Hubungan Anak dan Orangtua, Suami dan Istri, Murshid dan Murid

buku bhaja govindam shankaracharya_and_disciples_oq41

“Bila masih menginginkan sesuatu dari Tuhan, dan bukan Tuhan itu sendiri yang kita inginkan, maka kita belum menjadi murid. Murad kita, keinginan kita, masih belum sungguh-sungguh. Kita masih menginginkan manfaat dari Tuhan. Kita masih ingin memanfaatkan Tuhan……… Bila kita belum menyadari-Nya sebagai Hyang Mahatinggi, kita akan menyejajarkan keinginan kita untuk menyadari kehadiran-Nya dengan keinginan-keinginan lain. Dan, itulah saat tercipta ilusi Dia sangat jauh.” (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Keinginan tunggal seorang murid adalah melenyapkan segala keinginan dalam Kehendak Ilahi?

Kita masih jauh?

Silakan simak penjelasan Murshid dan Murid pada awal penjelasan Buku Bhaja Govindam berikut:

buku bhaja-govindam-500x500

Buku Bhaja Govindam

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Hubungan antara guru dan siswa, antara murshid dan murid sungguh sangat aneh. Tiada kata untuk menjelaskannya. Tidak ada hubungan darah antara mereka. Tidak ada hubungan daging antara mereka. Tidak ada kewajiban bagi mereka untuk saling berhubungan. Tidak ada tuntutan dari tradisi, budaya, agama. Hubungan di antara mereka sepenuhnya karena ”kesadaran”. Hanya dilandasi kesadaran.

Tetapi, bila saya menggunakan istilah “guru” atau ”murshid”, yang saya maksudkan bukanlah guru agama atau guru sekolah atau guru les. Hubungan kita dengan para guru seperti itu belum tentu karena kesadaran. Bisa jadi karena kelahiran, karena lingkungan, karena kewajiban, karena tradisi. Bila saya dilahirkan dalam keluarga yang menganut ajaran agama “A”, saya wajib menghormati para guru dan ulama dari agama tersebut. Menghormati guru dan ularna dari agama lain tidak diwajibkan. Boleh ya, boleh tidak. Ada yang malah melarangnya.

Bila lahir dalam keluarga yang mampu, saya akan  disekolahkan di sekolah “anak-anak orang kaya”. Bila kurang mampu, di sekolah “biasa-biasa” saja. Bila tidak mampu, bisa tidak disekolahkan sama sekali.

Hubungan kita dengan orangtua pun sangat dipengaruhi oleh tradisi dan budaya. Pada hari ulang tahunnya yang ke-18, seorang anak Amerika boleh menghadiahi orangtuanya dengan berita: ”Aku mau pisah rumah”. Itu sah-sah saja. Di negeri kita, hal itu masih belum biasa, kecuali tentu saja kalau dia harus kos karena pekerjaan atau kuliah. Lain budaya, lain tradisi, lain pula kebiasaan dan nilai “sah-tidak sah”.

Hubungan antara suami dan istri, sekalipun menuntut kesadaran, tidak selalu dilandasi olehnya.

Satu-satunya hubungan lain yang mirip dengan hubungan antara guru dan siswa yang saya maksudkan adalah “persahabatan”. Tetapi, sering kali hubungan itu pun tercemari oleh saling tuntut—menuntut. Padahal persahabatan seharusnya bcrada di atas segala tuntutan. Persahabatan seharusnya sepenuhnya dilandasi oleh kesadaran.

Hubungan antara seorang guru dan siswa sesungguhnya adalah “persahabatan”. Itulah sebabnya dalam tradisi Islam, misalnya, para murid Nabi Muhammad disebut “para sahabat”.

Sathya Sai Baba, seorang Guru di India sering menyebut para muridnya “Prema Swaroopa”atau “Atma svaroopa” yang berarti, “Pewujudan Cinta Kasih”, “Wujud Kesadaran Murni”. Itu tidak berarti bahwa para murid sudah mencapai kesadaran itu. Panggilan itu justru untuk mengajak para murid untuk melakukan perenungan, “Sudahkah aku mencapai Kesadaran itu?” Bila sudah, dia akan berupaya untuk senantiasa mempertahankannya. Bila belum, dia akan berupaya untuk mencapainya.

Hubungan antara guru dan siswa, murshid dan murid, master dan disciple, mungkin merupakan hubungan yang paling mesra. Tidak heran bila hubungan antara Jalaluddin Rumi dan Shams, hubungan antara Yesus dan Maria Magdalena, hubungan antara Krishna dan Radha, sering disalahpahami, disalahartikan, disalahtafsirkan.

Mesranya hubungan antara murshid dan murid tidak bisa tidak melahirkan energi yang mencerahkan. Kesiapan diri seorang murid dan kedekatannya dengan sang murshid menyebabkan terjadinya “pencerahan”. Dan, pencerahan seperti itu tidak semata-mata mencerahkan si murid; sang murshid pun sedikit lebih tercerahkan olehnya. Bila matahari pencerahan terbit, baik murid maupun murshid memperoleh sinarnya. Enlightenment, my dear ones, is an ongoing process. Pencerahan terjadi terus-menerus. Pencerahan tidak pernah berhenti.

Bhaja Govindam lahir dari hubungan mesra seperti itu. Lahir dari hubungan Guru Shankaracharya dengan para muridnya. Sebelum ini kita pernah mengulas karya lain dari Sang Mahaguru, dalam buku yang sudah terbit lebih dahulu, yaitu Alma Bodha. Saya merasa perlu mengulas satu lagi karya Shankaracharya, karena karyanya yang satu ini lain dari yang lain.

Atma Bodha ditulis untuk umum, walau untuk itu pun Sang Guru memberi kriteria “Yang sudah tenang, tidak gelisah lagi. Dan, berkeinginan tunggal untuk memperoleh kebebasan mutlak.” Jadi, bukan umum “umum”, tetapi umum “selektif”—umum terpilih, umum yang sudah siap untuk sesuatu yang berharga.

Bhaja Govindam berbeda. Buku ini tidak ditulis. Sang Murshid tidak menulisnya. Beliau menyanyikannya bersama para murid. Sungguh luar biasa. Saya tidak pernah menemukan teks lain seperti ini. Ya, Bhaja Govindam adalah “nyanyian bersama” Sang Guru bersama para muridnya. Mahaguru Shankara sedang berduet dengan para siswanya.

Bait-bait pertama lagu ini dinyanyikan oleh Shankara. Beberapa bait berikutnya oleh para murid, lalu diakhiri oleh Sang Guru lagi. Nyanyian Shankara yang satu ini diperuntukkan bagi para murid, yaitu mereka yang ber- “murad”, berkeinginan tunggal. Dan, keinginan tunggal seorang murid adalah menginginkan ”Keinginan Keberadaan”: Melenyapkan segala keinginan dalam Kehendak Ilahi.

Bhaja Govindam merupakan “injunctions” Sang Guru bagi para murid. Dia sedang menasihati para murid. Dia sudah tidak perlu meyakinkan mereka akan sesuatu. Mereka sudah yakin, dan karena itu ”berguru”. Sang Guru juga tidak membahas sesuatu lewat lagu yang indah ini. Apa lagi yang harus dibahas? Dalam lagu ini, Sang Guru benar-benar to the point, “Beginilah adanya.” Dan, sesungguhnya para murid pun sudah tahu, “Begitulah adanya”. Mereka hanya membutuhkan sedikit konfirmasi. “Mumpung Sang Guru masih ada!” Dan, Sang Guru pun memberikan konfirmasi. Kemudian, bersama mereka menyanyi dan menari: Bhaja Govindam, Bhaja Govindam, Bhaja Govindam…….

Ada kalanya nasihat-nasihat seperti ini dijadikan dogma oleh para murid. Boleh-boleh saja, karena nasihat Sang Guru memang dimaksudkan bagi para murid. Mau dijadikan dogma, doktrin, kredo, atau apa saja, okay saja. Celaka bila para murid itu nanti punya murid, dan murid mereka menganggapnya “all in all”, dan teks dijadikan pengganti “pengalaman pribadi”. Kemudian penghafalan teks dianggap sudah cukup. tidak perlu apa-apa lagi.

Lantas apa yang sedang kita lakukan? Apa gunanya mengulas teks ini? Apa tidak lebih baik berbagi pengalaman pribadi saja? Untuk apa capek-capek menyelami teks yang suclah berusia lebih clari seribu tahun ini? Untuk apa menyanyikan lagu lama?

Tidak. Kita tidak menyanyikan lagu lama. Saya menggunakan teks ini sebagai “scndok makan”. Sendok lni memang lama, antik, tapi masakannya baru selesai dimasak, masih fresh—segar.

Kadang saya menggunakan sendok Rumi, kadang sendok Gibran, dan kadang sendok Anthony de Mcllo. Pada kesempatan ini sendok Shankara. Apa bedanya—what difference does it

make? Sendok adalah sendok. Gunakan sendok sebagai sendok, scbagai sarana untuk makan.

Kelak saya pun bisa dijadikan sendok untuk menyajikan makanan baru. Memang harus demikian.

Together, let us now sing this song……..

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s