Aku Bukan Tubuh, Aku Pembuat Tubuh! Mengapa Kuanggap Tubuh Jatidiriku? Karena Maya?

buku dvipantara jnana sastra vrhaspati

Ilustrasi Vrhaspati

Hitler seterjaga kita semua, tetapi apakah dia bertindak dengan “sadar”? Atau, bagaimana dengan kepala pemerintahan otoriter mana pun – mereka semua terjaga. Para tiran yang menindas masyarakat dalam Keadaan 100% Terjaga. Dapatkah kita menyebut mereka “insan sadar”?

Mazhab psikologi lama merujuk pada Jagrapada sebagai Keadaan Sadar atau Mind sadar. Ini telah menciptakan banyak kebingungan. Begitu banyak kebingungan, sehingga sesungguhnya semua penemuan selama beberapa dekade terakhir yang berdasarkan pada model ini harus di-review kembali untuk menjadikan ilmu psikologi bisa aplikatif.

Keadaan jaga dalam keseharian hidup disebut Beta. Saat itu, pikiran memang dalam keadaan jaga. Ia memperhatikan dan menerima stimuli-stimuli dari dunia luar.

Silakan ikuti penjelasan leluhur kita dalam Kitab Vrhaspati Tattva di bawah ini:

buku dvipantara jnana sastra

Cover Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Jagrapada atau Keadaan Jaga bersifat kasar, terstruktur, dan dapat dilihat oleh mata fisik; Svapnapada atau Keadaan Mimpi bagaikan ombak berbuih. Disebabkan oleh Maya, Kekuatan Kreatif nan Ilusif dari Gusti ia senantiasa berubah-ubah; Susuptapada atau Keadaan Tidur Lelap (tanpa mimpi) adalah gelap gulita, dan (dekat dengan) Hyang Tak Berwujud; Keadaan Keempat atau Turiyapada adalah halus, melampaui jangkauan mind, tak termusnahkan, dan dikenal oleh para bijak sebagai Keadaan Nirvana; dan, Keadaan Kelima atau Turiyantapada — melampaui Turiya, atau inti, akhir dari Turiya – di mana Jiwa Individu atau Jivatma menemukan pemenuhan dalam Persatuan Agung dengan Paramatma atau Hyang Tunggal.” Vrhaspati Tattva 47

 

TIGA KEADAAN PERTAMA menyebabkan kelahiran kembali. Ketika Jiwa Individu atau Jivatma masih menikmati ketiga keadaan tersebut, Ia tetap terikat dengan tubuh, dengan keberadaan material.

Untuk menyadari sifat sejati-Nya, identitas sejati-Nya sebagai bagian tak terpisahkan dari Paramatma, dari Hyang Tunggal, Jiwa Supra, Jiwa Agung — Jivatma harus berusaha keras rnenyadari Keadaan Turiya lewat meditasi.

Dengan kata lain, Jivatma harus mampu melampaui ranah mind, intelek, dan lain-lain. Setelah mencapai Turiyapada, keadaan berikutnya hanya selangkah lagi, ketika Persatuan Agung terjadi, dan Jivatma bersatu kembali dengan Paramatma, Hyang Tunggal.

 

NAH, KETIGA KEADAAN PERTAMA, di mana Mind dengan segala fakultas dan penyusunnya masih berkuasa penuh — secara kolektif disebut sebagai Acetana atau Tidak Sadar.

Keadaan Pertama, Jagrapada atau Keadaan Jaga, merujuk pada keadaan keadaan jaga “secara fisik”. Pada keadaan ini, sebagaimana dua keadaan berikutnya, Mind masih berkuasa penuh.

Mazhab psikologi lama merujuk pada Jagrapada sebagai Keadaan Sadar atau Mind sadar. Ini telah menciptakan banyak kebingungan. Begitu banyak kebingungan, sehingga sesungguhnya semua penemuan selama beberapa dekade terakhir yang berdasarkan pada model ini harus di-review kembali untuk menjadikan ilmu psikologi bisa aplikatif.

Jaga tidak sama dengan sadar. Ambil contoh Hitler seterjaga kita semua, tetapi apakah dia bertindak dengan “sadar”? Atau, bagaimana dengan kepala pemerintahan otoriter mana pun – mereka semua terjaga. Para tiran yang menindas masyarakat dalam Keadaan 100% Terjaga. Dapatkah kita menyebut mereka “insan sadar”?

 

PEMBAHASAN KAWI ATAU JAWA KUNA menggambarkan ini dengan indah lewat contoh seorang pembuat pot tanah Iiat.

Tanah liat tak berbentuk adalah acetana, tidak sadar — ini mudah dipahami. Tapi, kemudian datanglah seorang pembuat pot, ia mengumpulkan tanah liat dan mengubahnya menjadi sebuah pot tanah liat. Sekarang tanah liat memiliki sebuah bentuk. Ia juga bernama. Ia bukan lagi tanah liat, tetapi sebuah pot tanah liat – sebuah pot. Dan, sebagai pot, sekarang ia berharga.

Namun, terlepas dari semua perubahan tersebut, pot tanah Iiat tersebut tetap acetana, tidak sadar. Kita tidak bisa menyebutnya cetana atau sadar. Adalah sang Pembuat Pot yang sadar.

Pembuat Pot adalah Jiwa Individu atau Jivatma.

Pot tanah liat adalah tubuh manusia. Semua perubahan yang terjadi pada tubuh, sesungguhnya tidak memengaruhi Pembuat Pot.

Namun, dan di sinilah kejutannya, setelah “menciptakan” pot tanah liat, setelah menggunakan mind-nya, indranya, dan fakultas-fakultas Iainnya untuk rnenciptakan pot; setelah menginvestasikan energi atau prana-nya dalam pot ini – sang Pembuat Pot “menciptakan” keterikatan dengan pot tanah liat ciptaannya sendiri.

Sang Pembuat Pot bisa keliru menganggap pot tanah liat sebagai jatidirinya. Ia bisa keliru menganggap dirinya tidak memiliki jatidiri lain selain pot buatannya. Inilah maya, ilusi.

Untuk membebaskan diri dari keadaan ilusif ini, seseorang harus beralih ke kesadaran berikutnya dan memasuki alam meditasi……..

 

RENUNGKAN! Pot adalah ciptaaanmu. Engkau bukan pot. Pot hanyalah tanah liat, yang kau kumpulkan dari keberadaan materi. Suatu hari, sebagaimana hal-hal dan objek materi lainnya, pot juga akan rusak. Pot akan musnah juga. Pot yang acetana, yang tidak sadar, mungkin kembali menjadi tanah liat yang tidak sadar. Apa pula yang ditangisi, apa pula yang diratapi?”

Namun, mind memainkan perannya.

Adalah mind, mind manusia kita, yang menciptakan pot. Indra kita, yang kemudian membentuk pot. Demikian, dengan menginvestasikan prana atau energi, kita seperti memberikan “kehidupan” pada pot tersebut. Semua keterikatan kita dan ikatan duniawi dapat dij elaskan dengan cara ini.

 

TANAH LIAT BUKAN HANYA TUBUH KITA. Ini bukan satu-satunya pot ciptaan kita. Kita memiliki begitu banyak pot. Ada pot bernama pasangan. Ada pot bernama anak-anak. Dan, pot-rumah, pot-pot-kantor, pot-rekening, pot status sosial, dan lain-lain.

Selama kita fokus pada pot, pot “ciptaan kita” — kita tetap terikat. Saat kita mengingat “Ah, tanah liat — semua ini hanya permainan tanah liat. Dibentuk oleh mind, pancaindra, yang tidak lain adalah manifestasi dari tanah liat yang sama — semua pot ini akan musnah. Tetapi, aku tidak. Aku bukanlah pot-pot ini. Aku bukan mind, bukan intelek, bukan pancaindra. Aku bukanlah tubuh ini. Aku adalah Jiwa Tak Termusnahkan yang mengunjungi alam ini untuk sementara. Rumah sejatiku ada di tempat lain, malah di mana-mana…. ah, aku tak pernah terpisahkan dari Hyang Tunggal, dari Paramatma.”

Demikian, Jivatma meraih Cetana, mencapai Kesadaran, mencapai Keadaan Turiya dan Turiyanta, di mana Ia satu, senantiasa bersatu dengan Paramatma…….

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s