Makan Daging Menggelisahkan Hewan? Bagaimana Pandangan Gita?

buku bhagavad gita mencintai sesama makhluk

“Makanan yang kauberikan kepada anjing itu telah kuterima. Anjing itupun wujud-Ku, sebagaimana hewan-hewan lain. Ia yang melihat-Ku dalam setiap makhluk adalah kekasih-Ku. Sebab itu lampauilah dualitas yang disebabkan oleh rupa dan nama. Layanilah setiap makhluk hidup, sebagaimana kau melayani anjing itu, karena Aku berada di mana-mana, di dalam diri setiap makhluk. Lihatlah Tuhan dalam diri setiap makhluk inilah non-dualitas. Inilah inti ajaran, inti pesan setiap Guru Sejati. (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Bukan hanya memberi makan hewan, bahkan kita seharusnya juga tidak menggelisahkan, tidak mengganggu sesama makhluk termasuk hewan agar kita termasuk yang disayangi Gusti. Banyak hewan yang tidak mengganggu kita, kenapa harus kita ganggu?

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 12:15 berikut:

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“la yang tidak menggelisahkan, mengganggu sesama makhluk: dan juga tidak merasa terganggu, tergelisahkan oleh siapa pun; bebas dari rasa kesenangan semu (yang diperoleh dari kenikmatan indra), rasa iri, khawatir; dan rasa takut — adalah sangat Ku-sayangi.” Bhagavad Gita 12:15

 

Jangankan manusia, ketika hewan di rumah potong hewan atau di pasar merasa gelisah karena kita, karena kebiasaan kita mengonsumsi mereka demi kenikmatan sesaat, maka kita bukanlah kesayangan-Nya.

 

KITA BOLEH MENGGUNAKAN GELAR dalam bahasa apa pun yang dapat diartikan sebagai “kesayangan-Nya” — tetapi tidak — kita tidak pernah menjadi kesayangan-Nya, selama masih menyebabkan kegelisahan dan penderitaan bagi sesama makhluk.

Sesungguhnya, menjadi kesayangan-Nya, berarti menjadi kesayangan “diri” kita sendiri. Seorang pemakan “bangkai hewan” yang biasa disebut “daging” sungguh tidak menyayangi “badan”nya. Ia sedang merusak badannya dengan mengonsumsi “daging”. Belum lagi dampak terhadap pikiran dan perasaannya; inteligensia dan kemampuan untuk memilah antara yang mulia dan yang sekadar menyenangkan.

 

PAHAM AHIMSA ATAU TANPA KEKERASAN bukanlah “sekadar tidak mernbunuh”, tetapi “tidak menyakiti”— tidak merugikan — bahkan tidak “menggelisahkan” sesama makhluk.

Paham ahimsa ini mesti dipakai secara betul dan komprehensif. Misalnya, menyangkut “diri” kita sendiri — ahimsa berarti, tidak menyakiti diri, tidak meracuni badan, tidak rnengacaukan pikiran sendiri, tidak menimbulkan perasaan-perasaan yang membuat diri menjadi gelisah, khawatir, was-was, takut, iri, tersinggung, dan merasa selalu disakiti oleh “orang lain”.

“Orang lain” itu tidak ada.

Yang “lain” itu pun hanyalah manifestasi dari Sang Pribadi Tunggal, Sang Jiwa Agung, sebagaimana “Diri Kita Sendiri”.

 

JIKA KITA “MERASA” DISAKITI OLEH ORANG LAIN, maka persoalannya mesti dipersempit dan dilihat dari perspektif yang benar. Adalah “perasaan” kita sendiri yang menggelisahkan diri kita. Berhenti mengurusi orang lain, urusi diri kita dulu. Urusi “perasaan” diri dulu.

Keadaan di luar mesti dihadapi.

Seperti halnya pekarangan rumah yang berdebu mesti disapu, dibersihkan — tetapi untuk itu mesti ada sapu di tangan kita. Kita tidak bisa membersihkan pekarangan dengan pedang dan senapan. Mari membersihkan pekarangan Rumah Jiwa yang kotor dengan hati ringan, dengan penuh keceriaan. Kita tidak bisa membersihkannya dengan rasa berat, terbebani, dan tidak enak.

Para pejagal di luar adalah orang-orang bodoh yang tidak sadar bila “profesi” mereka, pada akhirnya akan merugikan mereka sendiri. Para pejagal ada dimana-mana, bukan di rumah potong hewan saja. Mereka ada di tengah pasar dunia, sibuk menjagal dengan berbagai cara. Mereka dapat ditemukan dalarn setiap profesi. Mereka berjas, berdasi, berpakaian rapi. Kadang sulit mengenal mereka.

Mereka bodoh adanya, dan orang bodoh itu seperti langkah kita sendiri yang kadang salah, kaki kita yang kadang secara tidak sengaja menginjak najis, kotoran. Lalu apa yang kita lakukan? Bersihkan kaki. Tidak perlu membenci kaki, tidak perlu mencaci kotoran. Tindakan yang tepat hanya satu — membersihkan kaki yang kotor.

Tentunya, kotoran pun mesti dibiarkan larut bersama air bersih yang kita gunakan. Tidak perlu eman-eman, atau mengasihani “kotoran”. Kotoran bukanlah sesuatu yang “berguna” bagi kita.

 

KOTORAN, BARANGKALI “BERGUNA” BAGI “CACING” – Itu makanan mereka. Ya, kotoran yang kita buang dan biarkan larut itu menjadi makan siang atau makan malam bagi cacing-cacing di selokan, tikus, dan hewan lainnya. Tidak perlu membenci kotoran, tetapi juga tidak perlu dipelihara. Biarlah Sang Jiwa Agung di dalam cacing-cacing dan tikus-tikus itu, menikmatinya. Ingat, kita semua percikan-Nya. Tikus dan cacing pun hidup karena kehadiran-Nya di dalam diri mereka.

 

BEBAS DARI RASA YANG MEMBEBANI…… Seperti Rasa Iri, Kekhawatiran, dan Kesenangan Semu yang diperoleh dari kenikmatan indra dan kenyamanan materi. Dan lagi-lagi Krsna mengingatkan bila seorang panembah bebas dari rasa takut.

Rasa takut adalah “sebab utama” kelahiran kita di dunia ini. Selama hampir I0 bulan dalam rahim ibu, di mana 2-3 bulan terakhir Jiwa sudah sepenuhnya mengidentifikasikan dirinya dengan rahim yang mengandungnya — kita mengalami rasa takut. Takut sepi, sendiri — maka “terjadilah” kelahiran. Tidak semua, tetapi banyak kasus keguguran terjadi ketika Jiwa “tidak merasa takut” dan “kelahiran” menjadi tidak penting lagi.

Persis seperti itu, jika selagi masih hidup kita terbebaskan dari rasa takut — maka bebaslah kita dari lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s