Yoga Bukan Hanya Asana atau Postur Saja! Pranayama dan Dharana menurut Leluhur Kita

buku dvipantara yoga sastra pranayama

Retret di Anand Ashram, melakukan Pranayama, Dhyana, Asana dan sebagainya

Kita telah membaca pada kutipan kitab Vrhaspati Tattva bahwa Pratyahara atau Penarikan Diri dari objek indra dan pancaindra diberikan prioritas pertama. Ini bukanlah tanpa alasan. Atau, penambahan Tarka atau Perenungan dan Pemikiran. Ini adalah prioritas-prioritas yang dibutuhkan oleh masyarakat kepulauan ini. Sampai hari ini, jika kita jujur pada diri kita sendiri, inilah kelemahan-kelemahan yang harus kita atasi.

Dalam kitab Vrati Sasana bahkan sebelum melakoni Pratyahara, sang resi penggubah kitab menyarankan agar kita melakoni Dharana atau kontemplasi terlebih dahulu.

Seperti disebutkan pada Yoga Sutra Patanjali, bagian-bagian Yoga seperti Dharana, Dhyana, Pratyahara — atau bagian lain Astanga Yoga yang mana saja—, jika tidak menjadi sikap hidup, tidak menjadi laku hidup, maka tidak memiliki nilai apa pun. Oleh karena itu penjelasan seorang master berulang-ulang tentang Dharana, Dhyana, Pratyahara dan lain-lain perlu kita renungkan, kita cerna dan kita praktekkan dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Jadi bila pada umumnya masyarakat mengaitkan Yoga hanya dengan Asana (Postur saja) itu gagal paham, ada bagian-bagian lain Yoga yang harus dilakoni agar tujuan Yoga tercapai. Oleh karena itu 2 buah buku utama yaitu (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) dan (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) pantas menjadi buku pegangan utama kita.

Silakan simak penjelasan Pranayama dalam kitab leluhur kita Vrati Sasana di bawah ini:

buku dvipantara yoga sastra

Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Pranayama atau Pengaturan Aliran Kehidupan lewat Napas membakar habis segala noda; Dharana atau Kontemplasi membakar segala duka, rasa sakit, dan penderitaan; dan, dengan mempraktekkan Pratyahara, Pengendalian-Diri, atau penarikan diri dari objek-objek indrawi — seseorang terbebas dari godaan; demikian pula Dhyana atau Meditasi membebaskan seseorang dari berbagai kualitas yang tidak menunjang perkembangan, evolusi, kemajuan, dan pertumbuhan diri. Biarlah mereka semua yang berupaya melakoni hidup secara bajik, mengingat dan mempraktekkan hal-hal ini sepanjang waktu. Demikianlah nasihat dalam kitab-kitab. Vrati Sasana 21

 

KITA TELAH MENYENTUH PRANAYAMA yang dimaksud dalam ayat terakhir.

Tubuh Vital kita – Pranamayakosa atau Ranah Pranic – adalah lapisan kesadaran yang menghubungkan Tubuh Fisik kita, Annamayakosa dengan Tubuh Mental/Emosional atau Manomayakosa, oleh karena itu “vital”.

Terjemahan umum dari kata Pranayama sebagai Pengaturan Napas tidaklah sepenuhnya tepat. Semestinya diterjemahkan sebagai Pengaturan Life-Force, Vital-Force, Energi Kehidupan lewat pernapasan.

Pernapasan adalah sebuah proses yang terhubung secara langsung dengan Energi Kehidupan, dengan Prana. Oleh karena itu, ketika kita mempraktekkan pengaturan napas, sesungguhnya kita mengatur aliran Prana dalam tubuh fisik kita.

 

KETIKA ALIRAN PRANA DALAM TUBUH KITA teratur, dalam pengertian merata — semua anggota tubuh dan organ tubuh mendapatkan suplai energi sesuai kebutuhan masing-masing – maka kita mengalami kesehatan sejati.

Pada tataran Mental/Emosional — Prana yang mengalir secara merata, membantu kita berpikir dengan jernih, merasakan dengan tepat, dan melihat segala sesuatu dalam sudut pandang yang tepat. Inilah maksud “membakar segala noda” — kita terbebaskan dari pemahaman, pengertian, dan lain sebagainya yang keliru.

 

BERIKUTNYA ADALAH DHARANA ATAU KONTEMPLASI yang membakar habis segala kekhawatiran, kesedihan, duka, penderitaan, dan lain sebagainya.

Sekali lagi, apa yang sesungguhnya dilakukan oleh Dharana atau Kontemplasi adalah: Tidak menghilangkan segala duka, penderitaan dan lain sebagainya secara langsung. Ia hanya memindahkan kita dari pengalaman semacam itu, dengan mengingatkan kita akan keilahian dalam diri kita, akan sifat ilahi kita, akan kenyataan bahwa kita bukanlah tubuh ini, kita adalah Jiwa yang abadi — bagian yang tak terpisahkan dari Hyang Abadi, Hyang Maha Kuasa, Sang Jiwa Agung.

Dharana adalah Seni Kontemplasi pada Realitas semacam ini, Realitas akan Diri kita.

Dharana adalah “Berfokus pada Realitas tersebut”. Dharana adalah “Berpegang pada Realitas tersebut”.

 

DALAM KATA LAIN “DHARANA ADALAH SENI MENERAPKAN SEBUAH FILOSOFI”. Dan, penerapan filosofi tersebut sepenuh hati.

Dalam praktek Dharana, seseorang berpegang pada sebuah teladan tertentu dan mengupayakan teladan tersebut. Dharana mengakhiri keterombang-ambingan mind atau gugusan pikiran dan perasaan. Dalam Dharana, mind atau gugusan pikiran serta perasaan menjadi tidak bergejolak lagi.

Sebagaimana dikatakan dengan tepat oleh resi penggubah risalah ini, adalah dengan mempraktekkan Dharana, kita dapat mengakhiri segala kesedihan, duka, dan penderitaan.

Ketika mind tidak bergejolak, terpaku pada dirinya, atau pada sebuah nama suci, objek tertentu atau simbol yang digunakan untuk menenangkannya, maka pasangan berlawanan — suka dan duka, dan lain sebagainya — dilihat sebagai awan yang bergerak, dianggap demikian. Maka, langit mind yang jernih tidak terpengaruh oleh mereka.

 

KEMUDIAN, SANG RESI MENYEBUTKAN PRATYAHARA — penarikan indra secara sukarela dari objek-objek indrawi yang dapat menggoda mereka. Hasilnya: Tidak Terpengaruh oleh Pemicu-pemicu luaran, yang dapat menggodanya.

Dalam konteks ini, penting untuk mencermati bahwa urutan dari praktek ini — sebuah model baru, katakan demikian — dikembangkan oleh sang resi. Urutannya berbeda dari yang diberikan oleh Resi Patanjali yang tidak diragukan lagi adalah tokoh terbesar dalam Filosofi dan Laku Yoga.

Tetap berpegang pada semua disiplin yang disarankan oleh Patanjali, sang resi penggubah dari risalah ini menempatkan Pratyahara setelah Dharana, bukan sebelum – sebagaimana yang kita lihat pada model Patanjali.

Perubahan sengaja ini, saya yakin dilakukan, untuk mengakomodasi kebutuhan mereka yang akan menggunakan risalah ini sebagai sebuah buku pegangan atau buku panduan, dan juga atas pertimbangan akan karakteristik khusus, kecenderungan bawaan, dan kemampuan rnereka.

Sebelum mempraktekkan Pratyahara atau Penarikan dari Objek-Indrawi, sang resi menawarkan suatu pegangan kepada kita, yaitu Dharana. Mungkin, analogi berikut, kiasan berikut, dapat membuat kita lebih mengapresiasi kejeniusan sang resi…….

 

APA YANG DILAKUKAN OLEH SEORANG IBU UNTUK MENGHENTIKAN ANAK-ANAKNYA bermain di luar rumah saat hujan lebat?

Terkadang, sebuah panggilan sudah cukup.

Dan, anak-anak akan kembali ke rumah. Namun, ada kalanya anak-anak begitu menikmati bermain di luar rumah, sehingga panggilan tersebut tidak terdengar. Atau, mereka tidak menghiraukan panggilan tersebut. Tidak sadar akan kemungkinan terkena flu, mereka tetap bermain di bawah hujan  lebat, berkotor-ria di dalam lumpur.

Jadi, sang ibu yang bijak menunjukkan sebuah mainan – sebuah mainan baru — dari kejauhan. Atau memasak sesuatu, menawarkan permen yang sangat disukai anak-anak — sehingga mereka berlari pulang. Jadi, misi sang ibu berhasil — anak-anak kembali ke dalam rumah.

Inilah yang dilakukan sang resi penggubah risalah ini untuk mencapai tujuannya, yakni dengan  menawarkan Dharana sebelum Pratyahara. Ia menawarkan manisnya nama Hyang Ilahi; kue kesadaran — sesuatu untuk dipegang — sebuah mainan baru untuk meningkatkan kesadaran — sebelum memandu kita ke Pratyahara, penarikan indra dari pemicu-pemicu luaran.

Kemudian, Penarikan-Diri menjadi jauh lebih mudah, bahkan alami. Anak-anak telah menemukan mainan yang lebih baik untuk dimainkan; atau, manisan untuk dimakan, yang mereka anggap lebih menarik daripada bermain hujan.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s