Renungan Gita: Selalu Terjadi Perubahan Saat Kebatilan dan Ketidakadilan Merajalela

buku bhagavad gita saat adharma merajalela

Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak. Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan.

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Wahai Bharata (Arjuna, keturunan Raja Bharat), Ketika dharma, kebajikan dan keadilan, mengalami kemerosotan; dan adharma, kebatilan dan ketidakadilan merajalela – maka Aku menjelma.” Bhagavad Gita 4:7

 

“Ini adalah sebuah janji yang bukan asal-bunyi. Janji ini memiliki dasar ilmiah yang dapat dipahami.

“KETIKA ADHARMA MERAJALELA — Ketika kebatilan dan ketidakadilan berkuasa, maka di manakah dharma, di manakah kebajikan dan keadilan?

Apakah dharma, kebajikan dan keadilan, lenyap sama sekali? Apakah sirna? Apakah punah tanpa bekas?

Dharma adalah energi, adharma pun sama, energi. Dan, energi tidak pernah punah. Energi hanya berubah wujud saja.

Ketika adharma merajalela, maka setelah mencapai tingkat jenuh, terjadilah gejolak sosial. Berkuasanya adharma menciptakan ketidakseimbangan Dalam keadaan seperti itu, sudah pastilah muncul seorang penggerak revolusi untuk melawan kebatilan dan ketidakadilan. Ini hukum alam. Tidak bisa tidak.

Silakan mempelajari sejarah dunia. Ketika para penguasa zalim bertindak semena-mena dan menindas rakyat, maka terjadilah perubahan kekuasaan.

Mungkin Anda bertanya, lalu bagaimana ketika Dharma berkuasa?

APAKAH DHARMA BISA MENCAPAI TITIK JENUH dan berakibatkan gejolak sosial untuk membawa perubahan? Apakah kekuasaan dharma pun, kemudian, diganti oleh kekuasaan adharma?

Dharma tidak pernah mencapai titik jenuh. Tidak pernah ada keadaan di mana setiap orang bertindak sesuai dengan dharma. Di bawah kekuasaan dharma, adharma tetap eksis. Bedanya, ia tidak merajalela. Ia tidak berkuasa.

Maling, perampok, penjahat, koruptor — semuanya masih tetap ada, walau pemerintahannya sebersih Pemerintahan Singapura. Hanya saj, mereka tidak mayoritas, tidak berkuasa.

Lain halnya dalam suatu negeri di mana mayoritas adalah pelaku adharma, maka seluruh tatanan sosial menjadi kacau. Maling meneriaki maling. Koruptor menjebloskan koruptor lain, dengan menggunakan jasa koruptor yang lain lagi – Edan!

MAYORITAS DHARMA ADALAH SELARAS DENGAN SEMESTA – Maka tidak menimbulkan gejolak.

Mayoritas dharma adalah seperti keadaan badan yang sehat. Inilah keadaan ideal yang semestinya tercapai. Saat itu, semuanya berjalan lancar.

Mayoritas adharma menimbulkan penyakit. Semuanya menjadi kacau. Dan, saat itulah masyarakat membutuhkan seorang dokter, seorang Krsna untuk membawa kesembuhan.

MENJELMANYA KRSNA adalah fenomena yang terjadi setiap kali ada kebutuhan untuk itu. Kadang ia berupa Gandhi, kadang Soekarno, kadang Martin Luther King Jr., kadang Mandela, kadang siapa saja. Kadang barangkali sebagai Anda!

KRSNA ADALAH BERITA PERUBAHAN ZAMAN – Di luar itu, masih banyak perwujudan-perwujudan minor yang membawa perubahan-perubahan kecil tapi signifikan. Misalnya, dalam hal memerdekakan negara, dalam hal membangrm masyarakat, dalam hal mengubah tatanan sosial. Sungguh tak terhitung manifestasi Sang Jiwa Agung.

Setiap percikan Jiwa Agung, termasuk Anda dan saya memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Perwujudan-Nya Hyang sama Nyata seperti Krsna. Ya, kita semua memiliki potensi itu.

 

buku bhagavad gita

“Guna melindungi para bijak; membinasakan mereka yang berbuat batil; dan, meneguhkan kembali dharma, kebajikan – Aku datang menjelma dari masa ke masa.” Bhagavad Gita 4:8

 

Mahatma Gandhi memilih untuk mengartikan Perang Bharata-Yuddha sebagai metafor bagi perang atau konflik di dalam diri manusia, di mana kekuatan kebajikan dan kebatilan senantiasa saling berhadapan. Berangkat dari pengertian demikian, maka ‘membinasakan para pelaku kejahatan’ pun diterjemahkannya sebagai ‘pembinasaan sifat-sifat jahat’ dalam diri manusia. Boleh-boleh saja, dan memang ada benarnya juga.

TAPI, KITA TIDAK BISA MELUPAKAN KONTEKS SEJARAH BHARATA-YUDDHA – Perang dahsyat yang betul terjadi. Bukan perang khayalan. Mahabharata adalah sejarah, bukan dongeng. Jika kemudian sejarah itu disajikan dalam berbagai bentuk, antara lain dalam bentuk wayang, maka sah-sah saja.

Banyak film berlatar-belakang sejarah. Banyak juga yang menyajikan sejarah sebagaimana adanya. Wayang orang maupun wayang kulit, teater, drama, dan lain sebagainya adalah bentuk-bentuk kuno, atau, lebih tepatnya cikal bakal Industri Perfilman.

Kembali pada konteks sejarah Mahabharata, maka apa yang dimaksud Krsna mesti diartikan secara harfiah juga.

Sebagaimana telah kita bahas dalam ayat sebelumnya, penjelmaan Jiwa Agung untuk menegakkan kembali dharma, kebajikan, keadilan – memang terjadi dari masa ke masa, dan bisa di mana saja.

Walau, “kadar” penjelmaan bisa beda dari masa ke masa, dari tempat ke tempat – berdasarkan tuntutan masa dan kebutuhannya.

DUNIA TIDAK SELALU MEMBUTUHKAN para Avatara atau Penjelmaan Purna seperti Krsna. Saat itu, peradaban manusia sedangmenghadapi perang nuklir. Maka dibutuhkan Penjelmaan Purna.

Lebih sering, kita membutuhkan Amsa Avatara – Penjelmaan Bagian. Sebagian dari Kekuatan Agung pun sudah cukup untuk mengatasi rezim yang zalim dan menindas rakyatnya, apalagi jika terkait dengan satu negara saja, tidak melibatkan seluruh peradaban.

Maka, jumlah Amsa Avatara tak terhitung. Mereka ada di mana-mana. Bisa di mana-mana, tentunya, lagi-lagi sesuai kebutuhan.

Bahkan, jika Anda seorang aktivis yang sedang berkarya untuk mengubah tatanan sosial yang sudah usang – maka ketahuilah bila Jiwa Agung, “sebagian” dari Kekuatan Jiwa Agung telah mewujud lewat diri Anda. Tentunya, jika Anda seorang Aktivis Pembawa Perubahan Sejati sekaliber Gandhi, Soekarno, Mandela, dan sebagainya. Anda bukan aktivis bayaran yang bekerja karena adanya funding dari pihak-pihak tertentu, dengan slogan  “Membela saipa yang Membayar.”

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s