Nampak Elegan dengan Keriput dan Uban? Laku Leluhur untuk Hidup Mulia di Usia Tua

 

buku dvipantara dharma sastra meditasi orang tua

Tua dan muda adalah sifat Jiwa

“Umur tidak penting. Tua dan muda adalah sifat jiwa. Yang membutuhkan sandaran adalah orang-orang yang berjiwa tua. Ia sudah pasif, tidak dinamis lagi. Lembaga-lembaga yang mereka pimpin sudah tidak bernyawa lagi. Sebaliknya yang berjiwa muda masih dinamis. Ia bisa hidup tanpa sandaran. Badai dan topan tidak mengendurkan semangatnya. Sambaran petir tidak mampu mengurungkan niatnya. Ia berjalan terus. Usia anda boleh tua, jiwa anda harus tetap muda. Apa gunanya usia muda dan jiwa tua?” (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Keriput Jiwa

Jenderal Douglas MacArthur asal Amerika pernah berkata: “People grow old only by deserting their ideals… Years may wrinkle the skin, but to give up interest wrinkles the soul.” Orang menjadi tua karena meninggalkan idealnya (tidak lagi berupaya untuk mencapainya)… Usia hanyalah meyebabkan keriput pada kulit, tanpa daya tarik (kehendak yang kuat) jiwamu berkeriput…….. “You are as young as your faith, as old as your doubt; as young as your self-confidence, as old as your fear; as young as your hope as old as your despair.” Kau adalah semuda imanmu, dan setua keraguanmu; semuda rasa percaya dirimu, dan setua rasa takutmu; semuda harapanmu, dan setua keputusasaanmu. “In the central place of every heart there is a recording chamber. So long as it receives messages of beauty, hope, cheer and courage, so long are you young.” Di tengah setiap hati (jiwa/psike), adalah ruang perekam/arsip. Selama ia menerima pesan-pesan nan indah, penuh harapan, keceriaan, dan semangat, selama itu pula kau masih berusia muda. “When your heart is covered with the snows of pessimism and the ice of cynicism, then, and then only, are you grown old. And then, indeed as the ballad says, you just fade away.” Ketika hati (jiwa/psikis)mu tertutup oleh salju pesimisme dan sinisisme, maka saat itulah kau menjadi tua. Kemudian, seperti kata para penyair, kau melentur dan lenyap. (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan simak pendapat leluhur bagaimana menjalani hidup dengan uban dan keriput dengan penuh elegan.

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sara Samuccaya 510

Mereka yang telah menemukan, menguasai inti kebijaksanaan dan prajna dan buddhi — terbebaskan dari penderitaan yang disebabkan oleh keriput dan uban. Bahkan, tiada lagi kelahiran ulang bagi mereka. Pengertiannya adalah, seseorang yang sadar akan hakikat dirinya sebagai Jiwa yang kekal abadi dan ketidakkekalan dunia benda – tidak terpengaruh oleh segala fenomena fisik dan perubahan-perubahan seperti bertambahnya uban atau keriput sejalan dengan usia. Kesadaran Jiwa membebaskan manusia dari segala keterbatasan raga.

 

Sara Samuccaya 511

Ketika gugusan pikiran dan perasaan (mind) tidak terganggu oleh musibah/bencana; ketika tiada lagi kerinduan untuk pengalaman-pengalaman suka atau kenikmatan duniawi; ketika rasa takut dan marah telah lenyap, teratasi, terlampaui — maka seseorang disebut Muni, seorang Bijak, yang telah berhasil menghentikan gejolak gugusan pikiran dan perasaan (mind).

 

Sara Samuccaya 512

Seorang bodoh — tidak berkesadaran Jiwa — memiliki ribuan alasan untuk berduka setiap hari; dan ratusan alasan untuk merasa cemas, takut. Namun, tidak demikian dengan seorang pandita atau seorang bijak berkesadaran Jiwa.

 

Sara Samuccaya 513

Seseorang dapat melampaui segala dosa-kekhilafan dengan buddhi, inteligensia, kemampuan untuk memilah antara tindakan yang tepat dan tidak tepat. Demikian, dengan terlampauinya segala dosa-kekhilafan, ia meraih sifat sattva, sifat mulia yang membuat seorang dinamis, namun tetap berkepala dingin, yang mengantarnya pada keseimbangan diri, kebahagiaan sejati, dan kedamaian sampurna

 

Sara Samuccaya 514

Para bijak tidak terikat dengan dunia benda dengan segala godaan dan pemicu bagi indra — sekalipun ia hidup di tengah semuanya itu. Sebaliknya, seorang bodoh senantiasa memikirkan kenikmatan indra,

walau tiada pemicu di sekitarnya yang dapat menggodanya.

 

Sara Samuccaya 515

Kilauan logam mulia yang tercampur dengan besi tak akan terungkap, walau sudah dipanasi. Demikian pula dengan seorang berpengetahuan, namun pikirannya masih kacau dan dirinya belum matang, dalam pengertian kesadaran Jiwanya belum cukup berkembang, segala ilmu yang dimilikinya tak akan terungkap sepenuhnya; tak mampu membuatnya berkilau sebagaimana mestinya.

 

Sara Samuccaya 516

Sebagaimana biji yang telah dibakar/dimasak tidak bertunas; demikian pula dengan seseorang yang segala kelemahan dan dosa-kekhilafannya telah terbakar oleh api kesadaran Jiwa. Ia tidak mengalami kelahiran ulang.

 

Sara Samuccaya 517

Tiada seorang pun dapat melihat “jejak-terbang” burung-burung di langit dan “jejak renang” ikan-ikan dalam air — demikian pula dengan jejak para bijak, tak seorang pun dapat meramal atau menentukannya. Sloka ini mengatakan sesuatu yang luar biasa, yaitu kita tidak marnpu, belum cukup memiliki kesadaran untuk memahami tingkah laku para bijak, apalagi mengkritisinya. Lebih parah lagi, jika kita menilai perbuatan mereka dengan tolok ukur ketidaksadaran kita.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s