Bahagiakan Semua Orang! Tapi Ingat Setiap Orang Menuai Buah Perbuatan Masa Lalunya Sendiri

buku dvipantara jnana sastra navagraha

Ilustrasi Navagraha 9 Planet yang mempengaruhi kita, termasuk Vrhaspati (Yupiter) Guru para Dewa, yang digambarkan bersama gajah. Vrhaspati berfokus pada pendidikan, pengajaran dan pengetahuan. Hari Kamis adalah Hari Guru untuk memuliakan Vrhaspati.

 

Isvara adalah Tuhan yang bersemayam di dalam diri, bahkan di dalam setiap partikel atau subpartikel atom yang terkecil, yang sudah tidak dapat dibagi lagi. Sekaligus Ia pun Meliputi segalanya.

lsvara, sebagaimana dijelaskan oleh Patanjali adalah Mahahidup, Tak Pernah Tidur, Mahadinamis, Hyang senantiasa sedang membisiki kita, sedang berbicara dengan kita dari “kedalaman” diri kita—the deepest recesses of our being—dari sanubari kita sendiri.

Ia tidak hanya memuji, tetapi juga bisa mengoreksi kita. Ia senantiasa memandu kita. Demikianlah ada-Nya Isvara. Sebagai Pemandu Agung, Ia tidak terpengaruh oleh segala kekurangajaran yang kita lakukan lewat pikiran, perasaan, ucapan, dan perbuatan kita. Sebab itu pula—karena tidak terpengaruh oleh dosa-dosa atau kekhilafan-kekhilafan kita—maka dalam keadaan seperti apa pun, Ia tetaplah memandu kita dan mengarahkan setiap langkah kita. Hal lain, jika kita tidak mau mendengar-Nya, tidak mau mengikuti panduan-Nya. Dalam hal itu, ya, kita mesti menanggung akibat dari setiap ucapan serta perbuatan kita. Demikian penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.4 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Silakan ikuti penjelasan Resi Vrhaspati yang bisa mendengar ketika Gusti berbicara kepadanya sebagaimana sloka Vrhaspati Tattva 1-4 di bawah ini:

buku dvipantara jnana sastra

Cover Buku Dvipantara Jnana Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

“Ajaran yang paling mulia ini — Siva Tattva, atau intisari Siva, Hyang Maha Membahagiakan — telah diajarkan kepada Resi Agung Vrhaspati oleh Siva Mahesvara sendiri, Hyang Tunggal, yang bersemayam di dataran tinggi Kailasa, puncak paling menawan dari pegunungan Himalaya.” Vrhaspati Tattva 1

DATARAN TERTINGGI KALIASA TIDAK BERADA DI LUAR. Pegunungan Himalaya yang perkasa berada dalam diri kita. Siva Mahesvara, Gusti Hyang Maha Agung, Hyang Maha Membahagiakan tidak berada di luar diri. Ia berada di dalam diri kita.

RESI VRHASPATI DIBERKAHI dengan ajaran-ajaran luhur ini karena ia berupaya, karena upayanya untuk meningkatkan kesadarannya sehingga ia bisa mendengar ketika Gusti berbicara padanya.

Sloka Pembukaan ini, Ayat Pembukaan ini menantang kita semua untuk mengikuti teladan Vrhaspati dan meningkatkan kesadaran kita dengan cara yang sama — itu jika kita ingin mendengar Gusti berbicara pada kita.

 

Resi Vrhaspati memohon: “O Gusti Hyang Paling Mulia, O Hyang Penguasa Perkasa yang tak berawal (sehingga tak berakhir), demi kebahagiaan semua insan, semua makhluk, semua yang bergerak dan tak bergerak — mohon bermurah hatilah untuk menjelaskan padaku tentang Intisari-Mu, ajaran-Mu yang terpenting.” Vrhaspati Tattva 2

 

PERMOHONAN VRHASPATI SUNGGUH TERPUJI, dan yang lebih terpuji adalah niatnya.

Ia tidak memohon sesuatu yang membahagiakan dirinya sendiri. Tidak. Ia memohon sesuatu yang bisa membahagiakan semua makhluk. Bukan hanya membahagiakan manusia dan makhluk hidup lainnya, tetapi semua, bahkan untuk benda-benda yang “tidak bergerak” – pegunungan, bebatuan, dan tentu saja pepohonan, dan tanaman.

Vrhaspati tidak memiliki motif pribadi. Ini sangat penting. Demikian, Gusti menjawab niatnya…

 

Gusti Hyang Maha Berkah menjawab: “O Mahasattva, Insan Agung — sadhu, sadhu, baik sekali; permohonanmu (demi kebaikan seluruh makhluk) sungguh terpuji. Namun, engkau harus ingat bahwa setiap makhluk terlahir di alam ini dan alam di atas alam ini, berdasarkan buah dari perbuatan mereka.” Vrhaspati 3

 

OLEH KARENA ITU, GUSTI MENYIRATKAN, setulus dan sejujur apa pun niat kita untuk membahagiakan semua makhluk — kita mungkin tidak akan berhasil; karena setiap makhluk menuai buah dari perbuatan mereka sendiri di masa lalu.

Ya, kita bisa berbagi kebahagiaan kita dengan semua. Tetapi janganlah kecewa jika upaya kita tidak selalu membuahkan hasil.

Sesungguhnya inilah pelajaran paling pertama dari Gusti: Silakan berbagi, berbagilah dengan segala cara — dan, berbagilah tanpa harapan apa pun.

 

GUSTI HYANG MAHA AGUNG JUGA MENYIRATKAN bahwa mereka yang tidak menyadari hal ini, yang tidak menyadari realitas ini, kebenaran hidup ini — sungguh terdelusi. Dan, Ia Hyang Maha Agung memberikan sebuah contoh……

 

“(Seperti) sekelompok buta yang bergabung dengan kelompok buta lain, pergi bersama untuk mencari tahu tentang fisik seekor gajah. Tidak mampu melihat gajahnya, masing-masing dari mereka memiliki sebuah gambaran mental yang tidak utuh dan berbeda-beda tentang bagaimana bentuk seekor gajah. Berdasarkan gambaran tersebut (yang jauh dari kebenaran), dengan bodohnya mereka saling bertengkar satu sama lain.” Vrhaspati Tattva 4

 

RUMI, SEORANG MISTIK SUFI TERKENAL, menggunakan kiasan ini untuk menjelaskan Kemanunggalan Tuhan dan kebutaan mereka yang mengklaim mengetahui segala sesuatu tentang Tuhan, padahal apa yang mereka tahu hanyalah pengetahuan yang tidak utuh dan tidak lengkap tentang Tuhan.

Seorang buta menyentuh kepala gajah, “Wah!” serunya, “Sekarang aku tahu, gajah seperti tempayan terbalik.” Yang lain menyentuh telinganya dan berseru, “Bukan, bukan, tentu tidak seperti tempayan terbalik. Aku telah menyentuh gajah, dan aku bisa bersumpah bahwa gajah seperti kipas tangan.”

Demikian, setiap orang yang menyentuh bagian berbeda dari gajah memiliki interpretasinya sendiri tentang gajah. Kebenaran adalah kombinasi, gabungan total dari semua interpretasi mereka. Seekor gajah adalah keutuhan dari semua pengalaman mereka.

 

INI ADALAH PELAJARAN KEDUA yang diajarkan oleh Gusti Hyang Maha Berkah, “O resi, jangan terdelusi. Ketahuilah Kebenaran Hyang Tunggal melampaui segala persepsi parsial yang tidak utuh.

“Suka dan duka; senang dan sedih; panas dan dingin — semua ini adalah realitas parsial. Realitas Total melampaui segala macam dualitas tersebut.”

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2016). Dvipantara Jnana Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner utk di web

oec3Elearning-Banner-2 (1)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s