Ingin Bahagia, Rupa Menawan, Panjang Usia, Sehat, Bijaksana, Berani? Praktekkan Svastika!

buku dvipantara dharma sastra svastika

Simbol Svastika di berbagai negara

buku dvipantara dharma sastra savstika mohenjodaro

Simbol Svastika yang ditemukan di Mohenjodaro dan Harappa, peninggalan Peradaban Lembah Sungai Sindhu sekitar 8.000 tahun Sebelum Masehi.

Ada empat hal utama yang membahagiakan manusia:

  1. Bertindak melakukan kebajikan. Bila kita melakukan kebatilan, maka kita akan merasa cemas dan tidak merasa bahagia.
  2. Apa pun yang membuat hidup berati, bermakna, maka itulah Artha. Kalau uang belaka itu dan kegunaannya tidak bermakna bagi banyak orang, maka itu bukan Artha, itu sekadar fulus.
  3. Seseorang bahagia bila keinginannya terpenuhi, dia memperoleh kepuasan, contentment, psychological factor.
  4. Moksa, kebebasan. Selama kita terbelenggu maka kita belum bebas, dan kita belum bahagia.

Keempat hal yang membahagiakan tersebut disimbolkan dengan gambar Svastika. Silakan baca ulang https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/06/22/dari-purusa-artha-menuju-svastika-kebahagiaan-dan-kemakmuran-lahir-batin/

Bagaimana kaitan Dharma, Artha, Kama dan Moksa dengan tindakan welas asih terhadap semua makhluk, silakan simak penjelasan Kitab Leluhur Sara Samuccaya di bawah ini:

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Sara Samuccaya 141

Hidup ini adalah landasan bagi Dharma, Kebajikan; Artha, Harta Benda maupun nilai-nilai luhur yang Memberi Makna pada Kehidupan; Kama, Keinginan-Keinginan yang Mulia, serta Gairah Hldup untuk Berbuat Baik dan Moksa, Kebebasan dalam berpikir, berucap, dan bertindak selagi hidup; serta kebebasan mutlak dari kelahiran dan kematian yang berulang-ulang. Sebab itu, barangsiapa yang merusak kehidupan, mencelakai satu pun makhluk hidup — sesungguhnya merusak seluruh nilai-nilai luhur tersebut. Dan, barangsiapa menyelamatkan satu pun wujud kehidupan, telah menyelamatkan keseluruhan nilai-nilai tersebut.

 

Sara Samuccaya 142

Seseorang yang ingin (menikmati) hidup, tidak akan mencelakakan atau merusak kehidupan orang lain, makhluk lain. Hendaknya ia menginginkan bagi orang lain, apa saja yang diinginkan bagi diri sendiri.

 

Sara Samuccaya 143

Apa gunanya mempertahankan badan ini atas penderitaan orang lain; akhirnya toh, seekor anjing saja, bisa seenaknya mencakar kepala jasad, yang sudah tidak bernyawa.

 

Sara Samuccaya 144

Badan berakhir sebagai ulat, abu, atau pun sampah, kotoran. Lalu, untuk apa menyakiti orang lain, menyebabkan penderitaan bagi orang lain semata-mata untuk mengenyangkan diri dengan makanan ataupun kenikmatan lain secara berlebihan?

 

Sara Samuccaya 145

Selagi berjalan, berdiri; dalam keadaan jaga maupun tidur — jika perbuatan serta pikiran seseorang tidak berguna, tidak bermanfaat bagi sesama makhluk hidup – maka, sesungguhnya hidup seperti itu tidaklah lebih baik dari kehidupan seekor binatang.

 

Sara Samuccaya 146

Singa betina melahirkan satu anak saja dalam satu kesempatan; sementara itu serigala (Mrgarini sebagai gender feminin dari kata Mrgari) melahirkan banyak anak sekaligus. Adalah pertama — anak singa yang diberi makan dan bertahan hidup. Sebaliknya, yang lain — anak-anak serigala — justru menjadi makanan, tidak hanya dirnangsa hewan-hewan buas lainnya, kadang menjadi mangsa induknya sendiri. Demikian si pemangsa mesti mempertanggungjawabkan perbuatannya, walaupun yang dimakan adalah anak-anaknya sendiri. Pengertiannya: Seorang manusia yang mencelakakan sesama manusia,sesama makhluk hidup — sebenarnya adalah mencelakakan dirinya sendiri.

 

Sara Samuccaya 147

Seseorang yang tidak membunuh/menjagal — termasuk menyebabkan pembunuhan dan penjagalan; mengikat, menahan atau menyangkarkan, dan menyiksa sesama makhluk — tetapi justru menginginkan dan mengupayakan kebaikan bagi semua, meraih kebahagiaan sejati.

 

Sara Samuccaya 148

Dengan tidak menyakiti makhluk-makhluk lain, dengan mudah seseorang menghasilkan apa saja yang diinginkan dari hati terdalam/sanubarinya.

 

Sara Samuccaya 149

Seseorang yang menginginkan rupa yang menawan; kesempurnaan dalam segala hal; usia panjang dan kesehatan; kebijaksanaan serta keberanian — hendaknya menghindari himsa atau kekerasan dalam segala hal, dalam segala bentuk (termasuk, tentunya, menyakiti dan menyembelih sesama makhluk hidup sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya)

 

Sara Samuccaya 150

Seseorang yang penuh welas asih, melindungi sesama makhluk dan tidak menyakitinya, terbebaskan dari rasa takut. Ia pun tidak ditakut-takuti oleh makhluk-makhluk lain. Tiada keraguan dalarn hal ini.

 

Sara Samuccaya 151

Dana-punia (amal-saleh) dan hadiah yang diberikan kepada semua orang, jika dibandingkan dengan hadiah kehidupan kepada satu pun makhluk – maka yang terakhir itulah yang lebih utama. Berarti, menyelamatkan nyawa satu makhluk itu jauh lebih mulia dan berharga daripada berbagai bentuk dana-punia.

 

Sara Samuccaya 152

Tiada sesuatu yang lebih berharga dari kehidupan itu sendiri, maka hendaknya seseorang bertindak dengan penuh welas-asih terhadap orang lain, sebagaimana ia bertindak terhadap dirinya sendiri.

 

Sara Samuccaya 153

Tidak terbawa oleh amarah, jujur, tidak menyakiti sesama makhluk, tidak pula menghina/menyepelekan siapa pun, serta bertindak sesuai dengan nilai kebajikan – emikian seseorang meraih hidup panjang dan berguna.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Bagi para pembaca buku-buku Anand Krishna yang ingin bertemu muka dengan Sang Penulis Buku, Bapak Anand Krishna, silakan ikuti Program Retret:

Acara Retret direncanakan di Anand Krishna Information Centre Solo pada hari Jumat Sore, Saptu dan Minggu. Tanggal Retret belum ditetapkan. Retret merupakan kegiatan yang sangat penting untuk mempersiapkan diri dengan cara setiap hari melakukan kegiatan spiritual mulai dari chanting, agnihotra dan yoga dan mengkonsumsi makanan vegetarian.

Buku pertama yang akan dibahas mengenai kaitan antara Bahasa Jawa Kuno, Sunda dan Kebudayaan Sindhi. Mengapa orang Nusantara suka ngambek? Mengalah di luarnya, tetapi setiap beberapa dasawarsa meledak dan berdarah-darah? Direncanakan ada tour bersama ke Sangiran melihat perkembangan manusia dari zaman dahulu sampai sekarang.

Kontak sementara Triwidodo: 081326127289

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s