Meditasi dan Yoga Bukan Pelarian dari Kemalasan Menghadapi Kenyataan Hidup

 

buku yoga sutra patanjali meditasi yoga

Pencerahan adalah hasil Apavarga, keluar dari gerombolan warga edan. Selama kita masih menjadi bagian dari gerombolan edan, dari keluarga yang terkondisi oleh kebiasaan-kebiasaan yang membelenggu, pencerahan hanyalah sebuah khayalan, tidak pernah terjadi.

buku yoga sutra patanjali

Cover buku Yoga Sutra Patanjali

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Drsyam atau yang Terlihat, Dilihat—Objek yang menjadi sasaran penglihatan dan yang melihat—terdiri atas bhuta atau elemen-elemen alami (— tanah, air, api, angin, dan eter sebagai substansi ruang) serta indriya atau indra; dan, ber-sila, bersila, bersifat, atau berpedoman pada tiga sifat, yaitu prakasa, cahaya, sehingga mencerahkan (— sattva); kriya, aktif, dinamis (- rajas); dan sthiti atau statis, tanpa aktivitas (— tamas). Tujuannya adalah membuat diri—Atma atau Jiwa— mengalami berbagai bhoga atau kenikmatan, sekaligus apavarga atau berpaling dari segala kenikmatan tersebut (untuk meraih moksa atau kebebasan mutlak).” Yoga Sutra Patanjali II.18

 

Di antara para pemikir dan filsuf Barat, kiranya hanya Shakespeare—seorang pujangga, penyair, dan penulis drama asal Inggris—yang betul-betul memahami hal ini. Persis seperti yang dikatakannya, dunia benda ini ibarat panggung sandiwara. Hidup ini adalah sebuah sandiwara, drama. Kita semua adalah pemain dalam sandiwara tersebut.

Dalam bahasa Patanjali….

ALAM BENDA DAN INDRA MANUSIA, termasuk fisik kita seutuhnya bersama dengan gugusan pikiran serta perasaan segala – singkatnya, segala sesuatu yang terlihat, yang dapat dilihat, berpedoman pada dan diatur oleh 3 sila, 3 sila:

Pertama, Prakasa atau Cahaya Terang.

Maksudnya adalah “mencerahkan”. Berarti, segala pengalaman yang kita peroleh sebagai hasil interaksi indra kita, badan kita dengan alam benda, dapat atau bisa mencerahkan!

Segala sakit hati, segala penderitaan, segala kejatuhan, kemalangan—pengalaman terburuk apa pun—semua justru dapat mencerahkan kita.

Kemudian, setelah tercerahkan, barulah untuk pertama kali kita tertawa. Itulah Tawa Pertama kita………..

Silakan baca Yoga Sutra Patanjali hal 188 tentang tertawa. Osho mengajak kita mempersembahkan cengengesan kita ke dalam api persembahan dst……sampai hal 190.

 

PRAKASA ATAU SIFAT SATTVA yang mencerahkan membuat kita “beIok”—membuat kita melakukan apavarga.

“Apavarga”—renungkan.

Apakah kata ini mengingatkan Anda pada suatu kata lain? Suatu kata dalam bahasa kita? Coba renungkan dulu, jangan cepat-cepat membaca jawaban saya, penjelasan saya. Putar otak sedikit!

Varga? Does it ring bell to you?

Varga atau warga; keluarga atau kula-varga. Apa berarti “meninggalkan”—keluar dari, membelok. Apavarga adalah sebuah kata revolusioner. Apavarga menuntut kita agar melakukan pemberontakan terhadap keadaan kita saat ini. Apavarga menuntut kita agar meninggalkan kebiasaan-kebiasaan lama dan memulai hidup baru “on our own terms”—di mana own terms berarti terms-nya Atma? atau Jiwa; Atmaka, Jiwani—sesuai dengan kodrat Jiwa, Sila Jiwa, bukan Sila-Dunia dan Masyarakat yang sudah korup, sudah edan. Sila Jiwani, Sila itmaka, Sila Jiwa, Sila Diri-Sejati adalah Sila Kesadaran-Diri, Sila Pencerahan, Sila Hidup Bebas, Sila Kemerdekaan.

Pencerahan adalah hasil Apavarga, keluar dari gerombolan warga edan. Selama kita masih menjadi bagian dari gerombolan edan, dari keluarga yang terkondisi oleh kebiasaan-kebiasaan yang membelenggu, pencerahan hanyalah sebuah khayalan, tidak pernah terjadi.

 

PENCERAHAN ADALAH HASIL APAVARGA—berpaling dari kebendaan, dari keduniawian dengan penuh kesadaran bahwa segala sesuatu di alam benda ini diperuntukkan bagi badan, indra, gugusan pikiran dan perasaan, bukan bagi Jiwa. Sementara itu, jika ingin bahagia, tldaklah mungkin meraih kebahagiaan dari alam benda.

Lagi-lagi sebagaimana telah kita ulangi hampir dalam setiap buku, tidak berarti kita berhenti menggunakan segala peralatan dan fasilitas yang ditawarkan oleh alam benda. Gunakan semua itu, tanpa melupakan tujuan, sebagaimana dikatakan dalam sutra ini, yaitu pencerahan.

Artinya, tidak menjadi budak alam benda, tidak menjadi budak indra. Tidak memberhalakan keterikatan dan kenyamanan badaniah dan indrawi. Semua itu penting untuk memfasilitasi pencerahan diri. Namun semua itu hanyalah tools, sarana—bukan tujuan.

Melanjutkan Sutra ini.

Sila, Pedoman, atau Sifat Kedua alam benda dan kebendaan adalah

 

KRIYA—AKTIVITAS, KEGIATAN, DINAMIKA—termasuk juga gairah, agresivitas, nafsu, dan sebagainya. Inilah yang disebut guna atau sifat rajas.

Sifat kedua dan ketiga adalah sifat-sifat yang dominan secara umum. Berada dalam kedua sifat ini, atau, ketika salah satu antara kedua sifat ini dominan, maka proses apavarga—membelokkan kesadaran—menjadi sedikit lebih susah daripada saat sifat Prakasa atau Sattva sedang dominan.

Kita bisa sedemikian disibukkan dengan segala macam kegiatan, segala macam urusan, segala macam kriya kebendaan sehingga urusan Jiwa yang terpenting terlupakan.

Masih “agak” bisa dipahami jika seseorang belum pernah merasakan dominasi sifat pertama—walau hal itu tidak mungkin juga karena sesungguhnya tidak ada seorang pun yang belum pernah mengalami dominasi sifat pertama, pasti pernah; soal lain kalau terlewatkan begitu saja karena kurangnya kepekaan dan kesadaran—yang amat disayangkan adalah ketika seseorang yang sudah lebih sering berada dalam alam prakasa terseret ke sifat-sifat, alam-alam rendahan.

DENGAN BERLATIH DIRI, DENGAN MELAKONI YOGA SEBAGAI GAYA HIDUP, kita menjadi lebih kreatif, lebih efisien dalam penggunaan waktu, energi dan segala sumber yang kita miliki.

Saat itu jika klta berprofesi sebagal pengusaha, usaha kita makin maju, makin berkembang. Jika berprofesi sebagai politisi, kita adalah politisi negarawan, bukan politisi kutu loncat. Jika berprofesi sebagai karyawan, kita pasti menjadi seorang karyawan kesayangan bos!

Nah, ketika kita menikmati sukses—keberhasilan materi—, jika kita tidak berhati-hati, kita bisa menjadi serakah, sombong, angkuh. Lagi-lagi perkara apavarga terlupakan, dan malah terseret ke bawah karena sifat-sifat yang tidak mulia tersebut.

Intinya, berhati-hatilah!

Apalagi jika sifat ketiga, sifat sthiti atau statis sedang dominan, maka

 

TAMAS ATAU KEGELAPAN MENDOMINASI setiap pikiran, perasaan, ucapan, dan tindakan kita. Sthiti mernbuat kita enggan bergerak maju. Didorong pun tetap ada resistensi.

Banyak orang bersifat Tamas atau Sthiti tertarik dengan meditasi, Yoga dan latihan-latihan spiritual lalnnya karena mereka malas menghadapi kenyataan hidup. Latihan dljadikan pelarian.

Apalagi jika di tempat latihan ada Godfather, seorang Bapak Angkat yang merasa kasihan terhadap diri mereka, dan berperan sebagai Sinterklas. “Masih muda sudah mau meditasi, hebat. Sini, kubayarkan kosmu.” Dari membayarkan kos, kemudian makan, bahkan makan bersama pacar. Demikian Sang Sinterklas Godfather alih-alih membantu mereka yang bersifat tamas, malah mendorong merekajatuh ke dalam jurang ketidaksadaran.

Sementara itu, mereka yang terdorong dan jatuh ke dalam jurang malah menerjemahkan kejatuhan mereka, keberadaan mereka dalam jurang sebagai berkah. “Sekarang aku sudah tercerahkan, tidak ada yang dapat mengganggu kesadaranku.”

Mau diganggu bagaimana?

Siapa yang mau menjatuhkan diri ke dalam jurang untuk untuk menggangu mereka? Tapi hati-hati, waspada, memang tidak ada manusia waras yang bisa mengganggu; seorang waras tak akan menjatuhkan diri untuk mengganggu. Tapi lagi-lagi, jangan lupa, ada juga rekan-rekan sesama pemalas, yang sedang didorong untuk masuk ke dalam jurang.

Di dalam jurang ketidaksadaran pun bisa terbentuk komunitas para pemalas, manusia-manusia bersifat tamas yang lebih suka berada dalam keadaan statis, sthiti.

 

PAHAM, SESUNGGUHNYA DUNIA TEMPAT KITA SEMUA TINGGAL SAAT INI, masyarakat kita ini, kula dan varga kita saat ini semuanya adalah bagian dari Jurang Ketidaksadaran.

Kita semua, tanpa kecuali, adalah manusia-manusia penghuni jurang. Apavarga berarti meninggalkan kula dan varga jurang, meninggalkan masyarakat, keluarga jurang. Berarti, keluar dari jurang ketidaksadaran dan hidup di daratan kesadaran.

Segala kenyamanan, pembangunan, teknologi—apa saja yang terlihat saat ini—adalah bagian dari Alam Jurang Ketidaksadaran. “Berpalinglah, beloklah, keluarlah dari jurang ini,” demikianlah kiranya seruan Patanjali.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s