Tragedi dalam Akhir Kehidupan Kita Semua! Mengapa Tidak Belajar Dari Pangeran Siddharta?

buku dvipantara Jnana Sastra siddharta pengalaman

“Konon Pangeran Sidharta Gautama adalah sangat peka dalam memandang kehidupan. Saat melihat orang sakit, dia sadar bahwa dia pun dapat mengalami sakit dan semua orang juga dapat mengalami sakit. Suka atau tidak suka, keadaan sakit akan mendatangi semua manusia. Kemudian kala Sang Pangeran melihat orang tua yang sedang sekarat, dia pun sadar bahwa pada suatu saat dia pun akan mengalami hal yang sama, demikian juga semua orang akan mengalami hal tersebut, mengalami saat-saat sang maut datang menjemput. Selanjutnya saat Pangeran Sidharta melihat orang mati, kembali dia sadar bahwa setiap orang akan mengalami kematian, termasuk dirinya juga mengalami hal sama. Sang pangeran juga melihat orang yang ketakutan saat maut menjemput, akan tetapi ada satu-dua orang yang tersenyum saat maut menjemputnya. Peristiwa itu menghunjam ke dalam dirinya, sehingga sang pangeran meninggalakn istana untuk mencari solusi bagi penderitaan yang dialami manusia.”

“Kita pun juga pernah mengalami hal yang sama, kita sudah melihat penderitaan orang yang sakit. Kita sudah pernah melihat orang dekat kita, mendekati kematian dalam keadaan berbaring di rumah sakit dengan berbagai selang infus dengan grafik komputer yang menunjukkan bahwa dia dalam keadaan kritis. Kita juga beberapa kali takziah mendatangi upacara pemakaman orang-orang dekat. Akan tetapi mengapa hati kita tidak terketuk seperti Pangeran Sidharta?” dikutip dari pengalaman perjalanan napak tilas jejak langkah Sang Buddha: Napak Tilas Jejak Langkah Sang Buddha Bag 9 (Terakhir): Sarnath dan Sungai Gangga.

Silakan lihat: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2014/12/29/napak-tilas-jejak-langkah-sang-buddha-bag-9-terakhir-sarnath-dan-sungai-gangga/

Nasehat Bapak Anand Krishna yang saya tulis dalam catatan di tahun 2014 tersebut kembali teringat saat membaca Dvipantara Jnana Sastra, Kitab Ganapati Tattva sloka 17 di bawah ini:

buku dvipantara jnana sastra

Cover Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

 “Mereka yang memuja Para Linga, Bahya Linga, atau Linga Ekstemal sesungguhnya adalah insan-insan yang tersesat. Apa yang mereka peroleh dari pemujaan luaran tersebut sungguh tidak berarti dan sangat terbatas.” Ganapati Tattva 17

 

ADA PENEKANAN DI SINI untuk mengalihkan kesadaran kita dari hal luaran ke dalam diri.

Linga Eksternal tidak lain adalah Bayangan dari Linga Intemal. Dengan bodohnya, kita para insan yang tersesat, hanyalah berlari mengejar bayangan. Mengejar bayang-bayang. Apa yang telah kita peroleh sejauh ini?

Mari kita melakukan sedikit pembukuan.

Mari kita menghitung semua momen-momen bahagia, momen-momen yang sungguh bahagia; dan pengalaman-pengalaman sedih, duka, menyakitkan – periksa timbangannya!

Marilah kita belajar dari pengalaman Pangeran Siddhartha — marilah kita merenungkan tahun-tahun “akhir”, fase “final” dari kehidupan kita… Apakah kita menangkap gambaran-gambaran yang menarik? Mungkin kita perlu mencoba untuk melihat gambaran diri kita menurut komputer saat berusia 80. Apakah kita mengenali diri kita?

 

SAYA MENDISKUSIKAN SUBJEK INI DENGAN SEORANG TEMAN MILIUNER, dan ia mengeluh, “Ketika saya merenung – saya merasa seperti ditipu Tuhan. Akhir kehidupan begitu tragis. Saya telah rnelalui begitu banyak kesulitan demi mengumpulkan harta, menginvestasikannya, dan apa hasilnya?!? Seiring saya menua, saya menyadari bahwa saya akan meninggalkan semua ini untuk dinikmati orang lain — saya berharap mereka menikmatinya, karena saya tidak sempat menikmatinya, saya terlalu sibuk mengumpulkan harta — atau menyalahgunakannya!

“Hidup bagaikan Tragedi ala Shakespeare. Mungkin malah lebih tragis dari drama-drama Shakespeare,” inilah kesimpulannya — kesimpulan dari seorang multi-miliuner.

Apakah kita belajar dari pelajaran tersebut?

Tidak, kita tidak belajar. Kita membuat kesalahan-kesalahan yang sama, dan kita- berakhir setragis mereka yang mendahului kita.

 

PANGERAN SIDDHARTHA BELAJAR DARI HAL-HAL YANG DIA LIHAT. Seorang tua mengingatkannya pada usia tuanya sendiri. Seorang sakit, jenazah seseorang — semua itu rnenyadarkannya akan pasti berakhirnya semua kehidupan.

Jadi, ia berpaling ke dalam diri.

Ia mengalihkan fokusnya dari Linga eksternal ke Linga Internal, Atma Linga atau SvaLinga. Dan, lihat! Ia tercerahkan…

Ia menjadi Buddha, atau tepatnya, menemukan Buddha di dalam diri!

 

PERTUNJUKAN “WAYANG KULIT” yang sangat populer di kalangan masyarakat Jawa, Sunda, dan Bali dari Dvipantara — kepulauan Indonesia sekarang — dapat digunakan sebagai analogi.

Para penonton hanya bisa melihat bayangan-bayangan di layar. Di balik layar, duduklah sang dalang — hanyalah ia dan rekan-rekannya yang bisa melihat dan mengapresiasi wayang-wayang yang berwarna-warni.

Pertunjukan bayangan yang kita lihat adalah Linga eksternal. Wayang sungguhan yang berwarna-Warni yang dilihat oleh sang dalang dan rekan-rekannya adalah Linga internal.

 

SEMUA WARNA-WARNI DARI PARA, BAHYA, ATAU LINGA EKSTEKNAL direduksi menjadi dua warna hitam dan putih, kelahiran dan kematian, baik dan buruk menurut perspektif seseorang.

Jarak yang kita “petakan” antara dua titik kelahiran dan kematian, yang kita sebut sebagai kehidupan sesungguhnya tiada lain adalah sebuah pertunjukan bayangan.

Wayang-wayang tersebut tidak baik ataupun buruk. Jika Anda melihat wayang-wayang tersebut, Anda akan berseru, “Betapa indah!”

Jika Anda tidak familiar dengan karakter-karakter yang diperankan oleh wayang-wayang tersebut, Anda mungkin malah memilih karakter yang buruk. Karena, memang karakter-karakter jahat tersebut tidak hanya terlihat seindah yang lain, tetapi juga kelihatan berotot. Mereka kelihatan besar, kuat, dan bertenaga. Mereka kelihatan bagai pahlawan. Sernentara, pahlawan “sungguhan” malah sering kelihatan kurus, terkesan lemah, lembut.

 

SAAT INI PUN, KETIKA KITA MELIHAT KE DALAM DIRI — kita mungkin menemukan Linga Internal atau Atma sangat lemah, kurus. Mulanya, kita mungkin bahkan tidak melihat-Nya. Sebelum cara pandang kita tersesuaikan untuk melihat ke dalam diri, segalanva tampak kabur, tampak berbayang.

Sementara, Linga Eksternal tampak begitu jelas, begitu nyata. Lucu bukan? Bayangan bisa tampak nyata di mata kita, karena conditioning kita. Kita sedemikian terbiasa dengan ketidaknyataan segala sesuatu di sekitar kita sehingga kita tidak lagi menganggapnya tidak nyata. Kita menganggap mereka nyata.

Renungkan ini.

Apa pun gambaran yang tertangkap oleh mata kita, diterima dalam bentuk terbalik dan diproyeksikan demikian oleh retina kita. Bahkan, semua gambar yang “terekam” dalam memori kita sesungguhnya terbalik. Ada sebuah bagian kecil dari otak kita yang sudah terkondisi, yang memperbaiki “kesalahan ini” dengan membalik semua gambar tersebut.

Sungguh ajaib!

Kita melihat segala sesuatu secara terbalik, tetapi komputer otak mengatakan “Itu tegak, tidak terbalik” dan, kita mengikuti apa kata otak.

Apakah kita memahami hal ini?

 

KITA MUNGKIN MELIHAT SEORANG BUDDHA, tetapi jika otak tidak terkondisi untuk mengenali seorang Buddha, ia mungkin menyimpulkan “Dia adalah seorang penipu”, dan kita akan percaya dengan kata otak. Untuk mengenali seorang Buddha, seorang Kristus, seorang Nabi, seorang Avatar – otak kita harus memiliki referensi rujukan. Tanpa referensi tersebut, conditioning tersebut, otak akan gagal bahkan untuk mengenali Tuhan jika Tuhan mewujud di hadapan kita!

Demikian pula, adalah sangat, sangat sulit bagi sebagian dari kita yang terbiasa memuja Linga Eksternal, dunia luaran yang penuh bayangan, sistem kepercayaan eksternal, untuk berpaling ke dalam diri dan memuja Linga Internal dan mengapresiasi keindahan-Nya yang tak tertandingi.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s