Kita Menikmati Hidup Layaknya Serangga di Tengah Sampah? Jauhi Sampah atau Cari Solusi?

buku yoga sutra patanjali sampah

Setiap hari kita selalu memproduksi sampah, sadarkah kita, pedulikah kita????

Mereka yang bersifat tamas, malas, hidup bersama tumpukan sampah, tidak peduli dan tetap hidup tenang tak terganggu. Mereka yang bersifat rajas, dinamis akan menghindari tumpukan sampah, tapi tidak peduli orang lain hidup bersama sampah. Mereka yang buddhi atau intelegensianya mulai tumbuh tidak hanya memikirkan diri pribadi, akan tetapi memikirkan kepentingan umum, mereka mulai mencari solusi bagi tumpukan sampah. Mind atau Gugusan Pikiran dan Perasaan hanya memikirkan diri. Buddhi memikirkan kepentingan umum.

Mereka yang bersikap cuek terhadap penderitaan sesama makhluk; mereka yang duduk manis berpangku tangan ketika sesama manusia, sesama makhluk dianiaya, dizalimi, diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia, adalah manusia-palsu, pseudo. Hanya berbaju manusia. Semangatnya masih semangat serangga yang suka sama sampah. Semangatnya masih sama seperti semangat kecoa-kecoa, tikus-tikus, lalat-lalat, nyamuk-nyamuk yang sedang menikmati makan pagi, makan siang, makan malam, dan kudapan mereka di tempat pembuangan sampah.

 

Silakan simak penjelasan Yoga Sutra Patanjali II.20 berikut:

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

drasta drsimatrah suddho’ pi pratyaya-anupasyah

“Kendati melihat, Drasta atau Ia yang Melihat tak terpengaruh, tak tercemar oleh apa yang dilihatnya. Ia tetap suci, tetap murni.” Yoga Sutra Patanjali II.20

 

Dalam sutra ini, Patanjali sedang berbicara tentang Jiwa, tentang Jiwa Individu atau Jivatma; tentang Purusa atau Gugusan Jiwa.

“MELIHAT TAPI TIDAK TERPENGARUH oleh Apa pun yang Terlihat Olehnya.”

Jika Jiwa tidak terpengaruh, lalu siapakah yang terpengaruh? Ketika kita melihat, atau bahkan mengalami sesuatu yang menyenangkan atau sebaliknya, siapakah yang terpengaruh?

Jangankan sesuatu yang bersifat personal atau pribadi, jika empati sudah berkembang dan kita melihat orang lain dizalimi, kita tentu tidak bisa duduk diam atau membisu, Lalu, siapakah yang terpengaruh, dan kemudian bertindak untuk melawan kezaliman?

Jawabannya:

Ketika diri kita, dalam pengertian badan kita, fisik kita dizalimi; pikiran dan perasaan kita diteror, maka gugusan pikiran dan perasaan atau mind pula yang merasakannya, kemudian memerintah indra dan badan untuk bertindak.

Ketika rasa empati sudah berkembang sehingga saat melihat orang lain dizalimi kita merasa iba, merasa perlu bersuara, maka saat itu buddhi atau inteligensi kita yang bekerja.

Gugusan Pikiran dan Perasaan atau Mind yang belum bertransformasi menjadi Buddhi, menjadi Inteligensi, adalah bersifat personal. Sebelum berkembangnya inteligensi, kita tidak akan bertindak untuk orang lain. Kita tidak merasakan penderitaan orang lain. Sebelum inteligensi berkembang, kita hanya memikirkan diri saja.

 

BERKEMBANGNYA BUDDHI ATAU INTELIGENSIA berarti kita sudah bisa merasakan kesatuan dan persatuan dengan semesta, dengan makhluk-makhluk lain. Saat itu kita menjadi transpersonal.

“Lalu,” barangkali Anda bertanya, “apa kaitannya dengan sutra ini bahwa ia yang melihat sesungguhnya tidak terpengaruh oleh apa yang dilihatnya?”

Untuk memahami Patanjali pun kita butuh inteligensi, butuh buddhi. Penyelaman kita bersama saat ini pun dalam rangka itu, dalam rangka pengembangan buddhi.

Sebab itu, mulailah agak go slow, dalam pengertian tidak sekadar membaca—dan jangan sekali-kali melewatkan beberapa kalimat atau paragraf; jangan menggunakan keahlian Anda dalam hal membaca cepat. Sutra-sutra ini bukan sekadar bacaan. Sutra-sutra ini adalah bagian dari laku, dari sadhana, dari pelatihan, dari soul work-out sehingga setiap tahap mesti dialami, tidak bisa dilewatkan begitu saja.

Renungkan setiap kata dalam sutra ini.

 

“KENDATI MELIHAT, sesungguhnya la yang Melihat tidak tercemar, tidak terpengaruh oleh apa yang dilihatnya, Ia tetap murni, suci.”

Ia “yang tampak” melihat—“yang umumnya dianggap melihat”—adalah Gugusan Pikiran dan Perasaan, Mind.

Sementara itu, “tidak tercemar, tidak terpengaruh” adalah sifat yang melekat pada Jiwa sebagai Saksi. Berarti, yang tidak tercemar, tidak terpengaruh, dan tetap suci, murni itu adalah Jiwa, Jivatma. Sinar matahari yang menerangi tumpukan sampah yang mengeluarkan bau tidak sedap dan sangat “tidak enak dipandang” itu “tidak terpengaruh” oleh bau tidak sedap. Sinar Matahari atau  Cahaya Matahari hanya bertugas sebagai penyinar, sebagai saksi Sinar atau Cahaya Matahari tidak berbuat apa-apa.

Tapi—dan ini amat sangat penting untuk disimak.

 

TIDAK BERARTI GUGUSAN PIKIRAN DAN PERASAAN ATAU MIND TIDAK BERTINDAK—dengan menggunakan sarana sinar matahari, cahaya matahari, ia menjauhi tumpukan sampah itu. la memerintah badan dan indra untuk melindungi dirinya.

Sementara itu, jika Buddhi atau Inteligensi sudah mulai bekerja, maka ada pekerjaan tambahan. Bukan sekadar melindungi diri, buddhi atau inteligensi akan memerintah badan dan indra untuk mencari solusi, untuk berupaya supaya sampah itu bisa dijadikan pupuk, atau diapakan, supaya tidak mengganggu kesehatan umum.

Mind atau Gugusan Pikiran dan Perasaan hanya memikirkan diri. Buddhi memikirkan kepentingan umum. Jelas ya.

Sementara itu, Sinar, Cahaya, Jiwa sama sekali tidak terpengaruh oleh apa pun. Ia hanya menjadi saksi. Ketika mind belum bekerja. secara sempurna, dan melihat sampah pun kita tidak berbuat apa-apa –persis seperti serangga, kecoa, nyamuk, lalat yang malah berkumpul di sekitar tumpukan sampah—, Jiwa menyaksikan kebodohan dan kemalasannya. Pertunjukan Tamas, Bodoh, Malas.

Ketika Mind mulai bekerja dan kita menjauhi tumpukan sampah, maka Jiwa menyaksikan Pertunjukkan Rajas, Aktif, Dinamis.

Ketika Buddhi atau Inteligensi mulai berperan, kita mencari solusi supaya timbunan sampah tidak terjadi lagi. Saat itu Jiwa menjadi Saksi bagi Pertunjukkan Sattva, Dinamis tapi tetap tenang, Kreatif, siap Berkarya Tanpa Pamrih.

Pertunjukkan apa pun, Jiwa tetap saksi.

Pertunjukkan jelek Tami tidak membuatnya menjadi jelek. Pertunjukkan Dinamis Agresif Raji tidak membuatnya ikut menjadi agresif. Pertunjukkan Dinamis Kreatif tapi Tetap Tenang oleh Sati pun tidak memengaruhi Jiwa.

Apa pun yang terjadi, Jiwa tetap Suci, Murni. Kesuciannya, kemurniannya tidak terganggu oleh gangguan luar apa pun.

 

PARA PEMALAS, MEREKA YANG BERSIFAT TAMASI, tidak peduli terhadap apa pun yang terjadi. Mereka—yang jangankan Buddhi atau Inteligensinya, Mind atau Gugusan Pikiran serta Perasaan saja belum bekerja, belum berkembang—boleh saja berpikir positif, boleh saja berpositif-ria seolah sudah mencapai tingkat Kesadaran Jiwa, Kesadaran-Saksi. Siapa yang bisa melarang seseorang yang pekerjaannya hanyalah berkhayal?

Tidak, mereka yang bersikap cuek terhadap penderitaan sesama makhluk; mereka yang duduk manis berpangku tangan ketika sesama manusia, sesama makhluk dianiaya, dizalimi, diinjak-injak harkat dan martabatnya sebagai manusia, adalah manusia-palsu, pseudo. Hanya berbaju manusia. Semangatnya masih semangat serangga yang suka sama sampah. Semangatnya masih sama seperti semangat kecoa-kecoa, tikus-tikus, lalat-lalat, nyamuk-nyamuk yang sedang menikmati makan pagi, makan siang, makan malam, dan kudapan mereka di tempat pembuangan sampah.

 

MANFAATKAN KESAKSIAN JIWA, manfaatkan sinarnya, cahayanya untuk melihat sampah sebagai sampah. Tidak perlu terpengaruh dan beraduh-aduh, “Aduh sampah, aduh kotor, aduh bau.” Gunakan buddhi, biarlah ia menuntun indra dan badan kita untuk mengupayakan solusi, supaya tidak ada sampah, tidak ada bau tidak sedap, tidak ada penyakit yang disebabkan oleh lingkungan yang tidak higienis.

Kesaksian Jiwa sangat penting.

Sinar Jiwa, Cahayanya penting supaya buddhi atau inteligensi bisa melihat, dan bertindak sesuai dengan, tidak hanya apa yang dilihatnya, tapi juga sesuai dengan kesadarannya.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s