Hati Transreceiver Kita, Gadget Terpenting yang Memungkinkan Kita Mengakses Seluruh Keberadaan

buku bhagavad pusat psikis dan jantung

Singgasana Hati

“Ketahuilah Arjuna, bahwa Isvara — Penguasa Alam Semesta — bersemayam di (wilayah sekitar) hati setiap makhluk. Dengan kekuatan Maya-Nya (yang ilusif namun sakti), Ia-lah yang menggerakkan setiap makhluk secara mekanis.” Bhagavad Gita 18:61

Hrddaya atau “Wilayah Sekitar Hati” yang dimaksud adalah Pusat Psikis – berlokasi persis di tengah dada antara kedua puting kita.

Silakan simak penjelasan leluhur kita dalam Kitab Tattva Sang Hyang Mahajnana di bawah ini:

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Sebagai Hyang Maha Halus, Gusti bersemayam dalam hati setiap makhluk. Ia bisa dikenal lewat pengetahuan (spiritual sejati).

“Yang paling halus di antara yang terhalus, namun kemuliaannya melingkupi segalanya dan tak terjelaskan — Karenanya, Ia hanya bisa diketahui lewat pengalaman langsung atau knowingness.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 60

KITAB-KITAB SUCI ADALAH PENUNJUK, demikian pula dengan para pemandu dan guru spiritual. Pada akhirnya, setiap orang mesti mengenal Tuhan melalui pengalaman pribadi.

Pengetahuan pinjaman tanpa pengalaman langsung tidaklah berguna sama sekali. Sama halnya seperti pengetahuan tentang makanan tidak akan mengenyangkan kita. Dengan membaca menu di restoran, perut kita tidak terisi.

 

“Teratai di daerah hati menuntun pada moksa atau pembebasan dari segala delusi, keterikatan, dan ketergila-gilaan — demikian membebaskan seseorang dari siklus kelahiran dan kematian. Teratai hati ini, adalah esensi dari tripada — ketiga teratai yang ada.

“Ketahuilah bahwa ini adalah wilayah sejati, inti dari segala keberadaan — segala sesuatu ada di sini.” Sang Hyang Mahajnana 61

 

DENGAN KATA LAIN, INILAH SINGGASANA JIWA, inilah tempat di mana kita senantiasa terhubung dengan Jiwa Agung, Hyang Agung. Inilah transreceiver kita, komunikator kita, gadget terpenting yang memungkinkan kita mengakses seluruh keberadaan, dan bahkan melampaui keberadaan.

lnilah alasannya, hati diberikan tempat istimewa dalam berbagai tradisi. Apa yang tidak boleh kita lupakan adalah yang dimaksud bukanlah hati fisik, tetapi hati psikis, hati batin, titik pusat, singgasana hati.

 

“Teratai hati ini halus, bersih dari segala noda, senantiasa murni, maha membahagiakan, dan kilauannya hanya dapat dibandingkan dengan kilauan ribuan matahari

“Di intinya adalah keadaan sunya atau kekosongan. Keadaan ini juga disebut sebagai Param Kaivalya – Keadaan Kesatuan Supra, Kemanunggalan Sampurna.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 62

 

“Teratai hati ini juga dikenal sebagai Sivapada atau wilayah terhalus dari Siva. Ini juga merupakan bagian tubuh manusia yang beresonansi dengan suara awal — Omkara — dari mana ia menyebar ke semua penjuru.” Tattva Sang Hyang Mahajnana 63

 

SUARA AWAL INI, Omkara ini, suara Om atau Aum adalah gelombang suara, frekuensi yang menghubungkan kita dengan seluruh keberadaan, dan pada akhirnya menuntun kita melampaui keberadaan yang tampak.

Lebih lanjut di ayat berikutnya….

 

“Di tengah samudra samsara — kelahiran dan kematian berulang — dan dikelilingi oleh ular-ular berbisa (keinginan, keterikatan, dan lain-lain) — itulah keadaan manusia.

“Omkara bagaikan raja para rajawali dan elang, Garuda yang Perkasa, yang bisa menyelamatkan, mengangkat, dan membawa dia ke Alam Abadi (Alam Siva)” Tattva Sang Hyang Mahajnana 64

 

PRANAVA — SUARA OM – mengangkat Jiwa. Ia membuat Jiwa Individu atau Jivatma beresonansi pada frekuensi yang lebih tinggi, bahkan frekuensi tertinggi yang mungkinkan.

Demikian, Jiwa Individu terangkat pada Tataran Hyang Agung, Jiwa Agung.

Para fisikawan modern juga mencari prospek yang sama. Namun, kekeliruan terjadi ketika mereka berupaya untuk mengangkat tubuh manusia ke tataran tersebut. Maka, seluruh upaya mereka tersia-sia; karena tubuh manusia, sebagaimana diketahui, tidak bisa bergerak lebih cepat daripada cahaya.

Apa yang terlewatkan oleh mereka adalah realitas-jiwa yang tidak terikat pada hukum-hukum fisika yang mengikat realitas fisik. Secara fisik, kita, atau tepatnya tubuh kita, tidak bisa melewati batasan-batasan yang diciptakan oleh kecepatan cahaya. Tetapi secara spiritual, hal ini sangatlah mungkin.

Sesungguhnya, saat kematian fisik, ketika mind kembali pada prinsip dasarnya — Prinsip Bulan — kecepatannya lebih cepat daripada cahaya.

EP0S BESAR MAHABHARATA mengatakan hal yang sama pada kita, “Mind Manusia bergerak lebih cepat daripada cahaya”.

Tidak butuh banyak waktu, bahkan nyaris sama sekali tidak membutuhkan waktu, untuk mengelilingi dunia secara mental, bahkan mengunjungi galaksi lain dan kembali lagi. Semuanya dengan kecepatan melebihi kecepatan cahaya.

Hal tersebut tidak bisa dilakukan secara fisik, masih belum memungkinkan. Walaupun bisa saja dilakukan jika kita berhasil mengurai tubuh manusia menjadi partikel-partikel cahaya dan menyusunnya kembali di tempat tujuan.

Para ilmuwan berspekulasi tentang gagasan akan multiverse, semesta-semesta paralel – apa pula ini? Apa maksudnya? Apa maksud dari semua spekulasi ilmiah ini? Mereka mengindikasikan bahwa sesungguhnya mind kita memang bisa bergerak lebih cepat dari cahaya, dan dapat berspekulasi tentang hal-hal yang tidak mungkin secara fisik.

Entah kita menerimanya atau tidak; entah kita menyadarinya atau tidak; entah kita mengetahui tentang ini atau tidak — sesungguhnya, adalah Om ini yang, dalam alam meditasi, membawa kita ke alam lain dan juga membawa kita kembali ke alam ini. Dan, adalah Om ini pula yang bisa membebaskan kita dari kelahiran dan kematian berulang. Adalah Om ini yang bisa membebaskan kita!

Dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

 

Dalam FB:

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s