Sattvika Mempersatukan Rajasika Memecah Belah! Landasan Negara Sattvika Selaras Bhagavad Gita?

buku bhagavad gita jus jeruk

Bila dicari-cari perbedaannya, jelas setiap buah jeruk mempunyai perbedaan dengan yang lain. Tetapi ketika semuanya diperas maka esensinya sama, khasiatnya sama, rasanya sama.

 

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Pengetahuan yang membuat seseorang melihat Sang Jiwa Agung yang Tak Termusnahkan dan Tak Terbagi dalam diri setiap makhluk tanpa kecuali — adalah Pengetahuan Sattvika.” Bhagavad Gita 18:20

Pembagian umat manusia dalam berbagai kelompok profesi dan lain sebagainya adalah bersifat sosial. Batas-batas geografis yang membagi planet bumi adalah buatan manusia, dan bersifat politis. Sah-sah saja untuk kepentingan sosial dan politik. Namun, pembagian semacam itu bukanlah sesuatu yang bersifat Sattvika. Tuhan tidak membagi umat manusia maupun planet bumi yang menjadi satu-satunya tempat hunian kita ini dalam kotak-kotak terpisah seperti itu.

 

TUHAN TIDAK MEMBAGI MAKHLUK-MAKHLUK HIDUP dalam kotak-kotak yang terpisah, “He cicak, kamu tidak boleh tinggal bersama manusia, pergi sana, tinggal di hutan saja.” Tuhan tidak memisahkan Cina, Arab, Bule, Afirika, dan Melayu; “He, kamu sipit, lu di di China saja, nggak boleh nginjakin kakimu di sini. Ini tempat orang Melayu.” Atau, “He, Bombay, nahin-nahin – janganlah kau sekali-kali memasuki wilayah orang Arab.”

Pengetahuan yang memecah-belah adalah pengetahuan yang tidak mulia. Tidak alami. Tidak sesuai dengan Kehendak Ilahi.

Pengetahuan yang mempersatukan adalah Pengetahuan Sattvika, Mulia, sesuai dengan  Alam dan Kehendak Ilahi.

Selanjutnya……

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

“Pengetahuan yang membuat seseorang melihat perpisahan antara satu makhluk dengan yang lain; seolah setiap makhluk berada sendiri-sendiri – adalah Pengetahuan Rajasika.” Bhagavad Gita 18:21

 

Keberagaman, kebhinekaan adalah “kebenaran-luar” — kulit dari Kebenaran Mutlak yang satu adanya. Jika kita menganggap kebenaran luar itu sebagai sesuatu yang mutlak, maka terciptalah perpisahan. Semestinya, keberagaman dan kebhinekaan luaran diterima sebagai ungkapan dari Hyang Tunggal, bukan sebagai faktor pemisah.

 

PERHATIKAN JUS BUAH JERUK, atau buah apa saja….. Ketika belum diperas, belum menjadi jus — kulit setiap buah jeruk tampak beda. Ada yang tampak dekil, ada yang tampak segar. Jika kita memilih 3 buah saja untuk dibuatkan jus, rasanya mustahil kita bisa menemukannya yang ber-“penampilan” persis sarna. Ya, 3 buah saja tidak bisa persis sama. Tetapi ketika tiga-tiganya diperas; maka jusnya sama. Esensinya sama. Khasiatnya sama. Rasa jeruk yang kita nikmati adalah sama.

Demikian pula dengan wujud-wujud keberadaan yang tampak beda – bhinneka – namun esensinya adalah satu, sama. Esensinya adalah Tunggal!

 

MEREKA YANG TIDAK DAPAT MELIHAT ESENSI dan hanya memperhatikan perbedaan kulit adalah berpengetahuan Rajas. Jika kita rnelihat masih terjadinya diskriminasi terhadap kelornpok-kelompok minoritas, maka ketahuilah siapa pun yang melakukan diskriminasi itu adalah berpengetahuan rajasika. Dan, mereka yang membiarkan diskriminasi itu berlanjut, adalah sama pula – baru berpengetahuan rajasika.

Misalnya — bangsa ini, republik ini dibangun di atas landasan Pancasila, ya di “atas” landasan Pancasila. Dan landasan Pancasila adalah penjabaran dari semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, di mana kebhinnekaan kulit diakui, tanpa melupakan keekaan atau ketunggalan esensi, zat, daging!

 

JADI, REPUBLIK INI DIBANGUN DI ATAS LANDASAN SATTVIKA – Sayang sekali jika landasan yang sudah betul itu diubah menjadi rajasika, di mana kebhinnekaan diagung-agungkan, sementara keekaan terlupakan.

Ketika hal itu terjadi, maka tidak ada kepastian hukum, atau kepastian apa saja. Semuanya akan mencerminkan landasan diskrirninatif. Diskriminasi bisa karena mayoritas-minoritas, bisa juga karena siapa yang menyuap dan siapa yang tidak; siapa yang punya koneksi, siapa tidak punya; siapa yang lebih menguntungkan dan sebagainya.

 

LANDASAN RAJASIKA “TIDAK BISA TIDAK” MEMECAH BELAH – Kita belajar saja dari pengalaman Pakistan di mana kaum Bengali yang merasa diperlakukan secara diskriminatif akhirnya memisahkan diri dan membangun negara Bangladesh. Atau pengalaman kelompok-kelompok negara lain. Referendum, atau apa saja yang mengakibatkkan perpisahan Timor Leste dari Indonesia pun mencerminkan ketidakpuasan masyarakat yang merasa diperlakukan secara diskriminatif.

Sekarang pun jika kita masih melihat adanya ketidakpuasan kelompok masyarakat tertentu – maka alasannya hanyalah satu — kita sudah melupakan landasan Pancasila yang sattvika; landasan yang menjunjung tinggi kebhinnekaan tanpa melupakan esensi keekaan, ketunggalan.

Keutuhan bangsa dan/atau negara hanyalah dapat dipastikan jika landasannya bersifat sattvika, bukan rajasika. Konsep-konsep rajasika, pengetahuan rajasika hanyalah menyebabkan perpecahan, perpisahan.

 

LANDASAN SUATU NEGARA MESTI JELAS – Landasan seperti Pancasila adalah ideal bagi negara manapun juga. Sebab itu, ketika Bapak Bangsa Indonesia Modern, Bung Karno menawarkan ideologi Pancasila untuk memecahkan berbagai persoalan dunia — beliau tidak berlebihan.

Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec2elearning-banner

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s