Tiga Perbuatan Utama agar Mati Tidak dalam Keadaan Kecewa

buku bhagavad gita mati tidak bawa apa pun

“Bila harta kekayaanmu dapat membahagiakan dirimu, kenapa kau begitu sedih saat mati dan meninggalkannya? Kenapa tidak membawanya ke alam sana? Lalu apa arti tabunganmu selama ini? Masih untung bila kau sempat menikmati harta itu semasa hidupmu. Masih untung bila kau sempat hidup nyaman dengan apa yang kau miliki…. Silakan menabung. Silakan beli properti, silakan berinvestasi. Asal tahu bahwa semua itu tidak membahagiakan (secara abadi). Tidak ada kebahagiaan (abadi) yang dapat kau peroleh dari semua itu….. Lalu apa yang dapat membahagiakan diriku? Bila harta benda, sanak-saudara, kerabat dan keluarga, tak satu pun dapat membahagiakanku, apa yang harus kulakukan? Pilihan kita tidak terlalu banyak. Hanya dua saja… masuk ke dalam alam depresi berat dan berakhir dengan bunuh diri, atau memasuki alam meditasi dan menemukan sumber segala kebahagiaan di dalam diri.” (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Mahaguru Shankara tidak mencela harta-benda. Yang dicela adalah keterikatan kita. Silakan cari uang; silakan menjadi kaya dan menikmati kekayan Anda, asal tidak terikat, karena keterikatan akan menyebabkan kekecewaan. Keterikatan merampas kebebasan Anda. Keterikatan memperbudak Anda. Tidak terikat berarti tidak habis-habisan, tidak mati-matian mengejar sesuatu…… Ya, setiap orang sedang menderita karena ketidaksadarannya.

Oleh karena itu pelayanan aktif dan dinamis bukan “membunyikan lonceng” di tempat ibadah, tetapi Mendengarkan rintihan dan ratapan setiap makhluk yang sedang menderita karena ketidaksadarannya.

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita 12:2 bagaimana cara melepaskan diri dari penderitaan.

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Mereka yang berkeyakinan penuh dan senantiasa menyadari kemanunggalannya dengan-Ku, memuja-Ku dengan pikirannya terpusatkan pada-Ku, adalah para Yogi utama, demikian anggapan-Ku.” Bhagavad Gita 12:2

“Demikian anggapan-Ku”. Di sini, dalam kalimat pendek ini, lewat pernyataan yang jujur ini, Krsna menempatkan diri-Nya sebagai mitra Arjuna. Ia bukanlah seorang penyelamat atau pembawa pesan dari langit. Ia adalah kesadaran Arjuna sendiri.

TIDAK ADA PAKSAAN bagi Arjuna untuk mengikuti pendapat-Nya. Arjuna teta bebas untuk memilih. Krsna hanyalah memberi pendapat-Nya. ltu saja.

Namun, dalam penggalan awal ayat ini, Krsnajuga menempatkan diri-Nya sebagai Kesadaran yang tertinggi . “Aku” Krsna dalarn penggalan awal adalah Aku-Universal. Aku-Universal yang meliputi langit, bumi, semesta. Aku-Universal yang tidak terbagi antara langit dan bumi. Aku-Universal yang utuh, tidak separuh-paruh.

 

SEORANG YOGI UTAMA: Istilah yang digunakan dalam ayat ini adalah “Yukta” — Perbuatan Utama. Jadi, Yoga dalam hal ini adalah esensi dari segala perbuatan — sejak bangun tidur setiap pagi hingga tidur lagi setiap malam. Bahkan, segala ‘kegiatan pikiran’ dalam bentuk ‘mimpi’ yang ‘terjadi’ saat tidur.

Tidak berarti segala perbuatan adalah Yoga.

Hanyalah “perbuatan-perbuatan utama” yang bisa disebut Yoga:

 

PERTAMA BERKEYAKINAN PENUH. Tanpa keyakinan, seorang anak manusia menjadi layangan yang putus — terlihat dinamis di langit sana, tapi tanpa arah.

Keyakinan, dalam hal ini bukanlah keyakinan pada sesuatu di luar diri. Bukan pada arus dan kekuatan angin. Tetapl, pada diri yang dapat melawan arus angin. Di sinilah letak perbedaan antara manusia dan layangan.

Kemudian, perlawanan yang dimaksud dalam hal ini, dijelaskan lewat sifat utama kedua seorang Yogi Utama;

 

KEDUA: SENANTIASA MENYADARI KEMANUNGGALANNYA. Berarti ia tidak menempatkan diri sebagai kacung dunia. Dunia bukanlah majikannya. Ia berada di dunia ini, namun hanyalah sebagai pengunjung. Sebagai penonton untuk menonton pagelaran kebendaan. Ia menyadari asal-usulnya. Ia adalah percikan Sang Jiwa Agung. Percikan yang tak terpisahkan dari-Nya.

Sebab itu ia tidak bergantung pada dunia.

Ia menyayangi dunia tanpa keterikatan. Ia pun menyadari sifat kebendaan Alam-Benda. Maka tidak ada alasan baginya untuk bergantung pada Dunia Benda. Ketergantungan seperti itu, justru dapat menciptakan ilusi perpisahan dengan Hyang Tunggal. Dengan menyadari kemanunggalannya, kemudian:

 

KETIGA: MEMUJA DENGAN SEGENAP PIKIRAN TERPUSATKAN PADA-NYA. Manunggal, namun tetap memuja. Inilah kemanunggalan sejati. KeManunggalan intelektual yang dirasakan oleh mereka yang tak pernah berhenti pamer, “Aku adalah Kebenaran Sejati” — adalah kemanunggalan khayalan yang tidak berarti apa-apa.

Kemanunggalan seperti itu, justru menjadi beban bagi Jiwa. Kemudian, mau-tak-mau mesti dimuntahkan lewat pernyataan, walau hal itu tidak membantu juga.

 

KEMANUNGGALAN SEJATI IALAH ketika Jiwa yang sudah mengalaminya, melayani Jiwa-jiwa lain. Melayani sesama makhluk karena ia sadar bila dirinya tidak terpisah dari butir-butir pasir di bawah dan bintang terjauh di galaksi terjauh.

Itulah pemujaan yang dimaksud oleh Krsna.

Pelayanan aktif dan dinamis. Bukan membunyikan lonceng di tempat ibadah — tetapi Mendengarkan rintihan dan ratapan setiap makhluk yang sedang menderita karena ketidaksadarannya.

Kemudian, membantu mereka supaya mereka pun menyadari jati diri mereka. Itulah pemujaan yang dimaksud.

“Dengan segenap pikirannya terpusatkan pada-Ku” berarti tidak sekadar melayani dan membantu tetapi memuja — memuja Ia Hyang Bersemayam sekaligus meliputi setiap makhluk, bahkan semesta. Melayani dengan Kesadaran Jiwa seperti itulah pemujaan, yang dimaksud Krsna.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s