Penjelasan Suara Om Menurut Leluhur Kita

buku dvipantara yoga sastra omkara

“Inti dari seluruh pengetahuan, adalah Sabda Awal, “AUM”. Tanpa Sabda Awal ini – yang berada di balik big bang – tidak ada penciptaan. Tidak ada kehidupan Dari Sabda Awal ini tercipta eter, substansi ruang angkasa – ruang yang “tampak” kosong yang menanungi sekian banyak varian Aum, dan setiap varian “membentuk”, menjadi  galaksi-galaksi yang tak terhitung jumlahnya. Para ilmuwan antariksa, para astronom membenarkan bahwa ruang angkasa memang “terdiri dari suara” – jadi bukannya “ada suara dalam ruang angkasa”, tapi dari suara inilah muncul ruang angkasa.

“Para ilmuwan modern menyimpulkan bahwa suara yang terdengar dari matahari adalah varian Aum yang paling dekat dengan “versi” ucapan manusia. Cahaya matahari adalah kurir bagi suara halus Aum yang menggetarkan seluruh sistem kita dan menggerakkan kita. Tanpa adanya suara ini, cahaya saja tidak cukup untuk menghidupi bumi ini. Cahaya tanpa Sabda Aum ibarat amplop kosong tanpa surat.

“Tentunya, hingga hari ini pun para ilmuwan belum bisa menerima bagaimana cahaya bisa menjadi kurir bagi suara – karena kecepatan mereka berbeda. Mereka masih butuh waktu untuk memahami hal ini, untuk memahami sifat suara yang sesungguhnya. Suara bisa berubah-ubah kecepatan, setiap perubahan itu meningkatkan atau merendahkan frekuensinya. Ketika masih berada dalam “range” yang terdeteksi oleh sains, maka kecepatan suara memang lebih rendah dari kecepatan cahaya. Tapi “range” yang dipahami oleh ilmuwan modern  itu baru “sebagian” dari range suara sejati. Para resi atau para nabi yang “menerima wahyu” atau sruti – “mendengar” – dapat menggapai range suara yang tak tergapai oleh kita. Berada dalam range tersebut , mereka mendengarkan dan melihat apa yang tidak terdengar dan terlihat oleh kita.” Penjelasan Bhagavad Gita 7:8 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Berikut ini penjelasan leluhur kita dalam kitab Tattva Sang Hyang Mahajnana

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Omkara ini juga dikenal sebagai Agni, Api — api teragung yang bisa membakar habis identitas-jiwa rendah, mind, dan juga kesadaran-badan.

“Demikian setelah menggunakan Api untuk membakar semuanya, seseorang membakar benih kelahiran di masa depan.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 65

 

BERARTI, DEMIKIANLAH SESEORANG MENCAPAI PEMBEBASAN dari samsara, dari penyebab kelahiran kembali.

Nah, ini tidak bisa dipahami secara filosofis. Om haruslah melampaui mind kita, bahkan inteligensia kita, untuk bisa menuntun kita melampaui mereka.

Jadi, mencoba untuk memahami Om adalah upaya yang sia-sia. Seseorang harus “melakoni”-nya untuk terangkat. Seseorang harus mengalaminya sendiri. Ini bukanlah bahan diskusi, walaupun ya, jika kita tertarik untuk mendiskusikannya maka bisa terus mendiskusikannya sampai bermasa-masa kehidupan tanpa beranjak ke mana-mana.

 

“Sesungguhnya Omkara adalah ucapan teragung, tersuci di antara yang suci. Sebagai yang terhalus, Omkara menuntun pada nirvana — padamnya api nafsu.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 66

SEDEMIKIAN DAHSYATNYA KEPERKASAAN API OMKARA, sehingga semua api lain – api nafsu, keserakahan, keterikatan, kemarahan, ego, dan lain-lain —terpadamkan olehnya.

Sesungguhnya Om adalah nirvana, moksa — Pembebasan Mutlak.

 

“(Suara Om) Tidak Tersentuh oleh aksara, artinya ia bukanlah sebuah kata yang terdiri dari aksara tertentu. Ia melampaui segala keberadaan, melampaui waktu/ruang. Melampaui segala bentuk; melampaui segala emosi/perasaan – ia dikenal sebagai pembebas agung, dengan kata lain, adalah sifat alaminya untuk membebaskan.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 67

 

“(Om) ini adalah Atma, Jivatma atau Jiwa Individu. Ia juga Antaratma, atau Hyang Bersemayam, Inti Jiwa. Dan, ia juga Paramatma, Jiwa Hyang Agung, Hyang Tertinggi. Ia adalah Atyantatma, Melampaui Segalanya. Kemuliaan-Nya tak berakhir. Kasunyatan agung atau Sunya, Akhir dari segala keberadaan, sesungguhnya, ialah Parama Siva, Siva Hyang Maha Agung, Hyang Maha Tinggi.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 68

 

“Ketahuilah bahwa Atma atau Jivatma, Jiwa Individu adalah Pemelihara, Visnu. Inti dari Atma, Antaratma adalah Pencipta, Brahma. Rudra, Hyang Maha Berkilau, adalah Paramatma, Jiwa Agung. Dan, Melampaui Segalanya, sang Atyantatma adalah Parama Siva, Gusti dari Gusti, Hyang Maha Membahagiakan.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 69

 

“Akara atau suara ‘A’ adalah benih Jagrapada atau Keadaan Jaga; Ukara atau suara ‘U’ adalah benih Svapnapada atau Keadaan Mimpi; Makara atau suara ‘M’ adalah benih Susuptapada atau Keadaan Tidur Lelap tanpa gangguan/mimpi apa pun atau Keadaan Hidup dan Mati Berkesadaran; sedangkan, suara ‘Om’ adalah benih Turiyapada atau Keadaan Meditasi, berarti adalah suara Om yang mengantar pada alam meditasi.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 70

 

“Ada empat daerah yang dikaitkan dengan Omkara atau Siva, Hyang Agung. Keempat daerah itu adalah: daerah pusar, daerah hati, daerah tenggorokan, dan daerah kepala.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 71

 

“Ketahuilah bahwa manah atau mind yang mengarah pada kesatuan — berupaya mencapai Kaivalyapada atau Keadaan Kesatuan – adalah Visnu, sang Pemelihara. “Buddhi atau Inteligensia, Fakultas Pemilahan, yang dapat memilah antara tindakan yang nikmat secara indrawi dan tindakan mulia adalah Brahma, sang Pencipta.  “Rudra Hyang Berkilau, Hyang Pemusnah dan Pendaur-ulang adalah Ahankara atau Ke-aku-an. “Sementara, Mahesvara adalah Hyang Sattva, Realitas dari segala sesuatu.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 72

 

SEMUA INI ADALAH MODEL – kita harus selalu ingat bahwa tujuan terakhir kehidupan adalah kesadaran akan Kesatuan, akan Kemanunggalan.

Jalan mana pun — jalan mulia mana pun — yang kita ikuti, akan menuntun kita pada akhir yang sama. Sekali lagi, selama jalannya adalah jalan mulia, dan bukan jalan kenikmatan indrawi.

Sebelumnya kita tidak membahas tentang Omkara, karena, sesungguhnya tidak dibutuhkan pembahasan. Ini adalah sesuatu untuk dilakoni. Dengan segenap kerendahan hati, inilah saran saya. Carilah seorang mentor atau pemandu spiritual yang qualified, yang bisa memandu Anda mewujudkan tujuan kesatuan.

 

“Sungguh amat sulit untuk mengenal sifat sejati dari Hyang Agung, Mahesvara melalui pengetahuan semata. Hanyalah dengan memperoleh esensi pengetahuan – jnatattva – melalui laku sehingga seseorang dapat menyadari, bahkan melihat Gusti. Janganlah ragu akan hal itu.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 73 omkara

 

MELIHAT GUSTI ADALAH MENYATU DENGAN-NYA. Inilah rahasia menjadi seorang “Saksi” atau Saksi tidak hanya akan “Kemuliaan Gusti” tetapi juga sosok-Nya.

Hyang Abstrak (Tak Berwujud) juga adalah Hyang Persona (Berwujud), dan Hyang Persona juga adalah Hyang Abstrak. Inilah sifat paradoks Gusti. Inilah Misteri dari Segala Misteri.

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s