Lima Anjuran Bijaksana agar Hidup Bahagia

buku bhaja govindam sedih ataupun suka selalu menari dan menyanyi

Hidup ini sungguh indah dan patut dinyanyikan. Sedih nyanyi!…..Senang nyanyi!……

Murid Adi Shankara mempersembahkan nyanyian 5 anjuran hidup bahagia kepada sang Murshid:

  • Jalani hidup dengan santai, seolah menyanyikan sebuah lagu,
  • Ingat selalu Nama-Nya,
  • Lihat Wajah-Nya di mana-mana,
  • Jalin persahabatan dengan mereka berbudi luhur,
  • Bagi keberuntungan dengan mereka yang kurang beruntung.

buku bhaja-govindam-500x500

Buku Bhaja Govindam

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Geyam Geetaanaamasahasram; Dhyeyam Shreepatiroopamajasram; Neyam Sajjanasange Chittam; Deyam Deenajanaaya Cha Vittam. (Bhaja Govindam, Bhaja Govindam). Bhaja Govindam 27

Selami Geeta, ulangi Sahasranaama; lihatlah Wajah-Nya di mana-mana; bersahabatlah dengan mereka yang berbudi luhur, dan berbagi dengan mereka yang kurang beruntung. Bhaja Govindam 27

 

Lagi-lagi dalam syair ini murid Shankara menggunakan peribahasa popular. Geeta di sini mewakili kitab-kitab suci dari semua agama. Sahasranaama mewakili Nama Tuhan, Asma Allah sebagaimana diucapkan oleh pemeluk semua agama pula.

Geeta juga berarti nyanyian. Life is a song—sing it! Hidup ini sebuah lagu yang indah, nyanyikan!

Sahasranaama berarti 100 Nama, 100 Nama Tuhan, 100 sisi Kebenaran. Mengulangi Nama-Nya berarti senantiasa hidup dalam kesadaran-Nya, kesadaran ilahi.

Dua anjuran pertama ini penting sekali.

Pertama: Nyanyikan lagu kehidupan. Menyanyikan lagu kehidupan berarti menikmati hidup. Sepcrti dalam film India saja: adegan sedih……. nyanyi, adegan senang….. nyanyi. Nyanyi terus seumur hidup. Hidup ini sungguh indah dan patut dinyanyikan.

Anjuran Kedua: Selalu mengingat nama-Nya, sekalu merasakan kehadiran-Nya, selalu berada dalam kesadaran ilahi. Jangan hanya mengingat atau mengulangi salah satu nama-Nya, tapi semua-Nya, karena kalau kau hanya mengingat “Kasih” sebagai salah satu nama-Nya, kernudian bagaimana dengan benci? Bagairnana saat menghadapi kebencian? Kau akan kehilangan Wajah-Nya di sana.

Anjuran Ketiga adalah: Lihatlah wajah-Nya di mana-mana. Ketiga anjuran ini berkesinambungan. Yang satu ada hubungannya dengan yang lain. Yang satu mengantarmu pada yang lain. Kau tidak bisa melihat wajah-Nya di mana-mana, bila kau hanya mengingat satu nama saja. Bila kau hanya mengingat “Bapa di Surga”, kau akan menolak ”Brahman” sebagai wajah-Nya, padahal wajah Brahman itu juga wajah Bapa di Surga. Beda nama, beda sisi, seluas-luasnya pandangan manusia tetap juga sempit….. maka ia perlu selalu diingatkan: “Janganlah kau tertipu… Yang Iain itu tak ada. Yang ada hanyalah Dia. Dia, Dia, Dia… semua wajah Dia.”

”Dia” adalah Shreepati, yang secara harfiah berarti “Yang Berkuasa”—Pengendali Shree. Shree  berarti kcsejahteraan, keberuntungan, kebahagiaan. Shreepati berarti Ia Yang Mengendalikan Shree. Ia Yang Berkuasa atas Shree—Ia Yang Menyejahterakan. Ia Yang Memberi Keberuntungan; Ia Membahagiakan.

Kau mengejar kescjahteraan, keberuntungan dan kebahagiaan…… Sebenarnya yang harus kaukejar bukan semua itu, tetapi Sang Pengendali. Jadilah Pengendali bagi dirimu sendiri. Kendalikan dirimu.

Di Jawa Shree adalah lambang kesuburan, bahkan diwujudkan sebagai perempuan cantik, yaitu Dewi Sri atau Devi Lakshmi. Pasangannya, Vishnu, juga disebut Shreepati yang berarti suami Shree”. Pati berarti suami.

Vishnu adalah pemelihara jagat raya. Dan, pemeliharaan merupakan salah satu sifat Tuhan; salah satu fungsi Keberadaan. Penggambaran Vishnu, Lakshmi, dan lain-lain adalah bersifat metaforis. Ini hanyalah lambang, atau tanda-tanda Kebesaran Yang Maha Besar Ada-Nya. Mereka yang tidak tahu, dan tidak mau tahu, beranggapan bahwa orang Jawa zaman dulu memuja berhala. Mereka  memiliki banyak Tuhan. Sayang sekali, anggapan itu muncul dari ketidaktahuan.

Kisah metaforis ini indah sekali. Ambil hikmahnya. Ibarat buah mangga, makanlah daging-nya. Jangan Mempersoalkan kulitnya.

……………….

Dalam buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) halaman 295-302 dikisahkan kisah Shree dan Shreepati yang sangat menarik, akan tetapi karena di kutipan ini terasa terlalu panjang, silakan baca sendiri………….

…………………

Undang Shreepati, dan Shree akan mengikutinya. Persis seperti apa yang dikatakan oleh Nabi Isa, “Carilah Kerajaan Surga (maksudnya: Biarkan Tuhan merajai dirimu) dan segala scsuatu yang lain akan ditambahkan kepadamu.”

Keempat: Bersahabatlah dengan mereka yang berbudi luhur. Karena setinggi apa pun kesadaran yang telah kau capai, bisa merosot dalam sekejap bila pergaulanmu tidak menunjang.

Kelima: Berbagilah dengan mereka yang kurang beruntung. Amal saleh, dana punia, zakat—apa pun sebntannya, prinsip yang ada di baliknya adalah share your blessings, berbagilah berkah yang kau terima dengan mereka yang tidak menerimanya, dengan mereka yang kurang beruntung.

Hatimtai, scorang tokoh legendaris dari kumpulan kisah scribu satu malam berkata, “Neki Kar Dariyaah Mein Daal.” Ungkapan dalam bahasa Urdu ini bila diterjemahkan secara harfiah berarti: Amal saleh yang kau lakukan harus segera kau larutkan dalam laut. Berarti, jangan mengharapkan imbalan. Give and forget. Berikan dan lupakan apa yang  telah kau berikan. Saat ini kita masih give and remember always. Apa yang pernah kita berikan terekam dalam memori. Apa yang pernah kita terima, terlupakan begitu saja.

Pemberian seperti itu baru disebut  sharing. Bila kau memberi dan mengingat terus pemberian itu, kau belum melakukan sharing. Lupakan apa yang pernah kau berikan. Bila kau mengingatnya terus, berarti apa yang kau berikan belum berpisah darimu. Berarti apa yang kau berikan belum berpisah dari sang pemberi, darimu.

Inilah Panca-Wacana hasil pencerahan para murid Shankara.

  • Menjalani hidup dengan santai, seolah menyanyikan sebuah lagu,
  • Mengingat selalu Nama-Nya,
  • Melihat Wajah-Nya di mana-mana,
  • Menjalin persahabatan dengan mereka berbudi luhur,
  • Membagi keberuntungan dengan mereka yang kurang beruntung.

Pertama—Rileks!

Kedua—ingat Nama-Nya.

Ketiga—Jangan lupa Dia ada di mana-mana.

Keempat—berhati-hatilah dengan pergaulanmu.

Kelima—Jangan lupa berbagi berkah, berbagi rasa.

Kesimpulan murid yang satu ini sudah pasti menyenangkan hati Sang Murshid. Selesai sudah tugas Shankara. Benih yang dia tanam dalam diri para murid sudah bertunas, sudah tumbuh. Sang Guru pun bangga.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s