Bagaimana Yoga menurut Pandangan Leluhur Kita? Berdasarkan Peninggalan Abad 8?

buku dvipantara jnana sastra yoga di candi ijo

Yoga bersama di Candi Ijo

Naskah Vrhaspati Tattva ini ditulis oleh seorang Resi Jawa dan dimaksudkan untuk masyarakat kepulauan ini, masyarakat Dvipantara atau yang dikenal sebagai Indonesia saat ini, pasti telah memperhitungkan kebutuhan dan prioritas khusus yang dibutuhkan oleh para masyarakatnya. Oleh karena itu ada perubahan di sana-sini.

Contohnya, Pratyahara atau Penarikan Diri dari objek indra dan pancaindra diberikan prioritas pertama. Ini bukanlah tanpa alasan. Atau, penambahan Tarka atau Perenungan dan Pemikiran. Ini adalah prioritas-prioritas yang dibutuhkan oleh masyarakat kepulauan ini. Sampai hari ini, jika kita jujur pada diri kita sendiri, inilah kelemahan-kelemahan yang harus kita atasi.

Silakan simak penjelasan Vrhaspati Tattva 52 di bawah ini:

buku dvipantara jnana sastra

Cover Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Pratyahara atau Penarikan Diri (dari objek indrawi, dan akhirnya dari indra); Dhyana atau meditasi; Pranayama atau pengaturan napas (akhirnya menuntun pada penguasaan Prana atau Daya Kehidupan); Dharana atau berpegang (pada laku-laku yang telah disebutkan, atau kesadaran yang telah diperoleh); Tarka, perenungan, atau pemikiran yang tepat (jangan disalahpahami sebagai debat tak berguna); dan, Samadhi atau Keseimbangan, keadaan tenang —  ini semua adalah enam bagian Yoga yang harus dilakoni seseorang.” Vrhaspati Tattva 53

 

SEKALI LAGI, KESELURUHAN URUTAN INI BERBEDA dari urutan standar yang diberikan dalam Yoga Sutra Patanjali.

Tiga bagian pertama dalam Yoga Sutra Patanjali hilang: Yama atau Pedoman Disiplin, Niyama atau Tindakan Bajik; dan Asana atau Postur Yoga.

Pranayama atau Pengaturan Daya Kehidupan melalui Napas sekali lagi dibahas, di sini, walaupun sebelumnya telah dibahas terpisah di ayat-ayat awal. Sementara, Yama dan Niyama akan dibahas terpisah nanti.

Dalam skema ini, kita juga menemukan bagian tambahan yaitu Tarka atau Refleksi, Perenungan, Pemikiran. Apa alasan dari perubahan ini?

 

SAYA TERINGAT AKAN SEBUAH CERITA KUNO. .. Konon suatu ketika, seluruh semesta tiba-tiba bergema dengan suara “Da”. Tidak persis, tetapi mirip suara “Da”. Suara ini terus bergema berhari-hari. Jadi wajar saja jika semua makhluk berakal berpikir, “Bagaimana caranya menghentikan suara yang mengganggu ini?”

Setelah banyak berembug, berdebat, dan berdiskusi — para makhluk surgawi, para deva menyimpulkan, “Hyang Maha Agung tampaknya merniliki sebuah pesan untuk kita semua. Suara Da mengingatkan kita akan Dama atau Pengendalian Diri. Kita telah hidup berkelimpahan di alam surgawi ini. Ini pastilah pesan bagi kita untuk melakoni pengendalian diri.” Segera, tanpa tertunda sekejap pun, alam surgawi menjadi hening. Suara gema berhenti. Para deva atau malaikat bahhgia.

 

TETAPI, TIDAK DEMIKIAN DENGAN WILAYAH LAIN…. Para raksasa dan manusia masih mendengar suara “Da”.

Jadi, para raksasa berkumpul untuk pertemuan akbar yang belum pernah terjadi sebelumnya. “Tentu saja kita harus mengalahkan para makhluk surgawi. Pencerahan bukanlah monopoli mereka. Kita juga bisa tercerahkan. Mari kita berpikir, kawan-kawan, dan mari kita berpikir keras, apa pesan yang hendak disampaikan Hyang Tunggal pada kita!”

Guru para raksasa, resi agung Sukracarya menyarankan, “Da mungkin berarti Daya. Pastilah pelajaran Kasih yang Hyang Tunggal hendak kita semua pelajari.”

Para raksasa setuju, “Ya, ya, ya, pastilah Daya, Kasih. Kita telah menindas manusia, meneror mereka. Saatnya kita menghentikan itu dan melakoni kasih pada semua makhluk.”

Dan, segera suara pun berhenti!

 

NAMUN, DUNIA MANUSIA BELUM BEBAS DARI SUARA TERSEBUT. Belajar dari pengalaman para Deva dan Danava, para Sura dan Asuras, para Malaikat dan Raksasa — yang terbijak di antara manusia berkata, “Kawan-kawan, adalah Dana, ‘Da’ untuk Dana, Dana Punia. Secara alami kita bersifat pelit, kikir. Kita harus melakoni dana punia. Kita harus belajar berbagi berkah.”

Seluruh manusia setuju, “Ya, Dana.” Demikian, mereka pun terbebas dari suara yang mengganggu tersebut.

 

APA YANG KITA PELAJARI DARI CERITA INI? Suara “Da” yang sama dapat berarti berbeda sesuai dengan persepsi dan prioritas dari pendengarnya.

Sama halnya dengan Yoga sebagi Disiplin Spiritual. Naskah Vrhaspati Tattva ini ditulis oleh seorang Resi Jawa dan dimaksudkan untuk masyarakat kepulauan ini, masyarakat Dvipantara atau yang dikenal sebagai Indonesia saat ini, pasti telah memperhitungkan kebutuhan dan prioritas khusus yang dibutuhkan oleh para masyarakatnya. Oleh karena itu ada perubahan di sana-sini.

Contohnya, Pratyahara atau Penarikan Diri dari objek indra dan pancaindra diberikan prioritas pertama. Ini bukanlah tanpa alasan. Atau, penambahan Tarka atau Perenungan dan Pemikiran. Ini adalah prioritas-prioritas yang dibutuhkan oleh masyarakat kepulauan ini. Sampai hari ini, jika kita jujur pada diri kita sendiri, inilah kelemahan-kelemahan yang harus kita atasi.

 

Pratyahara atau Penarikan Diri berarti menarik indra dari objek-objek indrawi, dengan upaya dan mind yang tenang” Vrhaspati Tattva 54

 

INI BISA DIRAIH dengan menggunakan buddhi atau inteligensia, mind yang telah bertransformasi dan mampu mentransformasi.

Antahkarana kita atau Realitas Batin, Sebab Batin dari segala sesuatu terkait fungsi tubuh kita — dikatakan bekerja dengan empat alat yang sangat efisien, yaitu:

Manah atau Mind; Ahamkara atau Ego, keakuan; Citta atau Inti, Esensi dari Mind, dan Buddhi atau Inteligensia.

Saat ini, dalam kebanyakan kasus, Mind atau Manah dan Ahamkara atau Ego memegang kendali indra-indra kita, kehidupan kita, dan segala fungsi diri kita.

Ini menciptakan keterikatan, keserakahan, keinginan, kemarahan, iri, dan berbagai kualitas serupa — semuanya menyebabkan kita terlahir kembali.

Gagasannya adalah meletakkan Buddhi dan Citta sebagai pemegang kendali. Ini adalah kudeta spiritual yang harus kita lakukan. Semua laku spiritual, termasuk yang disarankan di sini, menyiapkan kita untuk kudeta ini, untuk “peralihan kekuasan” ini.

Berkuasanya Mind dan Ego menjadikan kita sebagai budak indra. Dengan Inteligensia dan Mind halus yang berkuasa, kita terbebaskan dari perbudakan tersebut. Kemudian kita bisa menggunakan indra-indra kita tanpa diperbudak mereka.

Tapi, bagaimana caranya?

Ayat berikutnya dari Vrhaspati Tattva akan menjelaskan……

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s