Penonton, Resi, Mahatma, Avatara, Sadguru Dalam Panggung Sandiwara Dunia

buku yoga sutra patanjali panggung sandiwara

“Panggung pergelaran terbatas yang terkait dengan kita, keluarga kita, tempat kita bekerja, kawan dan kerabat kita—adalah untuk Jiwa Individu kita. Lalu, kita lahir kembali, dan mati lagi berulang-ulang—kita tetap berada dalam lingkungan yang sama. Menjenuhkan, membosankan. Jika kita tidak merasa jenuh, ada yang tidak beres dengan diri kita.” Yoga Sutra Patanjali II.21

Bagaimana cara keluar dari panggung sandiwara dunia? Bagaimana bisa bertemu dengan Para Resi, Para Saksi, Para Mahatma, Para Sadguru pembimbing ruhani kita?

Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.22 di bawah ini:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ia (— keberadaan, alam benda, prakrti) hancur lebur lenyap, dan menjadi tak ada bagi (— Jiwa Individu atau Jivatma) yang telah tercapai tujuannya. Namun, tetap ada bagi mereka yang belum mencapai tujuannya.” Yoga Sutra Patanjali II.22

 

Banyak sekali kesalahpahaman terjadi karena sama-sama menerjemahkan Jivatma dan Purusa sebagai Jiwa; atau menerjemahkan Purusa sebagai Jiwa Agung atau Paramatma. Adapun berlangsungnya kesalahpahaman itu dari satu komentator ke komentator lain membuktikan bahwa banyak pula komentator yang memperlakukan karya agung Patanjali ini sebagai karya filsafat atau sastra, dalam pengertian Iiteratur saja.

 

TANPA MELAKONI YOGA, tanpa mengubah gaya hidup kita menjadi Yogic, kesalahpahaman seperti ini akan selalu terjadi.

Membaca sutra-sutra ini tanpa mulai mempraktikkannya adalah sama dengan membuang waktu. Bedafilsafat Timur dengan filsafat Barat adalah pada Lakunya.

Padahal awal mula filsafat Barat pun tidaklah tanpa Laku. Satu contoh saja, Pythagoras diakui sebagal matematikawan sekalgus Bapak Ilmu Medis. Apakah Ilmu Medis bisa eksis tanpa praktik? Apa gunanya mempelajari Ilmu Medis tanpa mempraktikkannya? Bahkan, untuk apa ada Ilmu Medis, jika bukan untuk mengobati orang sakit. Inilah Laku.

Tapi, sisi lain Pythagoras tetap saja terlupakan, yaitu sisi spiritualnya, kepribadiannya sebagai seorang mistik, seorang spiritualis, seorang resi. Sekarang, baru-baru ini, dunia barat mulai melihat sisi tersebut.

Jika dilihat dari sisi tersebut, Pythagoras bukanlah sekadar filsuf dalam pengertian pemikir saja, tetapi ia pun seorang pelaku spiritualisme—seseorang yang sangat terpengaruh oleh spiritualisme Timur.

Patanjali sama seperti filsuf awal di Barat, pemikir sekaligus pelaku. Saatnya kita kembali pada sutra.

 

PRAKRTI ATAU ALAM BENDA—SECARA KOLEKTIF–EKSIS KARENA, DEMI PURUSA. Berarti, selama Purusa masih tertarik dengannya, Prakrti akan tetap ada.

Kita sederhanakan sedikit, Pergelaran Keberadaan digelar karena adanya penonton. Nah, kerumunan penonton ini, secara kolektif disebut Purusa. Pergelarannya adalah Prakrti.

Beda Pergelaran Keberadaan dengan pergelaran-pergelaran versi kita adalah “durasi”-nya. Pergelaran versi kita ber-“durasi” sekian menit atau sekian jam. Kemudian bubar, penonton meninggalkan ruangan. Setelah beberapa lama, atau keesokan hari digelar lagi, dan mengulangi apa yang terjadi pada hari sebelumnya.

Durasi pergelaran versi kita sangat pendek.

Sebaliknya, durasi Pergelaran Kolosal Keberadaan sangat, sangat panjang. Bahkan, jika dikaitkan atau dibandingkan dengan masa kehidupan, usia atau life-span seseorang, boleh dikata Pergelaran Keberadaan ini Tanpa Awal dan Tanpa Akhir.

Sekarang, persoalannya tinggal kapan kita jenuh, bosan, sudah merasa “cukup menonton”, sudah paham dengan alur ceritanya, sudah mengambil hikmah dari apa yang ditonton, dan meninggalkan teater tempat pergelaran itu berlangsung.

 

AKSI “MENINGGALKAN TEATER” ADALAH AKSI PRIBADI—dalam pengertian, yang meninggalkan teater, meninggalkan pergelaran adalah Jivatma, atau Jiwa-Jiwa Individu.

Kemudian, bagi Jiwa-Jiwa Individu yang sudah meninggalkan ruangan, meninggalkan teater, pergelaran itu sudah berakhir. Tiada pergelaran baginya. Tiada teater, tiada ruangan tempat mereka pernah berada untuk menyaksikan pergelaran.

Sementara itu, bagi Jiwa-Jiwa Individu yang masih menyaksikan pergelaran, jelas pergelaran itu masih ada.

Pergelaran “tidak ada” bagi mereka yang sudah meninggalkan teater. Pergelaran “tetap ada” bagi mereka yang masih berada dalam teater, masih menonton.

Hingga pada suatu ketika nanti, rombongan terakhir bersama-sama meninggalkan pergelaran. Maka lampu pun dipadamkan. Tidak ada lagi “secuil” pun Purusa (kata secuil sangat tidak cocok, tapi terpaksa digunakan untuk mempermudah pemahaman kita), dan pergelaran pun tidak ada. Jelas? ‘

Sekarang tentang apa yang disebut sebagai

 

TERCAPAINYA TUJUAN ATAU KRTARTHAM. Krta berarti “sudah selesai” atau “sudah dikerrjakan—done, finito, finished, completed. Artha berarti maksud, tujuan, makna, arti. Bahkan, Artha juga digunakan untuk “harta”—uang.

Dalam sutra ini, istilah Krtartham memiliki makna “sudah tercapainya tujuan”. Pertanyaannya, “Apa yang menjadi tujuan?” dan “Tujuan siapa saja?”

Ada beberapa, tepatnya “dua kepentingan” yang sedang bermain bersama.

Prakrti, Alam Benda, Pergelaran Keberadaan “bertujuan melayani Purusa atau Gugusan Jiwa-Jiwa Individu, Gugusan Jivatma”. ltu tujuan Prakrti, Tujuan Alam Benda, Tujuan Keberadaan,  Tujuan Pergelaran Kolosal Keberadaan.

Nah, Tujuan Purusa sesungguhnya adalah untuk menikmati pergelaran. Itu saja. Titik. Purusa atau Gugusan Jiwa-Jiwa adalah ibarat Cahaya Matahari, di mana Matahari-“Nya” adalah Paramatma, Sang Jiwa Agung!

 

KITA BARU BISA BERASUMSI dengan menggunakan kesadaran kita saat ini, dengan menggunakan Buddhi atau Inteligensi kita saat ini—dan untuk saat ini, kiranya tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal.

Berkepentingan apakah Sang Jiwa Agung sehingga mesti menggelar pergelaran ini? Para resi, “mereka yang telah menyaksikan”—dalam pengertian mereka yang telah melebur dalam Kesadaran Saksi memberitahu bahwa pergelaran ini adalah Lila, sebuah permainan, Divya-Lila, Divine Play, Permainan llahi, Permainan Mulia yang digelar-Nya demi permainan, demi Lila, demi “hiburan”. Ia Hyang Tunggal berkehendak untuk menghibur Diri-Nya, maka Ia menjadikan pergelaran kebendaan, prakrti; dan lewat Cahaya-Nya sendiri, lewat Purusa, Ia menyoroti panggung pagelaran itu-—dan, lho, semuanya menjadi terang benderang. Para pemeran, yang juga ada karena kehendak-Nya, dibuat-Nya sibuk dalam permainan, dalam sandiwara.

 

DENGAN KEKUATAN—NYA PULA—yang disebut Maya—,yaitu kekuatan atau daya yang menciptakan berbagai ilusi, Ia mengubah setting, menentukan peran setiap pemeran, termasuk mengatur peraturan-peraturan on-stage berupa hukum-hukum alam. Ia pula Hyang sedang Menikmati semua-Nya. Ia-lah Penikmat Tunggal.

Ketika seseorang meraih kesadaran ini, kesadaran sebagai Saksi, Kesadaran Saksi, maka ia boleh memilih untuk berhenti atau tetap menikmati tontonan dengan kesadaran baru.

Para penonton dengan kesadaran-baru, dengan kesadaran saksi inilah yang disebut Jivan-Mukta. Mereka sesungguhnya sudah Mukta, sudah moksa, sudah bebas—tapi memilih sendiri untuk tetap berada di teater keberadaan sebagai penonton.

 

KETIKA SEORANG JIVAN MUKTA dengan Kesadaran-Saksi ikut mengambil tugas, mengembani dirinya dengan tugas—entah di belakang layar atau di depan layar sebagai salah satu “pemeran berkesadaran”—maka ia disebut Mahatma, Berjiwa Maha, Besar, Mulia.

Sementara itu, Avatara adalah mereka para Mahatma yang sudah manunggal dengan Purusa, kemudian atas kehendak-Nya “kembali” berkunjung ke dunia benda. Para Pengunjung Mulia ini, sejak kelahirannya sudah sadar akan jati dirinya. Mereka para Avatara inilah yang disebut Sadguru, atau Pemandu Sejati. Mereka sudah punya pengalaman sendiri, pengalaman first hand manunggal dengan-Nya, jadi mereka tahu persis tentang apa saja dalam “perjalanan pulang”. Mereka mengetahui setiap tikungan, segala tantangan, segala kemungkinan dalam perjalanan pulang.

 

KITA SEMUA MASIH BERADA DI ATAS PANGGUNG—kita menganggap diri kita sebagai pemeran yang “seolah” berkarakter sebagai peran yang sedang kita mainkan. Ego-individualistis yang tercipta membuat kita larut dalam peran kita masing-masing. Kita sepenuhnya mengidentifikasikan diri kita dengan peran kita. Identifikasi inilah yang membuat sandiwara kehidupan begitu seru! Seolah setiap adegan, setiap kejadian di atas panggung “betul-betul” terjadi.

Ya, “betul-beltul” terjadi sebatas permainan, sebatas adegan. “Tidak terjadi” betul-betul karena semua adalah bagian dari sandiwara, dari pergelaran kolosal.

Sedikit perhatian, sedikit untuk diperhatikan.

 

WALAU TAMPAK SAMA-SAMA SEDANG BERMAIN di atas Panggung prakrti ini. di antara kita bisa jadi ada seorang Mahatma, ada seorang Avatara, ada seorang Sadguru atau Pemandu Rohani.

Adalah suatu keberuntungan yang luar biasa jika kita berkenalan dengan mereka, bersentuhan dengan mereka. Adalah suatu berkah yang tak tertandingi, ketika peran kita mengantar kita ke wilayah permainan mereka, ketika kita berhadapan dengan mereka.

Saat itu, Jiwa tidak bisa tidak mengenali mereka. Adalah gugusan pikiran serta perasaan yang sering mengintervensi dan membuyarkan Kesadaran Jiwa. Sebab itu, kita mesti cepat-cepat mengembangkan buddhi atau inteligensi supaya tidak terkibuli oleh mind, oleh gugusan pikiran dan perasaan.

 

BUDDHI ATAU INTELIGENSI adalah Jembatan-Cahaya yang mempertemukan Jiwa dengan Gugusannya, dengan Sang Purusa, Pribadi Agung.

Mereka yang bisa mengenali; dan tidak sekadar mengenali, tetapi kemudian beranjak menuju Jembatan-Cahaya yang menghubungkan mereka dengan Sang Purusa Agung adalah Jiwa-Jiwa yang selangkah lagi, sesaat lagi akan, atau bisa keluar dari teater, bisa meninggalkan pergelaran. Tujuan telah tercapai—krtartham. Bagi mereka pergelaran kebendaan, permainan prakrti sudah selesai. Mereka adalah para Jivana Mukta, para Mahatma.

Mereka telah mengembangkan Buddhi.

Kemudian Buddhi itu sendiri yang menjadi Jembatan-Cahaya, Jembatan-Pencerahan yang mempertemukan mereka dengan Kebenaran-Diri mereka, dengan Jati-Diri, dengan Dia.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s