Hidup Tanpa Takut, Tanpa Cemas, Tanpa Gelisah, Tanpa Khawatir! Mungkinkah Itu?

buku atma bodha deep sleep

Bayangkan kita hidup tanpa ketakutan, tanpa kecemasan, tanpa kegelisahan, tanpa Kekhawatiran. Mungkinkah itu?

Dalam keadaan “tidur pulas”, mind, buddhi, pikiran apa pun sebutannya, musnah, mati! Dalam keadaan tidur pulas, tak ada lagi keinginan. Tak ada keterikatan. Tak ada suka dan tak ada duka. Keadaan tidur pulas meruntuhkan mind, tetapi reruntuhannya masih ada. Bekas-bekasnya, pondasinya masih ada. Dan semua itu merupakan potensi kebangkitan kembali keesokan harinya. Dapatkah kita mempertahankan keadaan ”tidur pulas” dalam hidup sehari-hari?

Pengalaman-pengalanan spiritual para santa, santo, wali, pujangga, yogi membuktikan bahwa manusia bisa hidup “tanpa mind”. Dan, bahkan dengan kualitas hidup yang lebih baik!

Silakan ikuti penjelasan Atma Bodha 23 di bawah ini:

buku atmabodha

Cover Buku Atma Bodha

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Pikiran menyebabkan keterikatan, keinginan, rasa suka-duka, dan lain sebagainya. Saat tidur dan pikiran tak aktif lagi, perasaan-perasaan semacam itu hilang semuanya, karena sesungguhnya semua ltu memang berasal dari pikiran, bukan dari “Aku”. Atma Bodha 23

 

Dalam ayat ini, istilah yang digunakan Shankara, untuk pikiran adalah buddhi, mind yang sudah mengalami proses penjernihan, sudah halus, sudah lembut, sudah tidak kasar, tidak liar. Apa yang hendak ia sampaikan? Bahwasanya, walau sudah tidak liar, pikiran tetaplah pikiran, masih berkeinginan, masih terikat dan masih merasakan suka, duka, dan sebagainya.

Ayat ini “tidak pernah” diselami dengan baik. Ayat ini sesungguhnya merupakan “ayat peringatan bagi mereka yang menganggap diri sudah  sadar. “Berhati-hatilah engkau. Keterikatan, keinginan, dualitas suka-duka, dan lain sebagainya masih bisa menjeratmu.”

Selama kita masih berbadan, masih berpanca-indra dan masih dalam keadaan jaga, that risk always there. Risiko itu selalu ada.

Yang terakhir, “daIam keadaan jaga” ini harus kita pahami dengan betul. Karena, “saat tidur dan pikiran tak aktif lagi, perasaan-perasaan semacam itu hilang semuanya.”

Lewat ayat ini, Shankara memberikan sebuah master key kepada kita, kunci yang dapat membuka setiap “pintu diri”. Kunci yang dapat digunakan setiap orang untuk membuka pintu diri:

“Saat tidur dan pikiran tak aktif lagi, perasaan-perasaan semacam itu hilang semuanya.” Saat tidur, dan tentunya tidak bermimpi berarti dalam keadaan “tidur pulas”, pikiran tak aktif lagi. Bahkan, istilah Sanskerta yang digunakan adalah Tannaashe, yang berarti “mati” atau “musnah”.

Dalam keadaan “tidur pulas”, mind, buddhi, pikiran apa pun sebutannya, musnah, mati! Dalam keadaan tidur pulas, tak ada lagi keinginan. Tak ada keterikatan. Tak ada suka dan tak ada duka.

Keadaan tidur pulas meruntuhkan mind, tetapi reruntuhannya masih ada. Bekas-bekasnya, pondasinya masih ada. Dan semua itu merupakan potensi kebangkitan kembali keesokan harinya.

Dapatkah kita mempertahankan keadaan ”tidur pulas” dalam hidup sehari-hari? Apa yang terjadi dalam keadaan tidur pulas? Gelombang otak bervariasi antara Alpha, Theta, dan Delta. Naik-turunnya tidak lagi seperti dalam keadaan Beta. Beberapa yogi yang pernah saya temui mampu berada dalam keadaan Theta, walau sedang berbicara dengan kita. Ketika saya bertanya, “How can you manage that, Sir?” Mereka hanya tersenyum,” To be honest, kami pun tidak tahu. Bagaimana semua ini terjadi?” Hidup mereka sudah sangat meditatif.

Keadaan Alpha, Theta, atau Delta juga mudah dicapai lewat meditasi. Saat itu, walau dalam keadaan jaga, otak manusia seolah-olah tidak aktif lagi. Tidak “berpikir”. Ya, tidak aktif, tidak berpikir, tetapi tidak kehilangan kesadarannya. Justru, kesadaran muncul saat otak bebas dari beban pikiran.

Saya pernah melihat film dokumenter tentang stigmata, sebuah pengalaman religius dalam Kristiani. Saat seorang wanita dalam film itu memperoleh stigmata, dia masih bicara dengan seseorang, tetapi otaknya menunjukkan no activity, tidak ada aktivitas. Padahal, selain berbicara, dia juga sedang ”menderita”. Luka-luka di badannya pasti “menyakitkan”. Badannya berdarah.

Pengalaman-pengalanan spiritual para santa, santo, wali, pujangga, yogi membuktikan bahwa manusia bisa hidup “tanpa mind”. Dan, bahkan dengan kualitas hidup yang lebih baik!

Penggunaan mind bisa diminimalkan, cukup untuk mengatur anggaran belanja dan sebagainya, untuk hal-hal yang masih membutuhkan perhitungan dan matematika, hingga pada suatu ketika, mind tidak dibutuhkan sama sekali. Bila mind Anda sering-sering mengalami ”kematian”, entah lewat “tidur pulas” arau lewat “meditasi”, lama-lama ia akan  mati “beneran”.

Pikiran menyebabkan keterikatan, keinginan, rasa suka-duka, dan lain sebagainya. Saat tidur dan pikiran tak aktif lagi, perasaan-perasaan semacam itu hilang semuanya, karena sesungguhnya semua itu memang berasal dari pikiran, bukan dari “Aku”.

Panas-dingin, asam-manis—semua berasal dari mind. Kita ingin melihat salju di Eropa. Orang bule mencari matahari di Bali. And yet, salju di Eropa dan matahari di Bali tidak memmpengaruhi suhu badan kita. Tetap saja sekian derajat, terkecuali memang jatuh sakit. Panas-dingin hanyalah sebuah “perasaan” yang dirasakan mind.

Dalam ruang ber-AC ini, ada yang merasa kedinginan. Ada yang biasa-biasa saja. Ada yang bahkan merasa gcrah, “Sudah ber-AC koq masih panas ya“ Cari termometer dan periksalah temperatur badan Anda. Yang merasa kedinginan tidak menunjukkan penurunan suhu, sebagaimana yang merasa gerah tidak menunjukkan peningkatan suhu. Tapi, perasaan dingin atau gerah itu tetap ada. Siapa yang merasakannya? Siapa yang memberi kesan “seolah-olah” Anda kepanasan atau kedinginan?

Sekitar awal tahun 1970-an, Hollywood meluncurkan film pertama tentang reinkarnasi. Saya masih ingat judulnya: Reincarnation of Peter Proud. Saat itu banyak yang mengkritik, “Hollywood sudah kehabisan tema.”

Sekarang, sekian banyak film tentang reinkarnasi, tentang tema-tema yang pernah dianggap cheap imagery—khayalan belaka. Apa sebab ketertarikan mind Barat terhadap reinkarnasi?

Mind Barat sudah jenuh memikirkan surga dan neraka. Tuhan berada “di atas sana” juga semakin tidak masuk akal. Ketertarikan mayoritas orang Barat terhadap reinkarnasi masih sebatas “masuk akal” dan “tidak masuk akal”-nya sebuah konsep.

Shankara mengajak kita untuk melampaui akal, mind, pikiran, buddhi atau apa saja sebutannya. Bahkan, istilah “pelampauan” pun mungkin tidak tepat, karena sesungguhnya “Aku” bukanlah mind. Lalu, apa yang harus “ku”-lampaui? Yang dibutuhkan hanyalah “pengenalan diri”, penemuan jati diri. Aku bukan ini, bukan itu. Aku adalah…. Apa? How do I know? Kamu sendiri yang mengetahuinya.

Setelah menyelami Atma Bodha, bila krisis identitas diri kita masih belum selesai juga, maka solusi lain adalah Tantra. Bila tidak sadar bahwasanya keterikatan, keinginan, dan sebagainya hanyalah produk mind dan sesungguhnya tidak mempengaruhi “Aku”, maka Tantra mengatakan “go into it”. Jalankan keinginanmu, keterikatanmu, hingga kau jenuh.

Misalnya, seorang pcrokok bcrat yang tidak bisa berhenti rokok. Ya sudah, tidak perlu berupaya untuk berhenti merokok lagi, cobalah ditambah secara drastis. Tadinya, hanya satu pak setiap hari. Mulai besok dua pak. Lalu—tiga, empat, lima….. dua puluh… tiga puluh… sampai jenuh, atau “sakit”, sehingga sudah tidak bisa merokok lagi. Tidak boleh. Cara ini tentu mengandung risiko. Risiko maksimal adalah si perokok mati. Kematian seperti itu tidak dianggap sia-sia oleh Tantra. Kalau mati karena kebiasaan merokok, pada kelahiran berikutnya Anda akan membenci rokok. But what a waste of time! Satu masa kehidupan dibuang hanya untuk mempelajari satu mata pelajaran, “berhenti merokok”, Tolol banget, jika kita melakukan hal itu.

Beberapa produser, sutradara, dan penulis cerita di Hollywood rupanya sudah memiliki kontak dengan “Bank Kesadaran”. Ada “informasi-informasi” yang lolos dan tertangkap oleh mereka. Film-film garapan mereka seperti Defending Your Life, Made in Heaven, Green Miles, Beloved, dan sebagainya membuktikan bahwa mereka meditator. Film-film seperti itu adalah hasil meditasi.

Dalam salah satu film di antaranya, mereka memunculkan sosok sescorang scpcrti Dewa Indra. Semacam penguasa bumi kita. Ya, sosok seperti ltu memang ada. Ada yang menyebutnya Dewa, ada yang menyebutya Angel, ada yang menyebutnya…. Ah, apa saja… Dialah pengurus dunia kita saat ini.

Dan, sang pengurus akan memasuki masa pensiun pada tanggal 14 Januari nanti (maksudnya

Januari tahun 2001 yang sudah berlalu—Ed.). Sang Pengurus ini pun masih “menikmati” keinginan-keinginannya yang terpendam selama masa hidupnya di dunia. Setelah dia pensi un, akan terbentuk pemerintahan baru. Wajah baru, ketentuan-ketentuan baru. Ide-ide baru. Semacam reformasi, setelah sekian abad dunia kita dikuasai oleh seorang “……” Hal ini akan menyebabkan terjadinya perubahan dalam pola pikir manusia. Dan, sesungguhnya perubahan itu sudah mulai terasa.

Peralihan kekuasaan di “sana” selalu berjalan mulus. Tidak seperti di “dalam” dunia kita ini. Tidak pula terjadi kudeta dan sebagainya. Semua berjalan lancar sesuai dengan aturan main, dengan hukum alam.

Saya harus bercerita tentang semua ini, sehingga Anda tidak tertarik unruk “menjadi” atau “diangkat” sebagai…….. Untuk apa? Alam itu pun harus dilewati.

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman lama menelepon saya. Katanya, saya dan dirinya pernah berguru pada seseorang. Kemudian, “Guru kita,” kata dia, “saat ini sudah berada di galaksi lain.” Selanjutnya, dia mengaku sudah berhasil mengadakan kontak dengan Sang Guru tersebut. Dan mendapatkan pesan untuk saya, “Sampaikan kepada Anand Krishna, bahwa dia harus bertemu dengan saya lewat meditasi.”

Tak lupa pula dia menjelaskan tentang adanya tingkatan-tingkatan pencerahan. Dan, bahwasanya chakra mahkota alam semesta sedang terbuka, sehingga ada kemungkinan bagi 100 orang untuk mengalami pencerahan. Pasalnya harus berhubungan dengan Guru tersebut dan memperoleh tiket masuk darinya.

Ada yang tertarik? Kalau ada, I will transfer the ticket to you. Tinggal membayar biaya balik nama saja. Gampang kan?

Kasihan, dia begitu percaya akan apa yang dia katakan, karena apa yang dipercayainya akan “terjadi”. Bila dia menganggap dirinya bagian dari sejarah triliunan tahun, maka untuk melampaui ruang dan waktu dia harus membebaskan diri dari pengalaman hidup sekian triliun tahun pula. Padahal membebaskan diri dari pengalaman satu masa kehidupan saja sudah sulit banget.

“Keterikatan” dengan masa lalu, dengan pengalaman-pengalaman dari masa lalu, disebabkan oleh mind yang amat sangat aktif, yang tidak mampu let go. Subconscious atau alam bawah sadar teman kita tadi sudah pasti kuat sekali. Lalu bagaiamana bisa memasuki alam meditasi? Bagaimana memasuki “Kerajaan Allah” yang terbuka pintunya bagi “anak-anak kecil” yang masih lugu, polos, yang tidak berurusan dengan alam bawah sadar, atas sadar, tengah sadar, kiri sadar, dan kanan sadar?

Betapa hebatnya permainan mind. Itu sebabnya saya berteriak terus, “No-mind no-mind no-mind….”

Saya pun tahu, seratus persen no-mind itu mustahil. Selama masih hidup, tidak bisa begitu, tetapi apabila saya meng-“iya”-kan mind, walau dengan catatan “hanya untuk keperluan tertentu, hanya untuk hal-hal kecil dan murahan”, anda akan ikut menggunakannya untuk hal-hal yang sama sekali tidak membutuhkan mind.

Para sufi tidak pernah lepas dari zikr “La ilaha ila Allah”. Ini adalah salah satu cara untuk menafikkan mind, memberi tugas kepada mind untuk menafikan dirinya. Tidak ada sesuatu di luar-Mu, Ya Allah, Ya Rabb. Engkaulah satu-satunya Kebenaran. Tidak ada Kebenaran lain di luar-Mu…..

Yesus bersabda, “I and my Father are One”. Satu Ada-Nya, Satu Ada-Nya…. “Aku” dan Bapa-“Ku” Satu Ada-Nya… Para resi pun melakukan japa yang sama. Mereka pun senantiasa mengulang “So Hum ”— Itulah “Aku”!

Dengan berbagai cara, mereka berupaya untuk menafikan mind, untuk melampaui keterbatasan ciptaan mind. Demikian, mereka mengakses Aku Yang Tak Terbatas. Mereka menemukan “Diri”.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Atma Bodha Menggapai Kebenaran Sejati Kesadaran Murni dan Kebahagiaan Kekal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

 

Link: http://www.booksindonesia.com

Link: http://www.oneearthcollege.com/

 

Banner 4

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s