Berdoa Mohon Terkabulnya Keinginan Ego atau Berserah Diri Pada-Nya?

buku ultimate learning Shri Chaitanya meninggalkan 8 ayat the ultimate learning

Shri Chaitanya Mahaprabhu dengan 8 ayat The Ultimate Learning

Menyadari kehadiran serta keterlibatan-Nya setiap saat tidak segampang berdoa sekian kali setiap hari atau setiap minggu, karena saat ini apa yang kita anggap berdoa hanya melibatkan fisik kita. Lapisan-lapisan kesadaran mental dan emosional pun sering tidak terlibat. Itu sebabnya saat berdoa, kita masih bisa berpikir tentang hal-hal yang tidak berkaitan dengan ibadah kita.  Lalu bagaimana berserah diri sepenuhnya? Bagaimana berdoa dengan khusuk? Dalam sutra ini, Narada menyebut tiga hal – keinginan, amarah dan keangkuhan. Saat berdoa pun ketiga-tiganya masih ada. Misalnya berdoa untuk memperoleh sesuatu. Entah sesuatu itu rumah di Simprug atau kapling di Surga, keinginan tetaplah keinginan. Kemudian, amarah. Bila ada keinginan yang tidak terpenuhi, doa pun bisa menjadi luapan amarah. Dan, keangkuhan… Saat berdoa, ‘aku’ masih hadir. ‘Aku’ berdoa. ‘Aku’ rajin berdoa.” (Krishna, Anand. (2001). Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Keinginan kita atau harapan kita belum tentu sesuai , Kehendak Dia, Kehendak Gusti. Bagaimanakah berdoa yang selaras dengan Kehendak-Nya?

Silakan simak penjelasan kutipan buku The Ultimate Learning di bawah ini:

buku ultimate learning

Cover Buku The Ultimate Learning

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Berharap pada Gusti Pangeran

 

Ada yang membenarkan pengharapan pada Pangeran, “Boleh dong berharap pada Gusti?” Boleh-boleh saja, tidak ada yang melarang. Tapi, jangan menyalahkan siapa-siapa jika harapanmu tidak terpenuhi. Karena setiap harapan mengandung risiko kekecewaan.

Harapan adalah proyeksi keinginan kita, kemauan kita. Harapan kita belum tentu selaras dan sesuai dengan rencana Gusti Pangeran bagi kita. Hendaknya kita ingat bahwa Sang Mahacinta bukan jongos kita yang wajib memenuhi setiap harapan kita.

Percaya diri berarti sepenuhnya percaya, memahami, menerima rencana Gusti Pangeran bagi kita, dan tidak menolaknya dengan memunculkan harapan yang tidak sesuai dengan rencana itu.

Percaya diri berarti memahami diri kita sebagai pantulan kehendak-Nya. Percaya diri yang menjauhkan kita dari Gusti Pangeran bukanlah percaya diri, karena kita tidak memiliki eksistensidi luar-Nya.

Saat percaya diri seperti itu muncul, terjadilah panembahan. Tanpa percaya diri, kita tidak dapat manembah. Bagaimana mempersembahkan diri, jika kita belum juga menemukan jati diri? Apa yang akan kita persembahkan?

Percaya diri menuntun kita pada tahap panembahan. Tiada harapan dalam tahapan-tahapan Mereka yang masih berharap pada Gusti Pangeran sesungguhnya menyangsikan kemahatahuan-Nya.

 

Jiwa Panembahan

 

Setelah membaca uraian ini, barangkali ada yang cepat-cepat ingin menjadi seorang panembah. Tidak bisa. Tidak mungkin.

Kita tidak bisa menjadi seorang panembah. Kita hanya dapat mengungkapkan jiwa panembahan kita. Karena, sesungguhnya setiap jiwa hendak menyembah, mempersembahkan diri, kembali pada asalnya, menyatu kembali clengan Gusti Pangeran.

Jiwa, atau semangat untuk menyembah ini tertimbun dibawah keinginan duniawi yang bertambah terus setiap hari. Selain harapan, keinginan yang tak terpenuhi memunculkan juga rasa kecewa, amarah, dan sebagainya. Keinginan asal jiwa, semangat untuk manembah pun kian hari mengendap ke bawah. Lalu, bagaimana mengungkapkannya? Bagaimana membawanya ke permukaan?

Satu-satunya cara adalah dengan melakukan introspeksi diri. Apakah kita bahagia dan puas dengan hidup kita saat ini?

Jika jawaban kita adalah “ya”, maka sulit untuk memunculkan jiwa panembahan yang tertimbun di bawah berbagai macam keinginan, harapan, dan sebagainya. Belum waktunya, belum saatnya.

Jika jawaban kita “tidak”—kita tidak bahagia, tidak puas dengan hidup kita saat ini—maka ada harapan bagi semangat panembahan kita untuk muncul ke permukaan.

Kemudian, yang dibutuhkan adalah:

 

Pemicu Kesadaran

 

Pemicu awal bisa dalam bentuk apa saja. Barangkali dari tulisan atau buku yang kita baca. Namun, bacaan saja tidak cukup. Kira mesti mengamalkan apa yang kita baca atau kita dengar dari seseorang yang telah bangkit jiwa panembahannya.

Jika seseorang belum bangkit jiwa panembahannya, ia tidak dapat membantu orang lain. Demikian juga halnya dengan tulisan mereka yang belum terbangkit jiwa panembahannya.

Lalu, bagaimana mengetahui bahwa jiwa panembahan seseorang telah bangkit? Dari mana kita tahu seseorang telah mencapai tahap kesadaran di mana dirinya bisa menjadi pemicu?

Dari kedamaian dirinya. Dari keceriaan dan kebahagiaannya. Dari kesiapsediaannya untuk menghadapi tantangan hidup seberat apa pun. Hidup para panembah adalah pesan mereka. Mereka berpesan lewat laku hidup mereka sendiri.

Ada yang menyebut pemicu kesadaran guru, master, bhagavan atau begawan (berarti ia terberkati, tentunya yang dimaksud adalah terberkati oleh kesadaran. Dan, bukan dia saja, siapa pun bisa terberkati seperti itu).

 

Kesadaran Bukunlah Monopoli Seseorang

 

Setiap orang yang sadar tahu persis bahwa pencerahan atau jiwa panembahan bukanlah monopoli dirinya. Kesadaran adalah hak setiap orang walaupun ada yang tersadarkan lebih awal dan ada yang agak lamban. Hanya berbeda waktu saja, tidak ada perbedaan lain yang mendasar.

Banyak orang berlomba untuk menjadi guru. Seolah dengan menyatakan diri sebagai guru ia tersadarkan. Tidak demikian. Pernyataan dan pengakuan diri tidak membantu. Arti kata guru dalam bahasa Sansekerta adalah “bebas dari kegelapan kebodohan yang disebabkan oleh ketidaksadaran”.

Ungkapan Jaya Guru Deva dalam bahasa yang sama berarti, “berjayalah kemuliaan yang membebaskan diri dari kebodohan yang disebabkan oleh ketidaksadaran”. Kemuliaan ini berada di dalam diri kita sendiri. Sumber kesadaran berada di dalam diri kita sendiri. Jiwa atau semangat panembahan tidak berasal dari luar diri.

Seorang guru sejati hanya mengingatkan kita bahwa kita tidak membutuhkan bantuan siapa-siapa. Kita bisa membantu diri sendiri. Kita bisa membebaskan diri dari kebodohan, dari ketaksadaran. Kemuliaan ada di dalam diri setiap orang, tinggal digali, ditemukan, dan diungkapkan.

Seorang guru sejati membebaskan kita dari segala macam ketergantungan, termasuk kebergantungan pada dirinya. Hanya seorang seperti itu yang dapat membantu.

Hendaknya kita selalu ingat bahwa sesungguhnya kita sendiri yang dapat membantu diri sendiri. Kita sendiri yang mesti membantu diri sendiri. Dan, kita dapat melakukannya, asal kita percaya diri. Itu saja.

 

Maka, doa kita pada Tuhan bukanlah untuk memiliki-Nya, tapi untuk berserah diri pada-Nya; untuk mengatasi segala macam rintangan, yang selama ini memisahkan kita dari-Nya; dan untuk meningkatkan kesadaran kita dalam panembahan dan pelayanan, dalam kebajikan, dan kasih. (Rabindranath Tagore)

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s