Menjadi Pemain Panggung Dunia atau Menjadi Penonton? Apa Maknanya?

buku yoga sutra patanjali panggung pergelaran dunia

Japji: Alam Semesta sebagai tempat bermain, berlatih, berlaga

“Ibarat Akhaarhaa, Playground, tempat untuk bermain, berlatih, berlaga. Para pegulat menggunakan akhaarhaa untuk melatih dan meningkatkan kemampuan fisik mereka. Para saadhaka atau pelaku spiritual menggunakan gurudwaaraa, rumah Sang Sadguru, padepokan Sadguru, untuk melatih dan meningkatkan kemampuan jiwa mereka. Seorang Sadguru sangat realistis. Ia bukanlah seorang cendekiawan yang sedang tebar pesona lewat kecendekiaannya. Ia ingin membantu Anda, dan apa pun yang disampaikannya adalah demi kebaikan Anda. Ia tidak berurusan dengan hal-hal lain.”

“Japji mengajak Anda untuk Berlatih untuk memperkuat jiwa Anda, untuk menemukan jatidiri Anda dan memberdayakannya. Ia tidak melayani curiosity Anda. Jika Anda sekedar curious, maka Japji bukanlah panduan bagi Anda. Japji tidak melayani keinginan Anda untuk mencari tahu tentang apa itu kebahagiaan abadi. Japji menawarkan sarana untuk meraihnya. Pendekatan Sadguru sederhana tapi sangat mengena: “Bahagiakah kau sekarang ini? Apakah keluarga, kedudukan, ketenaran, dan kekayaan membahagiakanmu?” Jika jawaban kita adalah jujur “tidak”, maka Sang Sadguru akan melangkah maju, menjemput, dan memandu kita. Jika jawaban kita adalah “ya, saya sudah bahagia dengan segala materi yang saya miliki”, maka ia akan menarik diri. Ia tidak memiliki kepentingan maupun kehendak pribadi, sehingga ia tidak pernah memaksa. Sadguru Hanya Menanggapi Kebutuhan Jiwa Anda.” (Krishna, Anand. (2013). Alpha & Omega Japji bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bhagavad Gita: Alam Semesta sebagai medan laga.

“Krsna mengajak Arjuna untuk memindahkan identifikasi diri dari badan kepada Jiwa, dan menyadarinya bila Jiwa Individu hanyalah percikan dari Jiwa Agung, yang sesungguhnya tidak pernah berpisah. Saat itu, percikan Jiwa menjadi ‘Saksi’ bagi setiap pengalaman, ‘Oh, badan ini merasa panas, kegerahan karena berada di dalam ruangan yang tidak cukup ventilasi,’ atau, ‘badan ini kedinginan karena cuaca di Iuar memang sangat dingin’. Ia menjadi saksi bagi setiap pengalaman yang beragam. Saat itu, Jiwa menjadi pemandu sejati bagi badan – Saat itu ia menjadi Penguasa dan tidak lagi dikuasai oleh pengalaman-pengalaman di luar. Saat itu ia adalah absolut. Tidak berkurang, atau tidak bertambah karena terjadinya perubahan-perubahan di luar, pada badan, atau dengan indra.”

“Alam semesta pun, kemudian menjadi medan laga dalam pengertian sesungguhnya. Saat ini ia bermain di dalam ruangan gelap, sesaat lagi di luar ruangan, di bawah langit yang tak terbingkai. Ketika Jiwa menyadari hakikat dinnya sebagai percikan Jiwa Agung, ia menjadi Pendukung dan Pemelihara raga. Ia berperan sebagai Visnu — Sang Pemelihara. Ia akan menjaga kesehatan badan, kemulusan kendaraan, karena ia hendak menggunakannya untuk mengumpulkan berbagai pengalaman hidup.” Bhagavad Gita 13:22 (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Silakan simak penjelasan medan laga dalam Yoga Sutra Patanjali di bawah ini:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Keberadaan apa yang terlihat—sifat keberadaan itu sendiri, dalam pengertian adanya alam benda yang terlihat—hanyalah demi Dia, demi Itu Hyang Melihat, Sang Saksi, Jivatma, Jiwa Individu dan/atau Purusa, Gugusan Jiwa.” Yoga Sutra Patanjali II.21

 

Apa arti panggung, dan apa arti pertunjukan di atas panggung jika tidak ada yang menyaksikannya, jika tidak ada yang menontonnya?

 

ANGGAPAN BAHWA PERGELARAN ALAM BENDA digelar begitu saja—tanpa ada yang menontonnya—adalah anggapan yang sangat tidak masuk akal.

Untuk apa menggelar pergelaran jika tidak ada penonton? Hola yang saat itu sedang menikmati rendezvous dengan anggapan seperti itu berdalil, “Lho kan ada saya, ada kamu, ada sekian banyak orang yang sedang menonton!”

Nah, anggapan-anggapan seperti itulah yang disebut setengah matang. Anggapan itu sendiri sesungguhnya merupakan ide yang belum matang, namanyajuga anggapan. Lebih-lebih lagi kalau ada yang beranggapan seperti Hola, mungkin seperempat matang! Sebagai anggapan atau ide yang belum matang pun, tidak memenuhi syarat.

Pasalnya,

 

JIKA KITA SEMUA ADALAH PENONTON, lalu yang sedang bermain di atas panggung itu siapa? Jiwa? Setan? Iblis?

Dan jika kita semua sedang bermain, jelas mesti ada yang menonton? Untuk apa bermain jika tidak ada yang menonton? Sebutannya juga pertunjukan, jelas ditunjukkan, ditunjukkan pada sese-siapa”.

Tunggu dulu, jangan cepat-cepat menyimpulkan bahwa Tuhan sedang menonton, bahwa Tuhan adalah Penonton Tunggal. Jangan melibatkan Tuhan dulu. Kita selesaikan dulu perkara ini antara kita. Perkara ini adalah antara kita dan Patanjali. Jadi kita bersepakat dulu untuk tidak melibatkan Tuhan.

Mereka yang selalu melibatkan Tuhan dalam hal-hal yang sesungguhnya bisa diselesaikan dengan menggunakan akal sehat, merupakan ekstrem lain dari para materialis. Sedikit-sedikit kalau sudah tidak bisa menjawab atau malas memutar otak, maka bersembunyi di balik sosok dan konsep Tuhan ciptaannya sendiri—ini bukanlah sifat seorang Yogi, dan supaya kita tetap ingat urusan kita saat ini adalah Yoga. Oke!

Kembali pada Patanjali.

SANG JIWA ADALAH SAKSI, dan pergelaran ini diperuntukkan baginya. Mari kita memahami sutra ini sesuai dengan tingkat kesadaran kita.

Jika kita berada pada tataran Jiwa Individu atau Jivatma, maka pergelaran terbatas yang terkait dengan kita, keluarga kita, tempat kita bekerja, kawan dan kerabat kita—adalah untuk Jiwa Individu juga.

Lalu, nah, lahir kembali, dan mati lagi berulang-ulang—kita tetap berada dalam lingkungan yang sama. Menjenuhkan, membosankan. Jika kita tidak merasa jenuh, ada yang tidak beres dengan diri kita. Kita lupa ingatan, seperti seseorang yang menderita gangguan pada bagian depan otaknya. Barangkali terkena benturan atau apa sehingga bagian yang bisa mengingat tidak berfungsi lagi. Tempat untuk menyimpan memori rusak atau bocor, jadi tidak ada memori tersimpan. Setiap beberapa menit, memori lama terlepaskan sendiri—deleted. Tidak ada bekasnya.

Sesungguhnya yang mengalami lupa ingatan adalah mind atau gugusan pikiran serta perasaan. Jiwa Individu tetap menjadi saksi, tidak terpengaruh oleh penyakit otak maupun Iupa-ingatan mind. Ia menjadi saksi bagi penyakitnya, bagi lupa ingatannya.

Ketika buddhi atau inteligensi mengambil alih perannya sebagai pengendali, maka Jiwa pun menjadi saksi bagi evolusinya.

Itu pada tataran Jiwa Individu.

Sekarang pada tataran Gugusan Jiwa atau Purusa. Lampu sorot melebar, wilayah yang diteranginya makin lebar. Purusa menyaksikan seluruh pertunjukkan, setiap panggung. Ia menjadi Saksi Tunggal bagi sekian banyak cerita, sekian banyak pergelaran yang sedang digelar.

 

BHAGAVAD GITA MENJELASKAN SECARA APIK RAHASIA Pergelaran atau apa yang disebut Krsna sebagai Medan Laga dan mereka yang memahami Medan dan Berlaga, termasuk juga Hyang Menyaksikan semuanya.

Kita tidak akan mengulangi penjelasan itu.

Singkatnya, adanya alam benda, keberadaan atau prakrti, bukanlah untuk kebendaan itu sendiri. Jadi, adanya benda dan materi bukan untuk kebendaan, tapi untuk Sang Saksi.

Adanya materi bukanlah untuk urusan materi. Bahkan, materi tidak bisa eksis tanpa energi. Materi adalah energi yang dipadatkan sedemikian rupa sehingga tampak statis.

Para fisikawan modern sudah pasti membenarkan pandangan Patanjali—adanya materi karena energi, bukan sebaliknya karena ada materi maka ada energi. Sekali lagi, ada energi maka ada materi.

Dalam bahasa Patanjali, adanya yang “terlihat” karena ada yang melihat, ada yang menyaksikan. Adanya pergelaran karena ada yang menonton.

 

UJUNG-UJUNGNYA, HYANG MAHA MENONTON ADALAH DIA, kita menyebutnya Sang Jiwa Agung, Paramatma. Silakan menyebutnya dengan sebutan apa saja. Pangeran Hyang Tunggal itulah Hyang Saksi Agung. Dialah Paramatma.

Ia menggunakan Gugusan Jiwa, Purusa—atau lebih tepatnya menyoroti pergelaran kolosal keberadaan dengan Cahaya-Nya. Cahaya-Nya itulah Purusa, Sang Pribadi Agung. Sinar dari Cahaya Agung itu adalah Jiwa-Jiwa lndividu Jivatma. Sesungguhnya tidak ada perpisahan antara Paramatma, Purusa dan Jivatma. Semuanya Dia, Dia, Dia.

Dia pula Hyang Menjadi Sebab Tunggal adanya pergelaran keberadaan, adanya sekian banyak pemeran, adanya sekian banyak setting, cerita, adegan, dan sebagainya, dan seterusnya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s