk “memberi makan” mereka yang mengerumuni dirinya. Ini adalah kebanggaan bagi orang tersebut. “Tuhan telah memberikan saya segala sesuatu bagaimana bisa saya menolak mereka?”

Nah, oke, jangan menolak mereka, tetapi berhentilah sejenak untuk merenung, “Apakah saya membantu mereka dengan memberi mereka makan dan memenuhi bukan saja kebutuhan tetapi juga keinginan mereka yang semakin meningkat dari hari ke hari?”

Ada banyak, banyak sekali orang, yang keluarganya hidup sebagai parasit, tidak bekerja, dan bergantung sepenuhnya pada kemurahan hati dari paman, sepupu jauh, atau siapa pun yang kebetulan saja mampu dan berhati dermawan.

 

BERBAGI TANPA PERTIMBANGAN SEMACAM ITU TENTU SAJA BUKAN TINDAKAN YANG MULIA. Bukan hanya tidak membantu sang penerima, sesungguhnya itu akan memanjakan mereka, membuat mereka jadi malas.

Kebodohan semacam itu tidak bisa dikatakan sebagai tindakan tanpa pilih kasih.

Baik Matahari maupun Bulan berbagi cahaya mereka – dan itu saja yang mereka lakukan. Mereka memfasilitasi kita, supaya kita bisa menggunakan cahaya mereka untuk melihat, untuk bekerja, untuk melakukan apa saja. Mereka tidak bekerja untuk kita; mereka tidak menjalankan kantor kita; mereka tidak menafkahi kita.

 

“CINTAI SEMUA, LAYANI SEMUA” — Ya!

“Senantiasa Membantu, Tiada Pernah Menyakiti” — ya,ya,ya. .. Tidak Pernah Menyakiti! Jangan mencelakakan penerima pemberian kita dengan menjadikan mereka senantiasa tergantung pada pemberian, pada amal tersebut.

Mereka yang hidup bergantung pada amal telah melupakan martabat mereka sebagai manusia. Siapa pun yang berinteligensia akan membantu orang-orang tersebut untuk memulihkan martabat mereka — itulah tindakan yang mulia.

 

“BERBAGILAH, MEMBERILAH SEPERTI YANG DILAKUKAN OLEH MATAHARI DAN BULANI” Ini adalah anjuran untuk memberi tanpa pilih kasih. Ini adalah seruan untuk berbagi berkah tanpa pilih kasih, tetapi dengan penuh pertimbangan.

Ketika berbagi, ketika memberi, kita harus menggunakan inteligensia kita, “Apakah ini, pemberianku ini, bermanfaat bagi sang penerima? Apakah aku melakukan kebaikan atau malah mencelakakan dia?”

Master saya selalu mengingatkan kita bahwa satu-satunya pemberian yang bisa dilakukan “tanpa pertimbangan” adalah pemberian makanan kepada mereka yang “kelaparan”. Ketika seseorang kelaparan, berikan dulu makanan padanya. Janganlah berpikir “Orang ini sehat, tapi dia kelaparan, pastilah dia malas bekerja.”

Pikiran-pikiran tersebut harus menunggu.

Beri si lapar makanan, dan setelah itu, hanya setelah itu, berusahalah untuk membantu dengan cara yang inteligen sehingga ia tidak akan kelaparan lagi.

“Ketika seseorang sakit, berilah dia obat dulu, sembuhkan dia dulu — jangan membebaninya dengan pertanyaan-pertanyaan dan komentar seperti, “Anda pasti salah makan, itulah sebabnya……” Semua komentar tersebut harus menunggu. Si sakit harus sehat dulu, barulah Anda bisa menasihati dia agar dia tidak jatuh sakit lagi.”

Ringkasnya, “Berbagi atau Memberi Tanpa Pilih Kasih, namun Penuh Pertimbangan Memerlukan sedikit Inteligensia”. Ini adalah tindakan yang inteligen. Tanpa inteligensia, kita bisa menyebabkan lebih banyak celaka daripada kebaikan lewat kebodohan kita dengan memberi tanpa pertimbangan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s